LAPORAN HASIL DIAGNOSIS
KESULITAN BELAJAR
Laporan
Disusun untuk memenuhi tugas
akhir mata kuliah Praktik Bimbingan dan Konseling Belajar
Dosen Pembimbing : Dra.
Ninik Setyowani, M.Pd.
Muslikah, S.Pd M.Pd
Oleh
PutriDeshea
M.H 1301413076
JURUSAN BIMBINGAN
KONSELING
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI
SEMARANG
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Perkembangan peserta didik berbeda – beda. Banyak hal yang
menyebabkan perkembangan peserta didik berbeda bisa meliputi genetik meliputi
kecerdasan dan bakat , aspek psikologi bisa meliputi motivasi belajar, lingkungan meliputi lingkungan keluarga,
lingkungan masyarakat, dan lingkungan pendidikan.
Perkembangan peserta didik yang berbeda membuat seorang guru
maupun konselor harus dapat memahami siswanya dengan sebaik – sebaiknya
karena tidak semua siswa sama. Begitupun
kesulitan belajar setiap siswa pasti memiliki tingkat kesulitan belajar yang
berbeda – beda dari segi penyebab maupun tingkatan. Seorang pendidik harus
dapat memahami siswanya agar pendidik dapat memberikan layanan terbaik kepada
siswa sesuai potensi yang dimilikinya.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa penyebab kesulitan belajar siswa ?
2.
Penanganan apa
yang dapat diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar ?
1.3
Tujuan dan Manfaat
1.3.1
Tujuan kegiatan
1.
Kegiatan ini bertujuan untuk menemukan kesulitan
belajar yang dialami siswa
2.
Kegiatan ini bertujuan untuk menemukan penyebab
kesulitan belajar siswa dan menemukan cara efektif untuk membantu mengatasi
kesulitan belajar siswa.
3.
Membantu peserta didik mengembangkan potensi peserta
didik
1.3.2
Manfaat
Peneliti berharap laporan
ini bermanfaat bagi pendidik, masyarakat, dan peserta didik ,dengan adanya
kegiatan diagnosis kesulitan belajar diharapkan memberi manfaat bagi kemajuan
pendidikan di Indonesia.
1.4
Waktu dan Tempat

A.
PROFIL SEKOLAH SMP N 13 SEMARANG
NSS : 201036304013
NPSN : 20328824
Jl. Lamongan Raya
Sampangan - Semarang
Telpon :
TU (024) 831 6241
KS (024) 8508713
Fax. (024) 831 6241
www.smpn13smg.sch.id
E-mail :
sekretariat@smpn13smg.sch.id
smpn13smg@gmail.com
Twitter : www.twitter.com/SMAN13Semarang
NPSN : 20328824
Jl. Lamongan Raya
Sampangan - Semarang
Telpon :
TU (024) 831 6241
KS (024) 8508713
Fax. (024) 831 6241
www.smpn13smg.sch.id
E-mail :
sekretariat@smpn13smg.sch.id
smpn13smg@gmail.com
Twitter : www.twitter.com/SMAN13Semarang
B. VISI SEKOLAH
Unggul dalam prestasi,berbudi pekerti luhur berdasarkan iman dan taqwa
Indikator:
Unggul dalam:
1. Pencapaian standar kompetensi lulusan
2. Pengembangan standar isi / kurikulum
3. Pengembangan standar proses pembelajaran
4. Pengembangan standar pendidik dan tenaga kependidikan
5. Pengembangan standar sarana dan prasarana
6. Pengembangan standar pengelolaan
7. Pengembangan standar pembiayaan
8. Pengembangan standar penilaian
C. MISI SEKOLAH
Unggul dalam:
1. Pencapaian standar kompetensi lulusan
2. Pengembangan standar isi / kurikulum
3. Pengembangan standar proses pembelajaran
4. Pengembangan standar pendidik dan tenaga kependidikan
5. Pengembangan standar sarana dan prasarana
6. Pengembangan standar pengelolaan
7. Pengembangan standar pembiayaan
8. Pengembangan standar penilaian
C. MISI SEKOLAH
1.
Meningkatkan standar kualitas lulusan agar menghasilkan output yang siap
berkompetensi
2.
Meningkatkan dan mengembangkan isi / kurikulum
3.
Meningkatkan layanan pembelajaran dan bimbingan secara kreatif dan inovatif
4.
Meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan
5. Mengembangkan tersedianya sarana pendidikan dan media pembelajaran yang efektif danefisien
6. Meningkatkan pengelolaan SDM yang mampu memberikan layanan pendidikan secaraprofesional dan bertanggungjawab
7.
Meningkatkan penggalangan sumber
dana pembiayaan pendidikan
8.
Mengembangkan sistem penilaian yang standar
D. BIMBINGAN DAN KONSELING
guru BK SMP N 13
Semarang berjumlah sekitar
Peran guru
bimbingan dan konseling
1.
Penyusunan program dan
pelaksanaan bimbingan dan konseling
2.
Koordinasi dengan wali
kelas dalam rangka mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tentang
kesulitan belajar
3.
Memberikan layanan dan
bimbingan kepada siswa agar lebih berprestasi dalam Kegiatan belajar
4.
Memberikan saran dan
pertimbangan kepada siswa dalam memperoleh gambaran tentang lanjutan pendidikan
dan lapangan pekerjaan yang sesuai
5.
Mengadakan penilaian
pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan
6.
Menyusun Satatistik hasil
penilaian B.K
7.
Melaksanakan kegiatan
analisis hasil evaluasi belajar
8.
Menyusun dan melaksanakan
program tindak lanjut Bimbingan dan Konseling
9.
Menyusun laporan
pelaksanaan Bimbingan dan Konseling
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Kesulitan Belajar
2.1.1 Definisi kesulitan
belajar
Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah bahasa
Inggris learning disability. Terjrmahan
tersebut kurang tepat karena learning artinya
belajar dan disability artinya
ketidakmampuan,sehingga terjemahan yang tepat adalah ketidakmampuan belajar. Kesulitan
belajar merupakan konsep multidisipliner yang digunakan di lapangan ilmu pendidikan,
psikologi,maupun ilmu kedokteran.
Kesulitan belajar pertama kali dikemukakakan oleh The United States Office Of Education (USOE)
pada tahun 1977 yang dikenal dengan Public
Law (PL) 94-142, yang hampir identik
dengan definisi yang dikemukakan oleh The Nation Advisory Comittee on Handicapped
Children pada tahun 1967. Definisi
tersebut dikutif oleh Hallahan,
Kauffman, dan Lyod (dalam Abdurahman.2003 : 6-7)
kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam
satu atau lebih dari proses psikologi dasar yang mencakup pemahaman dan
penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. gangguan tersebut mungkin menampakan
diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, mengeja
, atau berhitung. batasan tersebut mencakup kondisi kondisi seperti gangguan
perseptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. batasan
tersebut tidak mencakup anak- anak yang memiliki problema belajar yang penyebab
utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihaatan, pendengaran, atau
motorik, hambatan karena tunagrahita , karena gangguan emosional, atau karena
kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi.
Di Indonesia belum ada definisi khusus tentang kesulitan belajar.
Para guru umumnya memandang semua siswa yang memperoleh prestasi belajar rendah disebut siswa berkesulitan
belajar.
2.1.2 Klasifikasi Kesulitan Belajar
Secara garis besar besar kesulitan belajar diklasifikasikan
ke dalam dua kelompok, (1) kesulitan belajar yang berhubungan dengan
perkembangan (developmental learning
disabilities) dan (2) kesulitan belajar akademik ( academic learning disabilities). Kesulitan belajar yang
berhubungan dengan perkembangan mencakup gangguan motorik dan persepsi,
kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam
penyesuaian perilaku sosial. Kesulitan belajar akademik menunjuk pada adanya
kegagalan- kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapsitas
yang diharapkan. Kegagalan tersebut mencakup penuasaan ketrampilan dalam
membaca, menulis, dan matematika.
Mulyadi (2010:6-7) mengemukakan bahwa kesulitan belajar
mempunyai pengertian yang luas dan kedalamanya termasuk pengertian – pengertian
seperti
1.
Learning disorder
(ketergantungan
belajar)
Adalah keadaan dimana proses belajar seseorang
terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan. Pada dasarnya orang yang mengalami gangguan bela-jar,
prestasi belajarnya tidak terganggu akan tetapi proses belajarnya akan
terganggu atau terhambat oleh adanya respon – resppon yang bertentangan.
De-ngan demikian hasil belajar yang dicapai akan lebih rendah dari potensi yang
dimiliki( Rosyidan,1998).
2.
Learning disabilities
(ketidakmampuan
belajar)
Adalah ketidakmampuan seseorag murid yang mengacu
kepada gejala dimana murid tidak mampu
belajar (menghindari belajar) sehingga hasil belajar di bawah potensi
intelektualnya.
