Rabu, 24 Desember 2014

laporan diagnosis kesulitan belajar

LAPORAN HASIL DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR

Laporan
Disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Praktik Bimbingan dan Konseling Belajar
Dosen Pembimbing : Dra. Ninik Setyowani, M.Pd.
                                                                                      Muslikah, S.Pd M.Pd






Oleh
PutriDeshea M.H                    1301413076



JURUSAN BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Perkembangan peserta didik berbeda – beda. Banyak hal yang menyebabkan perkembangan peserta didik berbeda bisa meliputi genetik meliputi kecerdasan dan bakat , aspek psikologi bisa meliputi motivasi belajar,  lingkungan meliputi lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan pendidikan.
Perkembangan peserta didik yang berbeda membuat seorang guru maupun konselor harus dapat memahami siswanya dengan sebaik – sebaiknya karena  tidak semua siswa sama. Begitupun kesulitan belajar setiap siswa pasti memiliki tingkat kesulitan belajar yang berbeda – beda dari segi penyebab maupun tingkatan. Seorang pendidik harus dapat memahami siswanya agar pendidik dapat memberikan layanan terbaik kepada siswa sesuai potensi yang dimilikinya.
1.2              Rumusan Masalah
1.    Apa penyebab kesulitan belajar siswa ?
2.    Penanganan apa  yang dapat diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar ?
1.3              Tujuan dan Manfaat
1.3.1        Tujuan kegiatan
1.    Kegiatan ini bertujuan untuk menemukan kesulitan belajar yang dialami siswa
2.    Kegiatan ini bertujuan untuk menemukan penyebab kesulitan belajar siswa dan menemukan cara efektif untuk membantu mengatasi kesulitan belajar siswa.
3.    Membantu peserta didik mengembangkan potensi peserta didik
1.3.2        Manfaat
Peneliti berharap laporan ini bermanfaat bagi pendidik, masyarakat, dan peserta didik ,dengan adanya kegiatan diagnosis kesulitan belajar diharapkan memberi manfaat bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

1.4              Waktu dan Tempat
Description: smp 13.jpgImplementasi penerapan diagnosis kesuslitan belajar dilaksanakan kurang lebih dua bulan dari bulan Oktober sampai Desember semenjak mendapat ijin dari pihak sekolah.
A.    PROFIL SEKOLAH SMP N 13 SEMARANG
NSS : 201036304013
NPSN : 20328824
Jl. Lamongan Raya
Sampangan - Semarang
Telpon :
TU (024) 831 6241
KS (024) 8508713
Fax. (024) 831 6241
www.smpn13smg.sch.id
E-mail :
sekretariat@smpn13smg.sch.id

smpn13smg@gmail.com

 
Twitter : www.twitter.com/SMAN13Semarang
B.     VISI SEKOLAH
Unggul dalam prestasi,berbudi pekerti luhur berdasarkan iman dan taqwa
Indikator:
Unggul
 dalam:
1. Pencapaian
 standar kompetensi lulusan
2. Pengembangan
 standar isi / kurikulum
3. Pengembangan
 standar proses pembelajaran
4. Pengembangan
 standar pendidik dan tenaga kependidikan
5. Pengembangan
 standar sarana dan prasarana
6. Pengembangan
 standar pengelolaan
7. Pengembangan
 standar pembiayaan
8. Pengembangan
 standar penilaian
            C. MISI SEKOLAH
1.   Meningkatkan standar kualitas lulusan agar menghasilkan output yang siap berkompetensi
2.   Meningkatkan dan mengembangkan isi / kurikulum
3.  Meningkatkan layanan pembelajaran dan bimbingan secara kreatif dan inovatif
4.   Meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan
5. Mengembangkan tersedianya sarana pendidikan dan media pembelajaran yang efektif danefisien
6. Meningkatkan pengelolaan SDM yang mampu memberikan layanan pendidikan secaraprofesional  dan bertanggungjawab
7.   Meningkatkan penggalangan sumber dana pembiayaan pendidikan
8.   Mengembangkan sistem penilaian yang standar
D.    BIMBINGAN DAN KONSELING
guru BK SMP N 13 Semarang berjumlah sekitar
Peran guru bimbingan dan konseling
1.         Penyusunan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling
2.         Koordinasi dengan wali kelas dalam rangka mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tentang kesulitan belajar
3.         Memberikan layanan dan bimbingan kepada siswa agar lebih berprestasi dalam Kegiatan belajar
4.         Memberikan saran dan pertimbangan kepada siswa dalam memperoleh gambaran tentang lanjutan pendidikan dan lapangan pekerjaan yang sesuai
5.         Mengadakan penilaian pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan
6.         Menyusun Satatistik hasil penilaian B.K
7.         Melaksanakan kegiatan analisis hasil evaluasi belajar
8.         Menyusun dan melaksanakan program tindak lanjut Bimbingan dan Konseling
9.         Menyusun laporan pelaksanaan Bimbingan dan Konseling

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1            Kesulitan Belajar
2.1.1 Definisi kesulitan belajar
Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah bahasa Inggris learning disability. Terjrmahan tersebut kurang tepat karena learning artinya belajar dan disability artinya ketidakmampuan,sehingga terjemahan yang tepat adalah ketidakmampuan belajar. Kesulitan belajar merupakan konsep multidisipliner yang digunakan di lapangan ilmu pendidikan, psikologi,maupun ilmu kedokteran.
Kesulitan belajar pertama kali dikemukakakan oleh The United States Office Of Education (USOE) pada tahun 1977 yang dikenal dengan Public Law  (PL) 94-142, yang hampir identik dengan definisi yang dikemukakan oleh  The Nation Advisory Comittee on Handicapped Children  pada tahun 1967. Definisi tersebut dikutif oleh  Hallahan, Kauffman, dan Lyod (dalam Abdurahman.2003 : 6-7)
kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologi dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. gangguan tersebut mungkin menampakan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, mengeja , atau berhitung. batasan tersebut mencakup kondisi kondisi seperti gangguan perseptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. batasan tersebut tidak mencakup anak- anak yang memiliki problema belajar yang penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihaatan, pendengaran, atau motorik, hambatan karena tunagrahita , karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi.
Di Indonesia  belum ada definisi khusus tentang kesulitan belajar. Para guru umumnya memandang semua siswa yang memperoleh prestasi  belajar rendah disebut siswa berkesulitan belajar.
2.1.2 Klasifikasi Kesulitan Belajar
Secara garis besar besar kesulitan belajar diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, (1) kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning disabilities) dan (2) kesulitan belajar akademik ( academic learning disabilities). Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan mencakup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial. Kesulitan belajar akademik menunjuk pada adanya kegagalan- kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapsitas yang diharapkan. Kegagalan tersebut mencakup penuasaan ketrampilan dalam membaca, menulis, dan matematika.
Mulyadi (2010:6-7) mengemukakan bahwa kesulitan belajar mempunyai pengertian yang luas dan kedalamanya termasuk pengertian – pengertian seperti
1.      Learning disorder (ketergantungan belajar)
Adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan. Pada dasarnya  orang yang mengalami gangguan bela-jar, prestasi belajarnya tidak terganggu akan tetapi proses belajarnya akan terganggu atau terhambat oleh adanya respon – resppon yang bertentangan. De-ngan demikian hasil belajar yang dicapai akan lebih rendah dari potensi yang dimiliki( Rosyidan,1998).
2.      Learning disabilities (ketidakmampuan belajar)
Adalah ketidakmampuan seseorag murid yang mengacu kepada gejala dimana murid  tidak mampu belajar (menghindari belajar) sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
3.      Learning disfunction (ketidakfungsian belajar)
Menunjukan gejala di mana proses belajar tidak berfungsi dengan baik meskipun pada dasarnyatidak ada tanda – tanda subnormalitas mental, gangguan alat indra atau gangguan psikologis lainnya.
4.      Under achiever ( pencapaian rendah)
mengacu pada murid – murid yang memiliki tingkat potensi intelektual di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.
5.      Slow learner ( lambat belajar)
adalah murid yag lambat dalam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu dibandingkan dengan murid – murid yang lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
2.1.3 Penyebab Kesulitan Belajar
Prestasi belajar menurut Mulyono dipengaruhi oleh dua faktor yaitu internal dan eksternal. Penyebab utama kesulitan belajar adalah faktor internal , yaitu  antara lain ke-mungkinan adanya disfungsi neurologis, sedangkan penyebab utama problema belajar adalah faktor eksternal , yaitu antara lain berupa strategi pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak  membangkitkan motivasi belajar anak, dan pemberian ulangan penguatan yang tidak tepat.
Koestor (dalam Mulyadi. 2010 : 30)  dalam mengidentifikasikan kemung-kinan sebab kesulitan belajar dapat dikelompokan menjadi empat kategori yaitu :
1.        kondisi- kondisi fisiologis yang permanen
kemungkinan sebab kesulitan belajar karena kondisi – kondisi fisiologis yang permanen meliputi:
a.    intelegensi yang terbatas
b.    hambatan persepsi
c.    hambatan penglihatan dan pendengaran
2.        kondisi- kondisi fisiologis yang temporer
a.  masalah makanan
b. kecanduan
c.  kecapaian / kelelahan
3.        pengaruh – pengaruh lingkungan sosial yang permanen
a.    harapan orang tua terlalu tinggi, tidak sesuai kemampuan anak
b.    konflik keluarga
4.        pengaruh – pengaruh lingkungan sosial yang temporer
a.    ada bagian bagian dalam urutan belajar yang belum dipahami
b.    kurang adanya motivasi
2.1.4 Ciri – Ciri Kesulitan Belajar
            Dalam proses belajar, guru sering menghadapi masalah adanya murid yang tidak dapat mengikuti pelajaran dengan lancar. Dengan kata lain guru sering menghadapi siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar. Biasanya masalah yang dihadapi para guru di sekolah adalah gejala atau manifestasi adanya kesulitan belajar yang ditampakkan dalam bentuk-bentuk tingkah laku tertentu. Beberapa ciri tingkah laku yang merupakan pernyataan manifestasi gejala kesulitan belajar menurut Mohammad Surya (1992: 86) adalah sebagai berikut:
1.    Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau dibawah potensi yang dimilikinya.
2.    Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada murid yang selalu berusaha untuk belajar dengan giat tapi nilai yang dicapai selalu rendah.
3.    Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar. Ia selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan waktu yang tersedia. Misalnya rata-rata anak dapat menyelesaikan suatu tugas dalam  waktu 40 menit, maka anak yang menghadapi kesulitan belajar akan memerlukan waktu yang lebih lama.
4.    Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, menentang dan sebagainya.
5.    Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan, seperti datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, mengasingkan diri, tersisihkan, tidak mau bekerja sama, dan sebagainya.
6.    Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu, misalnya dalam menghadapi nilai rendh tidak menunjukkan adanya perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Pendapat di atas sesuai dengan yang diungkapkan Kirk (Effendi Kusno, 1987: 57) bahwa ada empat perilaku yang berkaitan dengan kesulitan belajar antara lain:
1.    Siswa lamban disemua bidang yang diikuti, dimana siswa mengalami ketertinggalan dalam mata pelajaran yang diikutinya, serta tertinggal oleh kawan-kawannya. Ia kesulitan menerima kesan yang disampaikan oleh gurunya dan selalu terlambat dalam menyelesaikn tugas-tugas yang mesti dikerjakan.
2.    Ketidakmampuan dalam bidang-bidang khusus, ditandai oleh ketidakmampuan siswa dalam bidang tertentu, misalnya siswa selalu sulit untuk memahami isi bacaan, sulit untuk menguraikan bagan-bagan atau yang lainnya.
3.    Kesulitan akademik dalam kaitannya dengan kekacauan tingkah laku, ditandai dengan tingkah laku siswa yang sulit diatur, senang membuat gaduh, malas mencatat, ingin selalu berpindah-pindah tempat duduk ketika pelajaran berlangsung dan gejala lain yang mengarah kepada behaviorial disorder.
4.    Masalah yang berhubungan dengan motivasi, ditandai dengan kurang bergairah untuk mengikuti pelajaran, tidak ada minat berdiskusi, dan lalai mengerjakan tugas.
Dari hasil studi tentang hubungan antara ciri – ciri kepribadian dengan presta-si belajar menyatakan bahwa murid yang tergolong pencapaian rendah menunju-kan ciri – ciri sebagai berikut :
1.    lebih banyak megalami kecemasan dan kurang mampu mengontrol diri terhadap kecemasan.
2.    kurang mampu menyesuikan diri dan kurang kepercayaan diri.
3.    kurang mampu mengikuti otoritas.
4.    kurang mampu dalam penerimaan sosial.
5.    lebih banyak mengalami konflik ketergantungan.
6.    kegiatanya kurang berorientasi pada akademik dan sosial. ( Rosyidan,1998)
2.2 Diagnosis Kesulitan Belajar
2.2.1 Definisi
            Menurut Mulyadi (2010:1) diagnosis diartikan sebagai usaha - usaha untuk  mendeteksi, meneliti sebab – sebab , jenis – jenis, sifat – sifat dari kesulitan bela-jar seorang murid. Adapun landasan pemikiran perlunya diagnosis dan pemecahan kesulitan belajar bagi murid- murid sebagai berikut :
1.    Setiap murid hendaknya mendapat kesempatan dan pelayanan untuk berkem-bang secara optimal sesuai kemampuan, kecerdasan, bakat, dan minatnya.
2.    Adanya perbedaan – perbedaan kemampuan, kecerdasan, bakat , minat, dan latar belakang fisik  serta sosial masing – masing murid .
3.    Sistem pengajaran di sekolah seharusnya memberikan kesempatan kepada murid untuk maju sesuai kemapuan sendiri.
4.    Untuk menghadapi hal tersebut di atas para guru, konselor perlu dilengkapi dengan pengetahuan , sikap,dan ketrampilan dalam hal pengidentifikasian kesulitan belajar, sebab – sebab, dan pelayanan remedialnya.
2.2.2 Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar
1.    Pengumpulan data.
Dalam melakukan pengumpulan data harus dilakukan menggunakan beberapa metode yaitu observasi, kunjungab rumah,case study. Case history,daftar pribadi, meneliti pekerjaan anak, tugas kelompok,dan melaksanakan tes. Semua metode tersebut tidak semua harus dilaksanakan tergantung dengan masalahnya.
2.    Pengolahan data
Langkah yang dapat dilakukan untuk mengolah data adalah dengan identifikasi kasus, membandingkan antar-kasus, membandingkan dengan hasil tes, dan menarik kesimpulan.
3.    Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosis dapat berupa keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak, keputusan mengenai faktor yang menyebabkan kesulitan belajar, keputusan mengenai faktor utama penyebab kesulitan belajar.
4.    Prognosis
Prognosis adalah ramalan atau aktivitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar anak didik yang berupa bahan yang diperlukan, metode, alat bantu dll.
5.    Treatment (perlakuan)
Perlakuan adalah pemberian bantuan kepada anak yang ersangkutan sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Treatment dapat berupa bimbingan belajar kelompok dan individual, remedial, bimbingan pribadi mengatasi masalah psikologis dan bimbingan orang tua.
6.    Evaluasi
Evaluasi adalah untuk mengetahui apakah treatment yang diberikan dapat berhasil dengan baik. Untuk mengecek dapat dilakukan dengan re-ceking data, re-diagnosis, re-prognosis, re-teratment, dan re-evaluasi.




















BAB III
METODE
3.1            Metode yang digunakan
Metode yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah dengan  melakukan analisis legger atau siswa, wawancara terhadap guru BK, teman, wali kelas, guru mapel, orang tua siswa dan wawancara siswa yang bersangkutan serta observasi  di kelas.
3.1.1 Wawancara
                        Wawancara atau disebut juga dengan interviu adalah teknik pengumpulan data dengan cara tanya-jawab lisan yang dilakukan secara sistematis guna mencapai tujuan penelitian. Wawancara biasanya dilakukan oleh dua orang atau lebih, satu pihak berperan sebagai interviewer dan pihak lain berperan sebagai interviewee atau yang diwawancarai. Dalam wawancara dibagi menjadi dua jenis yaitu : wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan apabila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Jadi dalam wawancara terstruktur peneliti telah menyiapkan instrument penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan. Sedangkan wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang dilakukan secara bebas dimana peneliti belum mengetahui hal yang akan diteliti sehingga peneliti hanya membawa catatan kecil mengenai garis besar hal yang akan diteliti.
3.1.2 Legger
Legger adalah catatan atau data yang berisi nilai siswa atau peserta didik. Legger  yang saya analisis adalah nilai UTS siswa kelas IX A angkatan 2014/2015 di SMPN 13  Semarang. Observasi yang saya lakukan digunakan un-tuk mengetahui keaktifan siswa saat KBM berlangsung.
PEDOMAN OBSERVASI

Variabel Penelitian                  : Tingkat Keaktifan Siswa dalam Proses KBM
Tujuan Observasi                    : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam proses KBM
Komponen                              : Aktivitas, Kebiasaan atau TingkahLaku
Observer                                  :
Observee                                 : Siswa SMP / SMA
Observasike                             : 1/2/3/4 (lingkari yang sesuai)
Pelaksanaan observasi             :
1.      Hari/tanggal                :
2.      Jam                              :
3.      Nama sekolah              :
4.      Alamat sekolah           :

NO
VARIABEL
INDIKATOR
DESKRIPTOR
NO ITEM
1.       

Visual Activities
a.       Memperhatikan di kelas
b.      Membacabuku

2.       

Oral Activities
a.       Bertanya di dalamkelas
b.      Memberi saran
c.       Menyampaikanpendapat
d.      Berdiskusi

3.       

Listening Activities
Mendengarkan guru

4.       

Writing Activities
Mencatat pelajaran

5.       

Drawing Activities
a.       Menggambar
b.      Membuat grafik / diagram

6.       

Motor Activities
a.       Melakukakn percobaan / praktikum
b.      Bermain

7.       

Mental Activities
a.       Menanggapi dalam diskusi
b.      Memecahkan soal (membuat tugas)

8.       

Emotional Activities
a.       Semangat dalam pembelajaran
b.      Merasakan bosan dalam pembelajaran


PEDOMAN WAWANCARA GURU BK

A.    Tujuan wawancara                         : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam proses KBM
B.     Interviewer                                   :
C.     Interviwee                                    :
D.    Pelaksanaan wawancara               :
1.      Hari/tanggal                                         :
2.      Jam                                                                  :
E.     Berikut ini adalah daftar pertanyaan                   :
1.         Apakah A sering datang keruang BK untuk mengkonsultasikan hasil belajarnya?
2.      Bagaimana hubungan A dengan guru – guru ?
3.      Apakah si A sering bermasalah di sekolah
4.      Bagaimana hubungan siswa tersebut dengan teman – temannya ?
5.      Bagaimana prestasi siswa tersebut ?
6.      Bagaimana perilaku siswa tersebut dalam lingkungan sekolah ?
7.      Dalam mengikuti pembelajaran, adakah masalah yang dihadapi siswa tersebut ?
8.      Apakah Guru BK member layanan tertentu untuk membantu mengatasi kesulitan belajar siswa ?
9.      Apakah orang tua sering dilibatkan dalam hal ini ?
10.  Untuk mengatasi hal ini, apakah Guru BK berkolaborasi dengan pihak lain untuk menentukan solusi yang tepat ?
PEDOMAN WAWANCARA WALI KELAS

1.      Bagaimana perkembangan belajar siswa A dan siswa B?
2.      Bagaimana keaktifan siswa A dan siswa B dalam mengikuti pelajaran?
3.      Bagaimana reaksi Anda ketika menerima hasil nilai si A dan si B dari guru mata pe-lajaran?
4.      Apakah anda sering mendiskusikan hasil nilai siswa A kepada guru mapel dan guru BK ?
5.      Bagaimana reaksi orang tua siswa A dan siswa B ketika menerima hasil nilai  rapor si A dansi B?
6.      Apakah Anda pernah memberi saran kepada orang tua siswa A dan siswa B terkait hasil raport mereka?
7.      Apakah Anda pernah mengkomunikasikan hasil nilai siswa kepada orang tua siswa A dan siswa B terkait hasil raport mereka?
8.      Bagaimana lingkungan pergaulan siswa A dan siswa B ketika di sekolah?
9.      Bagaimana reaksi siswa A dan siswa B ketika anda memberikan evaluasi di kelas? (evaluasi mengenai kegiatan kelas atau hasil nilai siswa)
10.  Apakah siswa A dan B pernah bertanya kepada Anda mengenai hasil nilai akhir yang mereka dapatkan?
11.  Bagaimana perilakusi A dansi B saat pembelaran di kelas menurut Anda ?
12.  Apakah orang tua si A dan si B sering berkominikasi dengan Anda menanyakan perkembangan anaknya di sekolah ?
13.  Menurut Anda apa yang menyebabkan siswa A dan siswa B mengalami penurunan prestasi nilai akademik?
PEDOMAN WAWANCARA UNTUK TEMAN
1.      Bagaimana perilaku teman Anda ketika di kelas ?
2.      Bagaimana perilaku teman Anda saat kegiatan diskusi atau Tanya jawab ?
3.      Apakah teman Anda mengikuti kegiatan ekstrakurikuler atau organisasi ?
4.      Apakah teman Anda rajin mengerjakan tugas yang diberikan oleh Guru ?
5.      Apakah teman Anda bersemangat mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas ?
6.      Apakah teman Anda rajin mencatat  pelajaran ?
7.      Menurut anda mata pelajaran apa yang paling teman anda sukai ? mengapa
8.      Menurut anda mata pelajaran apa yang paling tidak disukai teman anda ? mengapa
9.      Apakah teman Anda memperhatikan saat proses KBM ?
10.  Apakah teman Anda senang apabila mengikuti pelajaran yang berhubungan dengan menggambar ?
11.  Apakah teman Anda suka mata pelajaran praktek seperti olahraga, atau yang lainnya ?
12.  Apakah teman Anda aktif bertanya dalam kelas ?
PEDOMAN WAWANCARA SISWA