3.
Learning disfunction
(ketidakfungsian
belajar)
Menunjukan gejala di mana proses belajar tidak
berfungsi dengan baik meskipun pada dasarnyatidak ada tanda – tanda
subnormalitas mental, gangguan alat indra atau gangguan psikologis lainnya.
4.
Under achiever ( pencapaian
rendah)
mengacu pada murid – murid yang memiliki tingkat potensi
intelektual di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.
5.
Slow learner ( lambat
belajar)
adalah murid yag lambat dalam proses belajarnya sehingga
membutuhkan waktu dibandingkan dengan murid – murid yang lain yang memiliki
taraf potensi intelektual yang sama.
2.1.3 Penyebab Kesulitan
Belajar
Prestasi belajar menurut Mulyono dipengaruhi oleh dua
faktor yaitu internal dan eksternal. Penyebab utama kesulitan belajar adalah
faktor internal , yaitu antara lain
ke-mungkinan adanya disfungsi neurologis, sedangkan penyebab utama problema
belajar adalah faktor eksternal , yaitu antara lain berupa strategi
pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar anak, dan
pemberian ulangan penguatan yang tidak tepat.
Koestor (dalam Mulyadi. 2010 : 30) dalam mengidentifikasikan kemung-kinan sebab
kesulitan belajar dapat dikelompokan menjadi empat kategori yaitu :
1.
kondisi- kondisi fisiologis yang permanen
kemungkinan sebab kesulitan belajar karena kondisi – kondisi
fisiologis yang permanen meliputi:
a.
intelegensi yang terbatas
b.
hambatan persepsi
c.
hambatan penglihatan dan pendengaran
2.
kondisi- kondisi fisiologis yang temporer
a. masalah makanan
b. kecanduan
c. kecapaian /
kelelahan
3.
pengaruh – pengaruh lingkungan sosial yang permanen
a.
harapan orang tua terlalu tinggi, tidak sesuai
kemampuan anak
b.
konflik keluarga
4.
pengaruh – pengaruh lingkungan sosial yang temporer
a.
ada bagian bagian dalam urutan belajar yang belum
dipahami
b.
kurang adanya motivasi
2.1.4 Ciri – Ciri Kesulitan
Belajar
Dalam proses belajar, guru sering
menghadapi masalah adanya murid yang tidak dapat mengikuti pelajaran dengan
lancar. Dengan kata lain guru sering menghadapi siswa-siswa yang mengalami
kesulitan belajar. Biasanya masalah yang dihadapi para guru di sekolah adalah
gejala atau manifestasi adanya kesulitan belajar yang ditampakkan dalam
bentuk-bentuk tingkah laku tertentu. Beberapa ciri tingkah laku yang merupakan
pernyataan manifestasi gejala kesulitan belajar menurut Mohammad Surya (1992:
86) adalah sebagai berikut:
1.
Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah
rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau dibawah potensi yang
dimilikinya.
2.
Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang
telah dilakukan. Mungkin ada murid yang selalu berusaha untuk belajar dengan
giat tapi nilai yang dicapai selalu rendah.
3.
Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar.
Ia selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai
dengan waktu yang tersedia. Misalnya rata-rata anak dapat menyelesaikan suatu
tugas dalam waktu 40 menit, maka anak yang menghadapi kesulitan belajar
akan memerlukan waktu yang lebih lama.
4.
Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, seperti
acuh tak acuh, menentang dan sebagainya.
5.
Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan, seperti
datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau
di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan
belajar, mengasingkan diri, tersisihkan, tidak mau bekerja sama, dan
sebagainya.
6.
Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar,
seperti pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam
menghadapi situasi tertentu, misalnya dalam menghadapi nilai rendh tidak
menunjukkan adanya perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Pendapat di atas sesuai dengan yang
diungkapkan Kirk (Effendi Kusno, 1987: 57) bahwa ada empat perilaku yang
berkaitan dengan kesulitan belajar antara lain:
1.
Siswa lamban disemua bidang yang diikuti, dimana siswa
mengalami ketertinggalan dalam mata pelajaran yang diikutinya, serta tertinggal
oleh kawan-kawannya. Ia kesulitan menerima kesan yang disampaikan oleh gurunya
dan selalu terlambat dalam menyelesaikn tugas-tugas yang mesti dikerjakan.
2.