A.    Tujuan wawancara  : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam proses KBM
B.     Interviewer                                    :
C.     Interviwee                         :
D.    Pelaksanaan wawancara                :
3.      Hari/tanggal                                                     :
4.      Jam                                                                  :

E.     Berikut ini adalah daftar pertanyaan                    :
1.      Apa yang sering kamu lakukan ketika proses pembelajaran di kelas ?
2.      Mata pelajaran apa yang kamu sukai ?mengapa ?
3.      Bagaimana hasil nilai mata pelajaran yang kamu sukai ?
4.      Mata pelajaran apa yang tidak kamu sukai ?Mengapa ?
5.      Bagaimana hasil nilai mata pelajaran yang tidak kamu sukai ?
6.      Apa yang kamu lakukan ketika mengikuti mata pelajaran yang tidak kamu sukai ?
7.      Apakah kamu merasa nyaman ketika proses pembelajaran di kelas?Mengapa ?
8.      Bagaimana pendapat kamu tentang teman – teman sekelasmu ?
9.      Adakah kendala atau masalah ketika kamu berada di kelas ?
10.  Apakah kegiatan sekolah (ekstrakurikuler, organisasi) mengganggu proses belajar kamu ?Mengapa ?
11.  Apa yang kamu lakukan saat diskusi dalam kelas ?
12.  Apakah catatan pelajaran kamu lengka ?
13.  Apakah kamu sering mengerjakan tugas yang diberikan guru ?
14.  Apakah alat tulis yang kamu bawa lengkap ?
PEDOMAN WAWANCARA ORANG TUA SISWA

A.    Tujuanwawancara                          : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam proses KBM
B.     Interviewer                                   :
C.     Interviwee                                    :
D.    Pelaksanaan wawancara               :
5.      Hari/tanggal                                                     :
6.      Jam                                                                  :
7.      Kondisi subyek saat interview dilakukan       :
E.     Berikut ini adalah daftar pertanyaan                   :
1.      Bagaimana perkembangan belajar siswa bersangkutan?
2.      Jam berapa biasanya siswa yang bersangkutan pulang ke rumah ?
3.      Pada jam berapaa siswa yang bersangkutan belajar ?
4.      Pernahkah keluarga membicarakan mengenai keadaan di sekolah ?
5.      Seberapa sering keluarga menjalin komunikasi ?
6.      Media atau fasilitas apa yang diberikan untuk hiburan ataupun komunikasi ?
7.      Bagaimana kondisi lingkungan di sekitar rumah ?
8.      Bagaimana menurut Anda mengenai tingkah laku siswa bersangkutan di rumah ?
9.      Upaya apa yang keluarga lakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa bersangkutan?
10.  Apa yang sering anak andalakukan sepulang sekolah ?
11.  Bagaimana pergaulan anak anda dirumah ?
12.  Apakah anak anda aktif dalam kegiatan ,komunitas, atau organisasi teretntu sepulang sekolah ?
PEDOMAN WAWANCARA GURU MAPEL 

F.      Tujuan wawancara                         : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam proses KBM
G.    Interviewer                                   :
H.    Interviwee                                    :
I.       Pelaksanaan wawancara               :
8.      Hari/tanggal                                                     :
9.      Jam                                                                  :
10.  Kondisi subyek saat interview dilakukan       :

J.       Berikut ini adalah daftar pertanyaan                   :
1.      Bagaiamana perilaku siswa dalam KBM?
2.      Bagaimana kesan anda mengenai siswa tersebut ?
3.      Apakah siswa dalam KBM juga aktif dalam membaca buku ?
4.      Apakah siswa dalam kegiatan KBM aktif bertanya ?
5.      Apakah siswa dalam kegiatan KBM aktif dalam memberikan sanggahan, saran atau kritikan ?
6.      Dalam kegiatan diskusi di kelas, apakah siswa ikut aktif bertanya maupun menanggapi ?
7.      Apakah dalam KBM siswa juga mencatat tentang materi yang disampaikan ?
8.      Apakah siswa aktif dalam membuat dan melaporkan tugas yang diberikan ?
9.      Bagaimana menurut Anda mengenai keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar ?




























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN KASUS KESULITAN BELAJAR
4.1   Identifikasi Masalah
4.1.1 Identitas Siswa
Siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar adalah saudara ACM dan MS.
            Saudara ACM diketahui bahwa ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai staf TU di UNISBANK ayahnya bekerja dari pukul 07.00 sampai pukul 17.00, sedangkan ibunya bekerja menjaga ruko sampai larut malam. Seplang sekolah ia membantu ibunya menjaga ruko, sepertinya saudara ACM memiliki masalah insomnia hal ini diketahui dari pernyataan yang mengungkapkan bahwa ia tidur minimal pukul 22.00 atau 23.00.
            Setelah melakukan wawancara dengan saudara MS diketahui adalah anak ke tujuh dari tujuh bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh bahwa ia dan ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga yang sibuk mengurus cucu  dari anak -anaknya. Sepulang sekolah ia menghabiskan waktu untuk bermain dan membantu ibunya merawat keponakanya (anak dari kakaknya). Dari penuturan guru BK diketahui bahwa ia termasuk siswa yang kurang mampu daris segi ekonomi. Diketahui pula bahwa saudara MS juga mengalami kesulitan tidur seperti halnya saudara ACM. Saudara MS tidur sekitar pukul 11 malam dan bangun pukul 04.30 pagi. Saudara MS ke sekolah naik sepeda motor , waktu yang ditempuh dari rumah ke sekolah dengan sepeda motor sekitar 30 menit. Ia menitipkan sepedanya ke rumah kakaknya yang kurang lebih berjarak 1 km dari sekolah. Saudara MS juga pernah menjuarai perlombaan olah raga bela diri karate tingkat kabupaten Semarang.
4.1.2 Alasan Pemilihan Konseli
untuk menetukan siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar, saya meminta saran dari guru BK namun dikarenakan guru BK  belum menganalisis legger siswa dan kurang mengenal keadaan kelas IX A maka saya meminta saran dari wali kelas IX A yaitu ibu Sri Suharni. beliau menyarankan saya mendalami siswa yang berinisial ACM dan MS,dalam hal ini beliau memberikan saran atas dasar pertimbangan nilai UTS serta pengamatan beliau sehari – hari saat mengajar serta laporan dari beberapa guru.
4.2  Analisis
4.2.1Analisis hasil wawancara guru mapel
       Untuk kesulitan belajar yang dialami siswa ACM dan MS keduanya mengalami kesulitan belajar di mata pelajaran bahasa inggris. Mata pelajaran bahasa inggris diampu oleh ibu Emi Amalia.S,Pd. Saat melakukan wawancara ibu Emi mengatakan bahwa dia baru saja mengenal saudara ACM dan MS dalam artian hafal nama mereka karena mereka termasuk siswa yang tidak menonjol di dalam kelas.
       Dari hasil wawancara diketahui saudara ACM dan MS merupakan siswa yang minder , cuek dan tidak aktif saat di kelas baik untuk bergaul dengan teman-teman dan juga saat mengikuti kegiatan belajar mengajar khususnya di mata pelajaran bahasa inggris. Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung mereka tidak aktif dalam kegiatan diskusi, tidak pernah aktif bertanya untuk menanyakan materi  pelajaran yang kurang paham, mereka juga tidak pernah memberikan sanggahan atau kritikan terhadap kegiatan belajar mengajar yang berlasung. Mereka juga jarang mencatat materi yang disampaikan. Mereka juga sering tidak mengumpulkan pekerjaan rumah yang diberikan, tetapi untuk tugas di kelas yang langsung dikmpulkan mereka membuatnya walau terkadang itu merupakan hasil dari mencontek teman sekelasnya.
       Menurut ibu Emi saudara ACM  termasuk siswa yang pendiam dan tidak aktif di kelas. Saudara MS menurut ibu Emi adalah siswa yang pendiam, tidak aktif di kelas, cuek , tidak memperhatikan saat dikelas justru dikelas sering menggambar saat pelajaran, sering mela-mun, sering tidak masuk tanpa keterangan, sering tidur di kelas.
4.1.2 Wawancara wali kelas
       Saat saya bertanya tentang kesulitan belajar kelas IX A saya menanyakannya kepada wali kelas karena untuk guru BK sendiri kurang mengenal keadaan kelas IXA. Dari hasil wawancara dengan wali kelas yang bernama ibu Sri Suharni. S,Pd yang menjadi guru bahasa jawa kelas IX A, beliau menyarankan anak yang bernama ACM dan MS. Dari hasil wawancara dengan ibu Sri Suharni diketahui perkembangan belajar ACM  dan MS tergolong lambat atau kurang hal ini terlihat dari nilai UTS siswa. Menurut ibu Sri Suharni mereka tidak memperhatikan di kelas dan kurang semangat untuk mengikuti kegiatan KBM khususnya untuk mata pelajarannya yaitu bahasa jawa.
       Saudara ACM dan MS termasuk siswa yang tidak aktif di kelas mereka termasuk siswa yang pendiam  di kelas. Menurut ibu Sri perilaku saudara MS di kelas saat mengkuti mata pelajaranya seringnya adalah tidak membawa buku baik buku catatan, buku tulis ataupun buku paket, tidak mau memperhatikan, sering tidak masuk tanpa alasan, seing telat, kurang semangat dan sering tidur di kelas. Untuk saudara ACM tingkah lakunya di kelas seringnya tidur , terlihat tidak semangat mengikuti mata pelajaran.
       Untuk pergaulan saudara ACM dan MS ibu Sri berpendapat bahwa saudara ACM termasuk siswa pendiam yang kurang bersosialisasi dengan teman sekelasnya tetapi dia masih dapat bergaul dengan baik dengan teman sekelasnya. Tetapi untuk saudara MS termasuk siswa yang tertutup ia tidak membuka diri dengan teman sekelasnya.
            Ibu sri Suharni termasuk wali kelas yang perhatian terhadap perkembangan belajar siswanya. Sebagai wali kelas ibu Sri sering mengkomunikasikan nilai siswa khususnya ACM dan MS kepada guru BK. Ibu Sri Suharni juga sering mengadakan  komunikasi dengan orang tua siswa dan siswa yang bersangkutan mengenai nilai-.nilai siswa. Ibu Sri juga sesekali mengadakan kunjungan rumah terhadap siswanya yang tidak masuk tanpa keterangan. Menurut hasil wawancara ibu Sri kepada orang tua diketahui bahwa saudara MS bergaul dengan teman yang kurang baik di luar sekolah. Orang tua MS menyatakan bahwa mereka sadar anak mereka kurang pintar, dan kurang memperhatikan di kelas.
            Menurutnya penyebab kurangnya prestasi akademik saudara ACM dan MS adalah kurangya semangat belajar. Menurutnya perkembangan saudara MS sudah lebih baik dari kelas VIII karena intensitas bolos atau tidak masuk tanpa keterangan telah berkurang. Prestasi akademik saudara ACM juga mengalami peningkatan walau tidk signifikan.
4.1.3 Hasil analisis wawancara guru BK
            Dari hasil wawancara diketahui bahwa guru BK kelas IX A yaitu ibu Ninik Budi Setyani kurang mengenal pribadi masing – masing siswa. Dari hasil wawancara Ibu Ninik tidak memberikan banyak informasi karena kelihatanya ia tidak mengenal baik saudara ACM dan MS. Tetapi beliau mengatakan bahwa saudara MS merupakan siswa yang kurang mampu dar segi finansial.
            Dari hasil wawancara diketahui saudara MS dan ACM termasuk siswa yang tidak bermasalah di sekolah, Saudara MS dan ACM  bukan termasuk siswa yang memiliki hubungan baik dengan guru – guru, menurutnya prestasi akademik ACM dan MS kurang tetapi untuk saudara MS pernah mendapatkan juara di bidang olahraga bela diri karate. Guru BK juga belum pernah mengadakan komunikasi langsung kepada orang tua siswa dan juga belum pernah memberikan layanan khusus untuk membantu mengatsi kesulitan belajar siswa.
4.1.4 Hasil analisis wawancara teman
            Dari hasil wawancara teman yang bernama Muhammad Fauzan Ardiansyah, ia adalah teman sebangku ACM di kelas. Dari hasil wawancara diketahui bahwa saudara Fauzan tidak mengenal baik saudara ACM dan MS. Hal ini terlihat dari pernyataanya yang tidak tahu alamat rumah saudara ACM dan MS, tidak tahu mata pelajaran yang disukai dan dibenci ACM dan MS.
            Menurutnya saudara ACM dan MS adalah teman yang pendiam, kurang aktif di kelas, kurang rajin dalam mengerjakan tugas, semangat dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas, rajin dalam mencatat pembelajaran dan kurang rajin dalam mengerjakan tugas, selalu memperhatikan saat KBM, dan selalu semangat dalam kegiatan pemebelajaran. Tetapi saudara Fauzan tahu  kalau saudara ACM dan MS bahwa mereka menyukai mata pelajaran olahraga.
            Dari informasi yang diberikan terlihat bahwa terdapat perbedaan informasi yang disampaikan oleh saudara Fauzan dan guru – guru. Hal ini kemungkinan disebabkan saudara Fauzan ingin menutupi kesalahan atau keburukan temanya atau justru selama ini para guru memiliki paradigma buruk terhadap saudara ACM dan MS.
4.1.5 Analisis wawancara ACM
hasil wawancara saudara ACM mengungkapkan bahwa ia tidak bisa membagi waktunya dengan baik ia terlalu sibuk dan lelah karena membantu ibunya menjaga ruko. Ia kemungkinan juga kurang mendapat perhatian dari orang tuanya karena ayahnya yang bekerja dari pagi yaitu pukul 07.00 – 17.00  dan juga ibunya yang sibuk menjaga ruko serta menjaga adiknya yang masih berumur 3 tahun. Kemungkinan inilah penyebab kenapa ACM kurang bersemangat di kelas dan jarang mengerjakan PR nya.
Dari hasl wawancara         Saudara ACM mengungkapkan bahwa ia menyukai mata pelajaran bahasa inggris, olahraga, IPA, dan IPS. Untuk nilai mata pelajaran yang ia sukai kebanyakan mendapat nilai bagus tetapi untuk mata pelajaran bahas inggris ia mendapat nilai kurang di bawah KKM, menurutnya hal ini disebabkan cara mengajar guru bahasa inggrisnya yang tidak sesuai dengan denganya. Saudara ACM menyatakan dia tidak menyukai mata pelajaran matematika, TIK, bahasa jawa, PKN. Untuk nilai mata pelajaran yang tidak disukainya kebanyakan mendapat nilai di bawah KKM kecuali untuk mata pelajaran PKN yang mendapat nilai di atas KKM.
            Menurut saudara ACM dia selalu membawa buku catatan, buku pelajaran, buku tulis saat ke sekolah hal ini jelas berbeda dengan pendapat Ibu Emi dan ibu Sri yang menyatakan bahwa ACM sering lupa tidak membawa buku. Saudara ACM menyatakan merasa nyaman dengan keadaan sekelas menurutnya teman sekelasnya adalah teman yang seru, asik, dan lucu. Saudara ACM tidak mengikuti kegiatan organisasi atau ekstrakulikuler tertentu di kelas walaupun ia tidak terlalu terbuka dengan teman sekelasnya.
4.1.6 Analisis hasil wawancara saudara MS
            Setelah melakukan wawancara dengan saudara MS diketahui bahwa ia adalah anak ke tujuh dari tujuh bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh dan ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga yang sibuk mengurus cucu  dari anak -anaknya. Sepulang sekolah ia menghabiskan waktu untuk bermain dan membantu ibunya merawat keponakanya (anak dari kakaknya). Sama dengan saudara ACM ia juga mengalami masalah tidur ia terbiasa tidur pukul 11 malam. Ia juga jarang sekali belajar di rumah dan jarang mengerjakan PR nya paling dia nanti mencontek teman sekelasnya. hal inilah yang kemungkinan menyebabkan ia sering tertidur di kelas.
            Saat proses pembelajaran di kelas dia menyatakan bahwa ia kurang bersemangat  dan kurang berkonsemtrasi saat mengikuti kegiatan pembelajaran. Ia lebih suka menggambar di dalam kelas atau tertidur di dalam kelas. Saudara MS menyatakan bahwa ia menyukai mata pelajaran IPS dan Olahraga. Tetapi untuk mata pelajaran IPS ia mendapat nilai di bawah KKM, hal ini disebabka ia kurang belajar. Menurutnya mata pelajaran IPS lebih mudah dipahami. Saudara MS tidak menyukai mata pelajaran bahasa inggris dan matematika hal ini disebabkan cara mengajar gurunya sulit dipahami.
            Saudara MS juga menyatakan bahwa ia tidak menyukai keadaan kelasnya yang ramai sehingga kurang berkonsentrasi. Ia menjelaskan bahwa ia tidak terlalu terbuka dengan teman sekeslanya sehingga ia lebih banyak diam. Dia juga cenderung diam di kelas baik saat diskusi maupun kegiatan pembelajaran. MS diketahui adalah serang atlet olahraga beladiri karate dia pernah mendapat juara 2 pertandingan karate tingkat kabupaten.
4.2  Sintesis
Dari hasil pengumpulan data di lapangan diketahui bahwa saudara ACM dan MS memiliki kemiripan atau kesamaan. Mereka tergolong siswa yang minder di kelas baik dalam pergaulan dengan teman sekelas maupun saat proses belajar mengajar mereka cenderung diam atau pasif, kurang aktif di kelas, jarang mengerjakan PR , kurang semangat belajar baik di rumah atau di sekolah, sering tertidur di kelas, sering tidur pukul 10 atau 11 malam , dan terlalu sibuk membantu orang tua di rumah sepulang sekolah.
4.3  Diagnosis
Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai pihak kemungkinan saudara ACM dan MS mengalami learning disorder,yaitu keadaan dimana proses belajar mengajar terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya orang yang mengalami gangguan belajar prestasi belajarnya tidak terganggu akan tetapi proses belajarnya yang terganggu atau terhambat karena respons yang bertentangan.
Untuk kasus ACM dan MS hal ini terlihat dari  perilaku mereka yang minder di kelas baik dalam pergaulan dengan teman sekelas maupun saat proses belajar mengajar mereka cenderung diam atau pasif, kurang aktif di kelas, jarang mengerjakan PR , kurang semangat belajar baik di rumah atau di sekolah, sering tertidur di LAPORAN HASIL DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR

Laporan
Disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Praktik Bimbingan dan Konseling Belajar
Dosen Pembimbing : Dra. Ninik Setyowani, M.Pd.
                                                                                      Muslikah, S.Pd M.Pd






Oleh
PutriDeshea M.H                    1301413076



JURUSAN BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Perkembangan peserta didik berbeda – beda. Banyak hal yang menyebabkan perkembangan peserta didik berbeda bisa meliputi genetik meliputi kecerdasan dan bakat , aspek psikologi bisa meliputi motivasi belajar,  lingkungan meliputi lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan pendidikan.
Perkembangan peserta didik yang berbeda membuat seorang guru maupun konselor harus dapat memahami siswanya dengan sebaik – sebaiknya karena  tidak semua siswa sama. Begitupun kesulitan belajar setiap siswa pasti memiliki tingkat kesulitan belajar yang berbeda – beda dari segi penyebab maupun tingkatan. Seorang pendidik harus dapat memahami siswanya agar pendidik dapat memberikan layanan terbaik kepada siswa sesuai potensi yang dimilikinya.
1.2              Rumusan Masalah
1.    Apa penyebab kesulitan belajar siswa ?
2.    Penanganan apa  yang dapat diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar ?
1.3              Tujuan dan Manfaat
1.3.1        Tujuan kegiatan
1.    Kegiatan ini bertujuan untuk menemukan kesulitan belajar yang dialami siswa
2.    Kegiatan ini bertujuan untuk menemukan penyebab kesulitan belajar siswa dan menemukan cara efektif untuk membantu mengatasi kesulitan belajar siswa.
3.    Membantu peserta didik mengembangkan potensi peserta didik
1.3.2        Manfaat
Peneliti berharap laporan ini bermanfaat bagi pendidik, masyarakat, dan peserta didik ,dengan adanya kegiatan diagnosis kesulitan belajar diharapkan memberi manfaat bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