Ketidakmampuan dalam bidang-bidang khusus, ditandai
oleh ketidakmampuan siswa dalam bidang tertentu, misalnya siswa selalu sulit
untuk memahami isi bacaan, sulit untuk menguraikan bagan-bagan atau yang
lainnya.
3.
Kesulitan akademik dalam kaitannya dengan kekacauan
tingkah laku, ditandai dengan tingkah laku siswa yang sulit diatur, senang
membuat gaduh, malas mencatat, ingin selalu berpindah-pindah tempat duduk
ketika pelajaran berlangsung dan gejala lain yang mengarah kepada behaviorial
disorder.
4.
Masalah yang berhubungan dengan motivasi, ditandai
dengan kurang bergairah untuk mengikuti pelajaran, tidak ada minat berdiskusi,
dan lalai mengerjakan tugas.
Dari hasil studi tentang hubungan antara
ciri – ciri kepribadian dengan presta-si belajar menyatakan bahwa murid yang
tergolong pencapaian rendah menunju-kan ciri – ciri sebagai berikut :
1. lebih banyak
megalami kecemasan dan kurang mampu mengontrol diri terhadap kecemasan.
2. kurang mampu
menyesuikan diri dan kurang kepercayaan diri.
3. kurang mampu
mengikuti otoritas.
4. kurang mampu
dalam penerimaan sosial.
5. lebih banyak
mengalami konflik ketergantungan.
6. kegiatanya
kurang berorientasi pada akademik dan sosial. ( Rosyidan,1998)
2.2 Diagnosis Kesulitan Belajar
2.2.1 Definisi
Menurut Mulyadi (2010:1) diagnosis
diartikan sebagai usaha - usaha untuk
mendeteksi, meneliti sebab – sebab , jenis – jenis, sifat – sifat dari
kesulitan bela-jar seorang murid. Adapun landasan pemikiran perlunya diagnosis
dan pemecahan kesulitan belajar bagi murid- murid sebagai berikut :
1.
Setiap murid hendaknya mendapat kesempatan dan
pelayanan untuk berkem-bang secara optimal sesuai kemampuan, kecerdasan, bakat,
dan minatnya.
2.
Adanya perbedaan – perbedaan kemampuan, kecerdasan,
bakat , minat, dan latar belakang fisik
serta sosial masing – masing murid .
3.
Sistem pengajaran di sekolah seharusnya memberikan
kesempatan kepada murid untuk maju sesuai kemapuan sendiri.
4.
Untuk menghadapi hal tersebut di atas para guru,
konselor perlu dilengkapi dengan pengetahuan , sikap,dan ketrampilan dalam hal
pengidentifikasian kesulitan belajar, sebab – sebab, dan pelayanan remedialnya.
2.2.2 Prosedur Diagnosis
Kesulitan Belajar
1.
Pengumpulan data.
Dalam melakukan pengumpulan data harus dilakukan
menggunakan beberapa metode yaitu observasi, kunjungab rumah,case study. Case
history,daftar pribadi, meneliti pekerjaan anak, tugas kelompok,dan
melaksanakan tes. Semua metode tersebut tidak semua harus dilaksanakan
tergantung dengan masalahnya.
2.
Pengolahan data
Langkah yang dapat dilakukan untuk mengolah data
adalah dengan identifikasi kasus, membandingkan antar-kasus, membandingkan
dengan hasil tes, dan menarik kesimpulan.
3.
Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan mengenai hasil dari
pengolahan data. Diagnosis dapat berupa keputusan mengenai jenis kesulitan
belajar anak, keputusan mengenai faktor yang menyebabkan kesulitan belajar,
keputusan mengenai faktor utama penyebab kesulitan belajar.
4.
Prognosis
Prognosis adalah ramalan atau aktivitas penyusunan
rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan
belajar anak didik yang berupa bahan yang diperlukan, metode, alat bantu dll.
5.
Treatment (perlakuan)
Perlakuan adalah pemberian bantuan kepada anak yang
ersangkutan sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis.
Treatment dapat berupa bimbingan belajar kelompok dan individual, remedial,
bimbingan pribadi mengatasi masalah psikologis dan bimbingan orang tua.
6.
Evaluasi
Evaluasi adalah untuk mengetahui apakah treatment yang
diberikan dapat berhasil dengan baik. Untuk mengecek dapat dilakukan dengan
re-ceking data, re-diagnosis, re-prognosis, re-teratment, dan re-evaluasi.
BAB III
METODE
3.1
Metode yang digunakan
Metode yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah
dengan melakukan analisis legger atau
siswa, wawancara terhadap guru BK, teman, wali kelas, guru mapel, orang tua
siswa dan wawancara siswa yang bersangkutan serta observasi di kelas.