1.4              Waktu dan Tempat
Description: smp 13.jpgImplementasi penerapan diagnosis kesuslitan belajar dilaksanakan kurang lebih dua bulan dari bulan Oktober sampai Desember semenjak mendapat ijin dari pihak sekolah.
A.    PROFIL SEKOLAH SMP N 13 SEMARANG
NSS : 201036304013
NPSN : 20328824
Jl. Lamongan Raya
Sampangan - Semarang
Telpon :
TU (024) 831 6241
KS (024) 8508713
Fax. (024) 831 6241
www.smpn13smg.sch.id
E-mail :
sekretariat@smpn13smg.sch.id

smpn13smg@gmail.com

 
Twitter : www.twitter.com/SMAN13Semarang
B.     VISI SEKOLAH
Unggul dalam prestasi,berbudi pekerti luhur berdasarkan iman dan taqwa
Indikator:
Unggul
 dalam:
1. Pencapaian
 standar kompetensi lulusan
2. Pengembangan
 standar isi / kurikulum
3. Pengembangan
 standar proses pembelajaran
4. Pengembangan
 standar pendidik dan tenaga kependidikan
5. Pengembangan
 standar sarana dan prasarana
6. Pengembangan
 standar pengelolaan
7. Pengembangan
 standar pembiayaan
8. Pengembangan
 standar penilaian
            C. MISI SEKOLAH
1.   Meningkatkan standar kualitas lulusan agar menghasilkan output yang siap berkompetensi
2.   Meningkatkan dan mengembangkan isi / kurikulum
3.  Meningkatkan layanan pembelajaran dan bimbingan secara kreatif dan inovatif
4.   Meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan
5. Mengembangkan tersedianya sarana pendidikan dan media pembelajaran yang efektif danefisien
6. Meningkatkan pengelolaan SDM yang mampu memberikan layanan pendidikan secaraprofesional  dan bertanggungjawab
7.   Meningkatkan penggalangan sumber dana pembiayaan pendidikan
8.   Mengembangkan sistem penilaian yang standar
D.    BIMBINGAN DAN KONSELING
guru BK SMP N 13 Semarang berjumlah sekitar
Peran guru bimbingan dan konseling
1.         Penyusunan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling
2.         Koordinasi dengan wali kelas dalam rangka mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tentang kesulitan belajar
3.         Memberikan layanan dan bimbingan kepada siswa agar lebih berprestasi dalam Kegiatan belajar
4.         Memberikan saran dan pertimbangan kepada siswa dalam memperoleh gambaran tentang lanjutan pendidikan dan lapangan pekerjaan yang sesuai
5.         Mengadakan penilaian pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan
6.         Menyusun Satatistik hasil penilaian B.K
7.         Melaksanakan kegiatan analisis hasil evaluasi belajar
8.         Menyusun dan melaksanakan program tindak lanjut Bimbingan dan Konseling
9.         Menyusun laporan pelaksanaan Bimbingan dan Konseling

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1            Kesulitan Belajar
2.1.1 Definisi kesulitan belajar
Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah bahasa Inggris learning disability. Terjrmahan tersebut kurang tepat karena learning artinya belajar dan disability artinya ketidakmampuan,sehingga terjemahan yang tepat adalah ketidakmampuan belajar. Kesulitan belajar merupakan konsep multidisipliner yang digunakan di lapangan ilmu pendidikan, psikologi,maupun ilmu kedokteran.
Kesulitan belajar pertama kali dikemukakakan oleh The United States Office Of Education (USOE) pada tahun 1977 yang dikenal dengan Public Law  (PL) 94-142, yang hampir identik dengan definisi yang dikemukakan oleh  The Nation Advisory Comittee on Handicapped Children  pada tahun 1967. Definisi tersebut dikutif oleh  Hallahan, Kauffman, dan Lyod (dalam Abdurahman.2003 : 6-7)
kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologi dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. gangguan tersebut mungkin menampakan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, mengeja , atau berhitung. batasan tersebut mencakup kondisi kondisi seperti gangguan perseptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. batasan tersebut tidak mencakup anak- anak yang memiliki problema belajar yang penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihaatan, pendengaran, atau motorik, hambatan karena tunagrahita , karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi.
Di Indonesia  belum ada definisi khusus tentang kesulitan belajar. Para guru umumnya memandang semua siswa yang memperoleh prestasi  belajar rendah disebut siswa berkesulitan belajar.
2.1.2 Klasifikasi Kesulitan Belajar
Secara garis besar besar kesulitan belajar diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, (1) kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning disabilities) dan (2) kesulitan belajar akademik ( academic learning disabilities). Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan mencakup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial. Kesulitan belajar akademik menunjuk pada adanya kegagalan- kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapsitas yang diharapkan. Kegagalan tersebut mencakup penuasaan ketrampilan dalam membaca, menulis, dan matematika.
Mulyadi (2010:6-7) mengemukakan bahwa kesulitan belajar mempunyai pengertian yang luas dan kedalamanya termasuk pengertian – pengertian seperti
1.      Learning disorder (ketergantungan belajar)
Adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan. Pada dasarnya  orang yang mengalami gangguan bela-jar, prestasi belajarnya tidak terganggu akan tetapi proses belajarnya akan terganggu atau terhambat oleh adanya respon – resppon yang bertentangan. De-ngan demikian hasil belajar yang dicapai akan lebih rendah dari potensi yang dimiliki( Rosyidan,1998).
2.      Learning disabilities (ketidakmampuan belajar)
Adalah ketidakmampuan seseorag murid yang mengacu kepada gejala dimana murid  tidak mampu belajar (menghindari belajar) sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
3.      Learning disfunction (ketidakfungsian belajar)
Menunjukan gejala di mana proses belajar tidak berfungsi dengan baik meskipun pada dasarnyatidak ada tanda – tanda subnormalitas mental, gangguan alat indra atau gangguan psikologis lainnya.
4.      Under achiever ( pencapaian rendah)
mengacu pada murid – murid yang memiliki tingkat potensi intelektual di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.
5.      Slow learner ( lambat belajar)
adalah murid yag lambat dalam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu dibandingkan dengan murid – murid yang lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
2.1.3 Penyebab Kesulitan Belajar
Prestasi belajar menurut Mulyono dipengaruhi oleh dua faktor yaitu internal dan eksternal. Penyebab utama kesulitan belajar adalah faktor internal , yaitu  antara lain ke-mungkinan adanya disfungsi neurologis, sedangkan penyebab utama problema belajar adalah faktor eksternal , yaitu antara lain berupa strategi pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak  membangkitkan motivasi belajar anak, dan pemberian ulangan penguatan yang tidak tepat.
Koestor (dalam Mulyadi. 2010 : 30)  dalam mengidentifikasikan kemung-kinan sebab kesulitan belajar dapat dikelompokan menjadi empat kategori yaitu :
1.        kondisi- kondisi fisiologis yang permanen
kemungkinan sebab kesulitan belajar karena kondisi – kondisi fisiologis yang permanen meliputi:
a.    intelegensi yang terbatas
b.    hambatan persepsi
c.    hambatan penglihatan dan pendengaran
2.        kondisi- kondisi fisiologis yang temporer
a.  masalah makanan
b. kecanduan
c.  kecapaian / kelelahan
3.        pengaruh – pengaruh lingkungan sosial yang permanen
a.    harapan orang tua terlalu tinggi, tidak sesuai kemampuan anak
b.    konflik keluarga
4.        pengaruh – pengaruh lingkungan sosial yang temporer
a.    ada bagian bagian dalam urutan belajar yang belum dipahami
b.    kurang adanya motivasi
2.1.4 Ciri – Ciri Kesulitan Belajar
            Dalam proses belajar, guru sering menghadapi masalah adanya murid yang tidak dapat mengikuti pelajaran dengan lancar. Dengan kata lain guru sering menghadapi siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar. Biasanya masalah yang dihadapi para guru di sekolah adalah gejala atau manifestasi adanya kesulitan belajar yang ditampakkan dalam bentuk-bentuk tingkah laku tertentu. Beberapa ciri tingkah laku yang merupakan pernyataan manifestasi gejala kesulitan belajar menurut Mohammad Surya (1992: 86) adalah sebagai berikut:
1.    Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau dibawah potensi yang dimilikinya.
2.    Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada murid yang selalu berusaha untuk belajar dengan giat tapi nilai yang dicapai selalu rendah.
3.    Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar. Ia selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan waktu yang tersedia. Misalnya rata-rata anak dapat menyelesaikan suatu tugas dalam  waktu 40 menit, maka anak yang menghadapi kesulitan belajar akan memerlukan waktu yang lebih lama.
4.    Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, menentang dan sebagainya.
5.    Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan, seperti datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, mengasingkan diri, tersisihkan, tidak mau bekerja sama, dan sebagainya.
6.    Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu, misalnya dalam menghadapi nilai rendh tidak menunjukkan adanya perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Pendapat di atas sesuai dengan yang diungkapkan Kirk (Effendi Kusno, 1987: 57) bahwa ada empat perilaku yang berkaitan dengan kesulitan belajar antara lain:
1.    Siswa lamban disemua bidang yang diikuti, dimana siswa mengalami ketertinggalan dalam mata pelajaran yang diikutinya, serta tertinggal oleh kawan-kawannya. Ia kesulitan menerima kesan yang disampaikan oleh gurunya dan selalu terlambat dalam menyelesaikn tugas-tugas yang mesti dikerjakan.
2.    Ketidakmampuan dalam bidang-bidang khusus, ditandai oleh ketidakmampuan siswa dalam bidang tertentu, misalnya siswa selalu sulit untuk memahami isi bacaan, sulit untuk menguraikan bagan-bagan atau yang lainnya.
3.    Kesulitan akademik dalam kaitannya dengan kekacauan tingkah laku, ditandai dengan tingkah laku siswa yang sulit diatur, senang membuat gaduh, malas mencatat, ingin selalu berpindah-pindah tempat duduk ketika pelajaran berlangsung dan gejala lain yang mengarah kepada behaviorial disorder.
4.    Masalah yang berhubungan dengan motivasi, ditandai dengan kurang bergairah untuk mengikuti pelajaran, tidak ada minat berdiskusi, dan lalai mengerjakan tugas.
Dari hasil studi tentang hubungan antara ciri – ciri kepribadian dengan presta-si belajar menyatakan bahwa murid yang tergolong pencapaian rendah menunju-kan ciri – ciri sebagai berikut :
1.    lebih banyak megalami kecemasan dan kurang mampu mengontrol diri terhadap kecemasan.
2.    kurang mampu menyesuikan diri dan kurang kepercayaan diri.
3.    kurang mampu mengikuti otoritas.
4.    kurang mampu dalam penerimaan sosial.
5.    lebih banyak mengalami konflik ketergantungan.
6.    kegiatanya kurang berorientasi pada akademik dan sosial. ( Rosyidan,1998)
2.2 Diagnosis Kesulitan Belajar
2.2.1 Definisi
            Menurut Mulyadi (2010:1) diagnosis diartikan sebagai usaha - usaha untuk  mendeteksi, meneliti sebab – sebab , jenis – jenis, sifat – sifat dari kesulitan bela-jar seorang murid. Adapun landasan pemikiran perlunya diagnosis dan pemecahan kesulitan belajar bagi murid- murid sebagai berikut :
1.    Setiap murid hendaknya mendapat kesempatan dan pelayanan untuk berkem-bang secara optimal sesuai kemampuan, kecerdasan, bakat, dan minatnya.
2.    Adanya perbedaan – perbedaan kemampuan, kecerdasan, bakat , minat, dan latar belakang fisik  serta sosial masing – masing murid .
3.    Sistem pengajaran di sekolah seharusnya memberikan kesempatan kepada murid untuk maju sesuai kemapuan sendiri.
4.    Untuk menghadapi hal tersebut di atas para guru, konselor perlu dilengkapi dengan pengetahuan , sikap,dan ketrampilan dalam hal pengidentifikasian kesulitan belajar, sebab – sebab, dan pelayanan remedialnya.
2.2.2 Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar
1.    Pengumpulan data.
Dalam melakukan pengumpulan data harus dilakukan menggunakan beberapa metode yaitu observasi, kunjungab rumah,case study. Case history,daftar pribadi, meneliti pekerjaan anak, tugas kelompok,dan melaksanakan tes. Semua metode tersebut tidak semua harus dilaksanakan tergantung dengan masalahnya.
2.    Pengolahan data
Langkah yang dapat dilakukan untuk mengolah data adalah dengan identifikasi kasus, membandingkan antar-kasus, membandingkan dengan hasil tes, dan menarik kesimpulan.
3.    Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosis dapat berupa keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak, keputusan mengenai faktor yang menyebabkan kesulitan belajar, keputusan mengenai faktor utama penyebab kesulitan belajar.
4.    Prognosis
Prognosis adalah ramalan atau aktivitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar anak didik yang berupa bahan yang diperlukan, metode, alat bantu dll.
5.    Treatment (perlakuan)
Perlakuan adalah pemberian bantuan kepada anak yang ersangkutan sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Treatment dapat berupa bimbingan belajar kelompok dan individual, remedial, bimbingan pribadi mengatasi masalah psikologis dan bimbingan orang tua.
6.    Evaluasi
Evaluasi adalah untuk mengetahui apakah treatment yang diberikan dapat berhasil dengan baik. Untuk mengecek dapat dilakukan dengan re-ceking data, re-diagnosis, re-prognosis, re-teratment, dan re-evaluasi.




















BAB III
METODE
3.1            Metode yang digunakan
Metode yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah dengan  melakukan analisis legger atau siswa, wawancara terhadap guru BK, teman, wali kelas, guru mapel, orang tua siswa dan wawancara siswa yang bersangkutan serta observasi  di kelas.
3.1.1 Wawancara
                        Wawancara atau disebut juga dengan interviu adalah teknik pengumpulan data dengan cara tanya-jawab lisan yang dilakukan secara sistematis guna mencapai tujuan penelitian. Wawancara biasanya dilakukan oleh dua orang atau lebih, satu pihak berperan sebagai interviewer dan pihak lain berperan sebagai interviewee atau yang diwawancarai. Dalam wawancara dibagi menjadi dua jenis yaitu : wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan apabila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Jadi dalam wawancara terstruktur peneliti telah menyiapkan instrument penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan. Sedangkan wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang dilakukan secara bebas dimana peneliti belum mengetahui hal yang akan diteliti sehingga peneliti hanya membawa catatan kecil mengenai garis besar hal yang akan diteliti.
3.1.2 Legger
Legger adalah catatan atau data yang berisi nilai siswa atau peserta didik. Legger  yang saya analisis adalah nilai UTS siswa kelas IX A angkatan 2014/2015 di SMPN 13  Semarang. Observasi yang saya lakukan digunakan un-tuk mengetahui keaktifan siswa saat KBM berlangsung.
PEDOMAN OBSERVASI

Variabel Penelitian                  : Tingkat Keaktifan Siswa dalam Proses KBM
Tujuan Observasi                    : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam proses KBM
Komponen                              : Aktivitas, Kebiasaan atau TingkahLaku
Observer                                  :
Observee                                 : Siswa SMP / SMA
Observasike                             : 1/2/3/4 (lingkari yang sesuai)
Pelaksanaan observasi             :
1.      Hari/tanggal                :
2.      Jam                              :
3.      Nama sekolah              :
4.      Alamat sekolah           :

NO
VARIABEL
INDIKATOR
DESKRIPTOR
NO ITEM
1.       

Visual Activities
a.       Memperhatikan di kelas
b.      Membacabuku

2.       

Oral Activities
a.       Bertanya di dalamkelas
b.      Memberi saran
c.       Menyampaikanpendapat
d.      Berdiskusi

3.       

Listening Activities
Mendengarkan guru

4.       

Writing Activities
Mencatat pelajaran

5.       

Drawing Activities
a.       Menggambar
b.      Membuat grafik / diagram

6.       

Motor Activities
a.       Melakukakn percobaan / praktikum
b.      Bermain

7.       

Mental Activities
a.       Menanggapi dalam diskusi
b.      Memecahkan soal (membuat tugas)

8.       

Emotional Activities
a.       Semangat dalam pembelajaran
b.      Merasakan bosan dalam pembelajaran


PEDOMAN WAWANCARA GURU BK

A.    Tujuan wawancara                         : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam proses KBM
B.     Interviewer                                   :
C.     Interviwee                                    :
D.    Pelaksanaan wawancara               :
1.      Hari/tanggal                                         :
2.      Jam                                                                  :
E.     Berikut ini adalah daftar pertanyaan                   :
1.         Apakah A sering datang keruang BK untuk mengkonsultasikan hasil belajarnya?
2.      Bagaimana hubungan A dengan guru – guru ?
3.      Apakah si A sering bermasalah di sekolah
4.      Bagaimana hubungan siswa tersebut dengan teman – temannya ?
5.      Bagaimana prestasi siswa tersebut ?
6.      Bagaimana perilaku siswa tersebut dalam lingkungan sekolah ?
7.      Dalam mengikuti pembelajaran, adakah masalah yang dihadapi siswa tersebut ?
8.      Apakah Guru BK member layanan tertentu untuk membantu mengatasi kesulitan belajar siswa ?
9.      Apakah orang tua sering dilibatkan dalam hal ini ?
10.  Untuk mengatasi hal ini, apakah Guru BK berkolaborasi dengan pihak lain untuk menentukan solusi yang tepat ?
PEDOMAN WAWANCARA WALI KELAS

1.      Bagaimana perkembangan belajar siswa A dan siswa B?
2.      Bagaimana keaktifan siswa A dan siswa B dalam mengikuti pelajaran?
3.      Bagaimana reaksi Anda ketika menerima hasil nilai si A dan si B dari guru mata pe-lajaran?
4.      Apakah anda sering mendiskusikan hasil nilai siswa A kepada guru mapel dan guru BK ?
5.      Bagaimana reaksi orang tua siswa A dan siswa B ketika menerima hasil nilai  rapor si A dansi B?
6.      Apakah Anda pernah memberi saran kepada orang tua siswa A dan siswa B terkait hasil raport mereka?
7.      Apakah Anda pernah mengkomunikasikan hasil nilai siswa kepada orang tua siswa A dan siswa B terkait hasil raport mereka?
8.      Bagaimana lingkungan pergaulan siswa A dan siswa B ketika di sekolah?
9.      Bagaimana reaksi siswa A dan siswa B ketika anda memberikan evaluasi di kelas? (evaluasi mengenai kegiatan kelas atau hasil nilai siswa)
10.  Apakah siswa A dan B pernah bertanya kepada Anda mengenai hasil nilai akhir yang mereka dapatkan?
11.  Bagaimana perilakusi A dansi B saat pembelaran di kelas menurut Anda ?
12.  Apakah orang tua si A dan si B sering berkominikasi dengan Anda menanyakan perkembangan anaknya di sekolah ?
13.  Menurut Anda apa yang menyebabkan siswa A dan siswa B mengalami penurunan prestasi nilai akademik?
PEDOMAN WAWANCARA UNTUK TEMAN
1.      Bagaimana perilaku teman Anda ketika di kelas ?
2.      Bagaimana perilaku teman Anda saat kegiatan diskusi atau Tanya jawab ?
3.      Apakah teman Anda mengikuti kegiatan ekstrakurikuler atau organisasi ?
4.      Apakah teman Anda rajin mengerjakan tugas yang diberikan oleh Guru ?
5.      Apakah teman Anda bersemangat mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas ?
6.      Apakah teman Anda rajin mencatat  pelajaran ?
7.      Menurut anda mata pelajaran apa yang paling teman anda sukai ? mengapa
8.      Menurut anda mata pelajaran apa yang paling tidak disukai teman anda ? mengapa
9.      Apakah teman Anda memperhatikan saat proses KBM ?
10.  Apakah teman Anda senang apabila mengikuti pelajaran yang berhubungan dengan menggambar ?
11.  Apakah teman Anda suka mata pelajaran praktek seperti olahraga, atau yang lainnya ?
12.  Apakah teman Anda aktif bertanya dalam kelas ?
PEDOMAN WAWANCARA SISWA

A.    Tujuan wawancara  : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam proses KBM
B.     Interviewer                                    :
C.     Interviwee                         :
D.    Pelaksanaan wawancara                :
3.      Hari/tanggal                                                     :
4.      Jam                                                                  :