3.1.1 Wawancara
Wawancara atau disebut juga dengan interviu adalah
teknik pengumpulan data dengan cara tanya-jawab lisan yang dilakukan secara
sistematis guna mencapai tujuan penelitian. Wawancara biasanya dilakukan oleh
dua orang atau lebih, satu pihak berperan sebagai interviewer dan pihak lain
berperan sebagai interviewee atau yang diwawancarai. Dalam wawancara dibagi
menjadi dua jenis yaitu : wawancara terstruktur dan wawancara tidak
terstruktur. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan apabila
peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan
diperoleh. Jadi dalam wawancara terstruktur peneliti telah menyiapkan
instrument penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan. Sedangkan wawancara tidak
terstruktur adalah wawancara yang dilakukan secara bebas dimana peneliti belum
mengetahui hal yang akan diteliti sehingga peneliti hanya membawa catatan kecil
mengenai garis besar hal yang akan diteliti.
3.1.2 Legger
Legger
adalah catatan atau data yang berisi nilai siswa atau peserta didik.
Legger yang saya analisis adalah nilai
UTS siswa kelas IX A angkatan 2014/2015 di SMPN 13 Semarang. Observasi yang saya lakukan
digunakan un-tuk mengetahui keaktifan siswa saat KBM berlangsung.
PEDOMAN
OBSERVASI
Variabel
Penelitian : Tingkat
Keaktifan Siswa dalam Proses KBM
Tujuan
Observasi : Untuk mengetahui
tingkat keaktifan siswa dalam proses KBM
Komponen :
Aktivitas, Kebiasaan atau TingkahLaku
Observer :
Observee : Siswa SMP /
SMA
Observasike : 1/2/3/4 (lingkari
yang sesuai)
Pelaksanaan
observasi :
1.
Hari/tanggal :
2.
Jam :
3.
Nama sekolah :
4.
Alamat sekolah :
NO
|
VARIABEL
|
INDIKATOR
|
DESKRIPTOR
|
NO ITEM
|
1.
|
|
Visual
Activities
|
a. Memperhatikan di kelas
b. Membacabuku
|
|
2.
|
|
Oral
Activities
|
a. Bertanya di dalamkelas
b. Memberi saran
c. Menyampaikanpendapat
d. Berdiskusi
|
|
3.
|
|
Listening
Activities
|
Mendengarkan guru
|
|
4.
|
|
Writing
Activities
|
Mencatat pelajaran
|
|
5.
|
|
Drawing
Activities
|
a. Menggambar
b. Membuat grafik / diagram
|
|
6.
|
|
Motor
Activities
|
a. Melakukakn percobaan / praktikum
b. Bermain
|
|
7.
|
|
Mental
Activities
|
a. Menanggapi dalam diskusi
b. Memecahkan soal (membuat tugas)
|
|
8.
|
|
Emotional
Activities
|
a. Semangat dalam pembelajaran
b. Merasakan bosan dalam pembelajaran
|
|
PEDOMAN
WAWANCARA GURU BK
A. Tujuan wawancara : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam
proses KBM
B.
Interviewer :
C.
Interviwee :
D.
Pelaksanaan wawancara :
1.
Hari/tanggal :
2.
Jam :
E.
Berikut ini adalah daftar pertanyaan :
1.
Apakah A sering datang keruang BK untuk mengkonsultasikan hasil belajarnya?
2.
Bagaimana hubungan A dengan guru – guru ?
3.
Apakah si A sering bermasalah di sekolah
4.
Bagaimana hubungan siswa tersebut dengan teman –
temannya ?
5.
Bagaimana prestasi siswa tersebut ?
6.
Bagaimana perilaku siswa tersebut dalam lingkungan sekolah
?
7.
Dalam mengikuti pembelajaran, adakah masalah yang
dihadapi siswa tersebut ?
8.
Apakah Guru BK member layanan tertentu untuk membantu
mengatasi kesulitan belajar siswa ?
9.
Apakah orang tua sering dilibatkan dalam hal ini ?
10. Untuk mengatasi hal
ini, apakah Guru BK berkolaborasi dengan pihak lain untuk menentukan solusi
yang tepat ?
PEDOMAN
WAWANCARA WALI KELAS
1.
Bagaimana perkembangan belajar siswa A dan siswa B?
2.