E.     Berikut ini adalah daftar pertanyaan                    :
1.      Apa yang sering kamu lakukan ketika proses pembelajaran di kelas ?
2.      Mata pelajaran apa yang kamu sukai ?mengapa ?
3.      Bagaimana hasil nilai mata pelajaran yang kamu sukai ?
4.      Mata pelajaran apa yang tidak kamu sukai ?Mengapa ?
5.      Bagaimana hasil nilai mata pelajaran yang tidak kamu sukai ?
6.      Apa yang kamu lakukan ketika mengikuti mata pelajaran yang tidak kamu sukai ?
7.      Apakah kamu merasa nyaman ketika proses pembelajaran di kelas?Mengapa ?
8.      Bagaimana pendapat kamu tentang teman – teman sekelasmu ?
9.      Adakah kendala atau masalah ketika kamu berada di kelas ?
10.  Apakah kegiatan sekolah (ekstrakurikuler, organisasi) mengganggu proses belajar kamu ?Mengapa ?
11.  Apa yang kamu lakukan saat diskusi dalam kelas ?
12.  Apakah catatan pelajaran kamu lengka ?
13.  Apakah kamu sering mengerjakan tugas yang diberikan guru ?
14.  Apakah alat tulis yang kamu bawa lengkap ?
PEDOMAN WAWANCARA ORANG TUA SISWA

A.    Tujuanwawancara                          : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam proses KBM
B.     Interviewer                                   :
C.     Interviwee                                    :
D.    Pelaksanaan wawancara               :
5.      Hari/tanggal                                                     :
6.      Jam                                                                  :
7.      Kondisi subyek saat interview dilakukan       :
E.     Berikut ini adalah daftar pertanyaan                   :
1.      Bagaimana perkembangan belajar siswa bersangkutan?
2.      Jam berapa biasanya siswa yang bersangkutan pulang ke rumah ?
3.      Pada jam berapaa siswa yang bersangkutan belajar ?
4.      Pernahkah keluarga membicarakan mengenai keadaan di sekolah ?
5.      Seberapa sering keluarga menjalin komunikasi ?
6.      Media atau fasilitas apa yang diberikan untuk hiburan ataupun komunikasi ?
7.      Bagaimana kondisi lingkungan di sekitar rumah ?
8.      Bagaimana menurut Anda mengenai tingkah laku siswa bersangkutan di rumah ?
9.      Upaya apa yang keluarga lakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa bersangkutan?
10.  Apa yang sering anak andalakukan sepulang sekolah ?
11.  Bagaimana pergaulan anak anda dirumah ?
12.  Apakah anak anda aktif dalam kegiatan ,komunitas, atau organisasi teretntu sepulang sekolah ?
PEDOMAN WAWANCARA GURU MAPEL 

F.      Tujuan wawancara                         : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam proses KBM
G.    Interviewer                                   :
H.    Interviwee                                    :
I.       Pelaksanaan wawancara               :
8.      Hari/tanggal                                                     :
9.      Jam                                                                  :
10.  Kondisi subyek saat interview dilakukan       :

J.       Berikut ini adalah daftar pertanyaan                   :
1.      Bagaiamana perilaku siswa dalam KBM?
2.      Bagaimana kesan anda mengenai siswa tersebut ?
3.      Apakah siswa dalam KBM juga aktif dalam membaca buku ?
4.      Apakah siswa dalam kegiatan KBM aktif bertanya ?
5.      Apakah siswa dalam kegiatan KBM aktif dalam memberikan sanggahan, saran atau kritikan ?
6.      Dalam kegiatan diskusi di kelas, apakah siswa ikut aktif bertanya maupun menanggapi ?
7.      Apakah dalam KBM siswa juga mencatat tentang materi yang disampaikan ?
8.      Apakah siswa aktif dalam membuat dan melaporkan tugas yang diberikan ?
9.      Bagaimana menurut Anda mengenai keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar ?




























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN KASUS KESULITAN BELAJAR
4.1   Identifikasi Masalah
4.1.1 Identitas Siswa
Siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar adalah saudara ACM dan MS.
            Saudara ACM diketahui bahwa ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai staf TU di UNISBANK ayahnya bekerja dari pukul 07.00 sampai pukul 17.00, sedangkan ibunya bekerja menjaga ruko sampai larut malam. Seplang sekolah ia membantu ibunya menjaga ruko, sepertinya saudara ACM memiliki masalah insomnia hal ini diketahui dari pernyataan yang mengungkapkan bahwa ia tidur minimal pukul 22.00 atau 23.00.
            Setelah melakukan wawancara dengan saudara MS diketahui adalah anak ke tujuh dari tujuh bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh bahwa ia dan ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga yang sibuk mengurus cucu  dari anak -anaknya. Sepulang sekolah ia menghabiskan waktu untuk bermain dan membantu ibunya merawat keponakanya (anak dari kakaknya). Dari penuturan guru BK diketahui bahwa ia termasuk siswa yang kurang mampu daris segi ekonomi. Diketahui pula bahwa saudara MS juga mengalami kesulitan tidur seperti halnya saudara ACM. Saudara MS tidur sekitar pukul 11 malam dan bangun pukul 04.30 pagi. Saudara MS ke sekolah naik sepeda motor , waktu yang ditempuh dari rumah ke sekolah dengan sepeda motor sekitar 30 menit. Ia menitipkan sepedanya ke rumah kakaknya yang kurang lebih berjarak 1 km dari sekolah. Saudara MS juga pernah menjuarai perlombaan olah raga bela diri karate tingkat kabupaten Semarang.
4.1.2 Alasan Pemilihan Konseli
untuk menetukan siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar, saya meminta saran dari guru BK namun dikarenakan guru BK  belum menganalisis legger siswa dan kurang mengenal keadaan kelas IX A maka saya meminta saran dari wali kelas IX A yaitu ibu Sri Suharni. beliau menyarankan saya mendalami siswa yang berinisial ACM dan MS,dalam hal ini beliau memberikan saran atas dasar pertimbangan nilai UTS serta pengamatan beliau sehari – hari saat mengajar serta laporan dari beberapa guru.
4.2  Analisis
4.2.1Analisis hasil wawancara guru mapel
       Untuk kesulitan belajar yang dialami siswa ACM dan MS keduanya mengalami kesulitan belajar di mata pelajaran bahasa inggris. Mata pelajaran bahasa inggris diampu oleh ibu Emi Amalia.S,Pd. Saat melakukan wawancara ibu Emi mengatakan bahwa dia baru saja mengenal saudara ACM dan MS dalam artian hafal nama mereka karena mereka termasuk siswa yang tidak menonjol di dalam kelas.
       Dari hasil wawancara diketahui saudara ACM dan MS merupakan siswa yang minder , cuek dan tidak aktif saat di kelas baik untuk bergaul dengan teman-teman dan juga saat mengikuti kegiatan belajar mengajar khususnya di mata pelajaran bahasa inggris. Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung mereka tidak aktif dalam kegiatan diskusi, tidak pernah aktif bertanya untuk menanyakan materi  pelajaran yang kurang paham, mereka juga tidak pernah memberikan sanggahan atau kritikan terhadap kegiatan belajar mengajar yang berlasung. Mereka juga jarang mencatat materi yang disampaikan. Mereka juga sering tidak mengumpulkan pekerjaan rumah yang diberikan, tetapi untuk tugas di kelas yang langsung dikmpulkan mereka membuatnya walau terkadang itu merupakan hasil dari mencontek teman sekelasnya.
       Menurut ibu Emi saudara ACM  termasuk siswa yang pendiam dan tidak aktif di kelas. Saudara MS menurut ibu Emi adalah siswa yang pendiam, tidak aktif di kelas, cuek , tidak memperhatikan saat dikelas justru dikelas sering menggambar saat pelajaran, sering mela-mun, sering tidak masuk tanpa keterangan, sering tidur di kelas.
4.1.2 Wawancara wali kelas
       Saat saya bertanya tentang kesulitan belajar kelas IX A saya menanyakannya kepada wali kelas karena untuk guru BK sendiri kurang mengenal keadaan kelas IXA. Dari hasil wawancara dengan wali kelas yang bernama ibu Sri Suharni. S,Pd yang menjadi guru bahasa jawa kelas IX A, beliau menyarankan anak yang bernama ACM dan MS. Dari hasil wawancara dengan ibu Sri Suharni diketahui perkembangan belajar ACM  dan MS tergolong lambat atau kurang hal ini terlihat dari nilai UTS siswa. Menurut ibu Sri Suharni mereka tidak memperhatikan di kelas dan kurang semangat untuk mengikuti kegiatan KBM khususnya untuk mata pelajarannya yaitu bahasa jawa.
       Saudara ACM dan MS termasuk siswa yang tidak aktif di kelas mereka termasuk siswa yang pendiam  di kelas. Menurut ibu Sri perilaku saudara MS di kelas saat mengkuti mata pelajaranya seringnya adalah tidak membawa buku baik buku catatan, buku tulis ataupun buku paket, tidak mau memperhatikan, sering tidak masuk tanpa alasan, seing telat, kurang semangat dan sering tidur di kelas. Untuk saudara ACM tingkah lakunya di kelas seringnya tidur , terlihat tidak semangat mengikuti mata pelajaran.
       Untuk pergaulan saudara ACM dan MS ibu Sri berpendapat bahwa saudara ACM termasuk siswa pendiam yang kurang bersosialisasi dengan teman sekelasnya tetapi dia masih dapat bergaul dengan baik dengan teman sekelasnya. Tetapi untuk saudara MS termasuk siswa yang tertutup ia tidak membuka diri dengan teman sekelasnya.
            Ibu sri Suharni termasuk wali kelas yang perhatian terhadap perkembangan belajar siswanya. Sebagai wali kelas ibu Sri sering mengkomunikasikan nilai siswa khususnya ACM dan MS kepada guru BK. Ibu Sri Suharni juga sering mengadakan  komunikasi dengan orang tua siswa dan siswa yang bersangkutan mengenai nilai-.nilai siswa. Ibu Sri juga sesekali mengadakan kunjungan rumah terhadap siswanya yang tidak masuk tanpa keterangan. Menurut hasil wawancara ibu Sri kepada orang tua diketahui bahwa saudara MS bergaul dengan teman yang kurang baik di luar sekolah. Orang tua MS menyatakan bahwa mereka sadar anak mereka kurang pintar, dan kurang memperhatikan di kelas.
            Menurutnya penyebab kurangnya prestasi akademik saudara ACM dan MS adalah kurangya semangat belajar. Menurutnya perkembangan saudara MS sudah lebih baik dari kelas VIII karena intensitas bolos atau tidak masuk tanpa keterangan telah berkurang. Prestasi akademik saudara ACM juga mengalami peningkatan walau tidk signifikan.
4.1.3 Hasil analisis wawancara guru BK
            Dari hasil wawancara diketahui bahwa guru BK kelas IX A yaitu ibu Ninik Budi Setyani kurang mengenal pribadi masing – masing siswa. Dari hasil wawancara Ibu Ninik tidak memberikan banyak informasi karena kelihatanya ia tidak mengenal baik saudara ACM dan MS. Tetapi beliau mengatakan bahwa saudara MS merupakan siswa yang kurang mampu dar segi finansial.
            Dari hasil wawancara diketahui saudara MS dan ACM termasuk siswa yang tidak bermasalah di sekolah, Saudara MS dan ACM  bukan termasuk siswa yang memiliki hubungan baik dengan guru – guru, menurutnya prestasi akademik ACM dan MS kurang tetapi untuk saudara MS pernah mendapatkan juara di bidang olahraga bela diri karate. Guru BK juga belum pernah mengadakan komunikasi langsung kepada orang tua siswa dan juga belum pernah memberikan layanan khusus untuk membantu mengatsi kesulitan belajar siswa.
4.1.4 Hasil analisis wawancara teman
            Dari hasil wawancara teman yang bernama Muhammad Fauzan Ardiansyah, ia adalah teman sebangku ACM di kelas. Dari hasil wawancara diketahui bahwa saudara Fauzan tidak mengenal baik saudara ACM dan MS. Hal ini terlihat dari pernyataanya yang tidak tahu alamat rumah saudara ACM dan MS, tidak tahu mata pelajaran yang disukai dan dibenci ACM dan MS.
            Menurutnya saudara ACM dan MS adalah teman yang pendiam, kurang aktif di kelas, kurang rajin dalam mengerjakan tugas, semangat dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas, rajin dalam mencatat pembelajaran dan kurang rajin dalam mengerjakan tugas, selalu memperhatikan saat KBM, dan selalu semangat dalam kegiatan pemebelajaran. Tetapi saudara Fauzan tahu  kalau saudara ACM dan MS bahwa mereka menyukai mata pelajaran olahraga.
            Dari informasi yang diberikan terlihat bahwa terdapat perbedaan informasi yang disampaikan oleh saudara Fauzan dan guru – guru. Hal ini kemungkinan disebabkan saudara Fauzan ingin menutupi kesalahan atau keburukan temanya atau justru selama ini para guru memiliki paradigma buruk terhadap saudara ACM dan MS.
4.1.5 Analisis wawancara ACM
hasil wawancara saudara ACM mengungkapkan bahwa ia tidak bisa membagi waktunya dengan baik ia terlalu sibuk dan lelah karena membantu ibunya menjaga ruko. Ia kemungkinan juga kurang mendapat perhatian dari orang tuanya karena ayahnya yang bekerja dari pagi yaitu pukul 07.00 – 17.00  dan juga ibunya yang sibuk menjaga ruko serta menjaga adiknya yang masih berumur 3 tahun. Kemungkinan inilah penyebab kenapa ACM kurang bersemangat di kelas dan jarang mengerjakan PR nya.
Dari hasl wawancara         Saudara ACM mengungkapkan bahwa ia menyukai mata pelajaran bahasa inggris, olahraga, IPA, dan IPS. Untuk nilai mata pelajaran yang ia sukai kebanyakan mendapat nilai bagus tetapi untuk mata pelajaran bahas inggris ia mendapat nilai kurang di bawah KKM, menurutnya hal ini disebabkan cara mengajar guru bahasa inggrisnya yang tidak sesuai dengan denganya. Saudara ACM menyatakan dia tidak menyukai mata pelajaran matematika, TIK, bahasa jawa, PKN. Untuk nilai mata pelajaran yang tidak disukainya kebanyakan mendapat nilai di bawah KKM kecuali untuk mata pelajaran PKN yang mendapat nilai di atas KKM.
            Menurut saudara ACM dia selalu membawa buku catatan, buku pelajaran, buku tulis saat ke sekolah hal ini jelas berbeda dengan pendapat Ibu Emi dan ibu Sri yang menyatakan bahwa ACM sering lupa tidak membawa buku. Saudara ACM menyatakan merasa nyaman dengan keadaan sekelas menurutnya teman sekelasnya adalah teman yang seru, asik, dan lucu. Saudara ACM tidak mengikuti kegiatan organisasi atau ekstrakulikuler tertentu di kelas walaupun ia tidak terlalu terbuka dengan teman sekelasnya.
4.1.6 Analisis hasil wawancara saudara MS
            Setelah melakukan wawancara dengan saudara MS diketahui bahwa ia adalah anak ke tujuh dari tujuh bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh dan ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga yang sibuk mengurus cucu  dari anak -anaknya. Sepulang sekolah ia menghabiskan waktu untuk bermain dan membantu ibunya merawat keponakanya (anak dari kakaknya). Sama dengan saudara ACM ia juga mengalami masalah tidur ia terbiasa tidur pukul 11 malam. Ia juga jarang sekali belajar di rumah dan jarang mengerjakan PR nya paling dia nanti mencontek teman sekelasnya. hal inilah yang kemungkinan menyebabkan ia sering tertidur di kelas.
            Saat proses pembelajaran di kelas dia menyatakan bahwa ia kurang bersemangat  dan kurang berkonsemtrasi saat mengikuti kegiatan pembelajaran. Ia lebih suka menggambar di dalam kelas atau tertidur di dalam kelas. Saudara MS menyatakan bahwa ia menyukai mata pelajaran IPS dan Olahraga. Tetapi untuk mata pelajaran IPS ia mendapat nilai di bawah KKM, hal ini disebabka ia kurang belajar. Menurutnya mata pelajaran IPS lebih mudah dipahami. Saudara MS tidak menyukai mata pelajaran bahasa inggris dan matematika hal ini disebabkan cara mengajar gurunya sulit dipahami.
            Saudara MS juga menyatakan bahwa ia tidak menyukai keadaan kelasnya yang ramai sehingga kurang berkonsentrasi. Ia menjelaskan bahwa ia tidak terlalu terbuka dengan teman sekeslanya sehingga ia lebih banyak diam. Dia juga cenderung diam di kelas baik saat diskusi maupun kegiatan pembelajaran. MS diketahui adalah serang atlet olahraga beladiri karate dia pernah mendapat juara 2 pertandingan karate tingkat kabupaten.
4.2  Sintesis
Dari hasil pengumpulan data di lapangan diketahui bahwa saudara ACM dan MS memiliki kemiripan atau kesamaan. Mereka tergolong siswa yang minder di kelas baik dalam pergaulan dengan teman sekelas maupun saat proses belajar mengajar mereka cenderung diam atau pasif, kurang aktif di kelas, jarang mengerjakan PR , kurang semangat belajar baik di rumah atau di sekolah, sering tertidur di kelas, sering tidur pukul 10 atau 11 malam , dan terlalu sibuk membantu orang tua di rumah sepulang sekolah.
4.3  Diagnosis
Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai pihak kemungkinan saudara ACM dan MS mengalami learning disorder,yaitu keadaan dimana proses belajar mengajar terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya orang yang mengalami gangguan belajar prestasi belajarnya tidak terganggu akan tetapi proses belajarnya yang terganggu atau terhambat karena respons yang bertentangan.
Untuk kasus ACM dan MS hal ini terlihat dari  perilaku mereka yang minder di kelas baik dalam pergaulan dengan teman sekelas maupun saat proses belajar mengajar mereka cenderung diam atau pasif, kurang aktif di kelas, jarang mengerjakan PR , kurang semangat belajar baik di rumah atau di sekolah, sering tertidur di kelas.
4.4  Prognosis
Penyebab kesulitan belajar ACM dan MS kemungkinan disebabkan oleh kecapaian atau kelelahan, kurang adanya motivasi belajar, dan belum mampu memotivasi belajar dengan baik, kurangnya perhatian orang tua terhadap perkembangan prestasi akademik maupun non akademik di sekolah dan krangnya konsentrasi belajar.
4.5  Treatmen
Treatmen atau bantuan yang bisa diberikan kepada saudar ACM dan MS bisa berupa
1.        Pengajaran remedial dan pengayaan pada bidang studi yang dibawah KKM oleh guru mapel.
2.        Para guru beserta konselor sekolah bekerja sama untuk berusaha menciptakan suasana kondusif di dalam kelas yang mendukung kenyamanan proses belajar mengajar di dalam kelas.
3.        Konselor dapat memberikan layanan baik individual, kelompok, dan klasikal. Untuk layanan individual bisa dilakukan dengan konseling individual untuk menemukan jalan keluar masalah siswa yang bersagkutan, untuk kelompok guru BK bisa mengadakan bimbingan dan konseling kelompok. Layanan klasikal yang diberikan bisa berupa pelaksanaan RPL tentang manajemen waktu, motivasi belajar, dan konsentrasi belajar..
4.4  Prognosis
Penyebab kesulitan belajar ACM dan MS kemungkinan disebabkan oleh kecapaian atau kelelahan, kurang adanya motivasi belajar, dan belum mampu memotivasi belajar dengan baik, kurangnya perhatian orang tua terhadap perkembangan prestasi akademik maupun non akademik di sekolah dan krangnya konsentrasi belajar.
4.5  Treatmen
Treatmen atau bantuan yang bisa diberikan kepada saudar ACM dan MS bisa berupa
1.        Pengajaran remedial dan pengayaan pada bidang studi yang dibawah KKM oleh guru mapel.
2.        Para guru beserta konselor sekolah bekerja sama untuk berusaha menciptakan suasana kondusif di dalam kelas yang mendukung kenyamanan proses belajar mengajar di dalam kelas.

3.        Konselor dapat memberikan layanan baik individual, kelompok, dan klasikal. Untuk layanan individual bisa dilakukan dengan konseling individual untuk menemukan jalan keluar masalah siswa yang bersagkutan, untuk kelompok guru BK bisa mengadakan bimbingan dan konseling kelompok. Layanan klasikal yang diberikan bisa berupa pelaksanaan RPL tentang manajemen waktu, motivasi belajar, dan konsentrasi belajar.

1 komentar:

silahkan tinggalkan pesan. saya harap kita bisa berteman. semoga blog ini bermanfaat, amin : )