Bagaimana keaktifan siswa A dan siswa B dalam mengikuti
pelajaran?
3.
Bagaimana reaksi Anda ketika menerima hasil nilai si A
dan si B dari guru mata pe-lajaran?
4.
Apakah anda sering mendiskusikan hasil nilai siswa A
kepada guru mapel dan guru BK ?
5.
Bagaimana reaksi orang tua siswa A dan siswa B ketika
menerima hasil nilai rapor si A dansi B?
6.
Apakah Anda pernah memberi saran kepada orang tua
siswa A dan siswa B terkait hasil raport mereka?
7.
Apakah Anda pernah mengkomunikasikan hasil nilai siswa
kepada orang tua siswa A dan siswa B terkait hasil raport mereka?
8.
Bagaimana lingkungan pergaulan siswa A dan siswa B
ketika di sekolah?
9.
Bagaimana reaksi siswa A dan siswa B ketika anda
memberikan evaluasi di kelas? (evaluasi mengenai kegiatan kelas atau hasil
nilai siswa)
10. Apakah siswa A
dan B pernah bertanya kepada Anda mengenai hasil nilai akhir yang mereka
dapatkan?
11. Bagaimana
perilakusi A dansi B saat pembelaran di kelas menurut Anda ?
12. Apakah orang tua
si A dan si B sering berkominikasi dengan Anda menanyakan perkembangan anaknya
di sekolah ?
13. Menurut Anda apa
yang menyebabkan siswa A dan siswa B mengalami penurunan prestasi nilai
akademik?
PEDOMAN
WAWANCARA UNTUK TEMAN
1. Bagaimana perilaku
teman Anda ketika di kelas ?
2. Bagaimana perilaku
teman Anda saat kegiatan diskusi atau Tanya jawab ?
3. Apakah teman Anda
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler atau organisasi ?
4. Apakah teman Anda
rajin mengerjakan tugas yang diberikan oleh Guru ?
5. Apakah teman Anda
bersemangat mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas ?
6. Apakah teman Anda
rajin mencatat pelajaran ?
7. Menurut anda
mata pelajaran apa yang paling teman anda sukai ? mengapa
8. Menurut anda
mata pelajaran apa yang paling tidak disukai teman anda ? mengapa
9. Apakah teman Anda
memperhatikan saat proses KBM ?
10. Apakah teman Anda
senang apabila mengikuti pelajaran yang berhubungan dengan menggambar ?
11. Apakah teman Anda
suka mata pelajaran praktek seperti olahraga, atau yang lainnya ?
12. Apakah teman Anda
aktif bertanya dalam kelas ?
PEDOMAN WAWANCARA SISWA
A. Tujuan wawancara : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam
proses KBM
B.
Interviewer :
C.
Interviwee :
D.
Pelaksanaan wawancara :
3.
Hari/tanggal :
4.
Jam :
E.
Berikut ini adalah daftar pertanyaan :
1.
Apa yang sering kamu lakukan ketika proses pembelajaran
di kelas ?
2.
Mata pelajaran apa yang kamu sukai ?mengapa ?
3.
Bagaimana hasil nilai mata pelajaran yang kamu sukai ?
4.
Mata pelajaran apa yang tidak kamu sukai ?Mengapa ?
5.
Bagaimana hasil nilai mata pelajaran yang tidak kamu sukai
?
6.
Apa yang kamu lakukan ketika mengikuti mata pelajaran
yang tidak kamu sukai ?
7.
Apakah kamu merasa nyaman ketika proses pembelajaran
di kelas?Mengapa ?
8.
Bagaimana pendapat kamu tentang teman – teman sekelasmu
?
9.
Adakah kendala atau masalah ketika kamu berada di
kelas ?
10. Apakah kegiatan sekolah
(ekstrakurikuler, organisasi) mengganggu proses belajar kamu ?Mengapa ?
11. Apa yang kamu lakukan
saat diskusi dalam kelas ?
12.
Apakah catatan pelajaran kamu lengka ?
13. Apakah kamu sering
mengerjakan tugas yang diberikan guru ?
14. Apakah alat
tulis yang kamu bawa lengkap ?
PEDOMAN WAWANCARA ORANG
TUA SISWA
A. Tujuanwawancara : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa
dalam proses KBM
B.
Interviewer :
C.
Interviwee :
D.
Pelaksanaan wawancara :
5.
Hari/tanggal :
6.
Jam :
7.
Kondisi subyek saat interview dilakukan :
E.
Berikut ini adalah daftar pertanyaan :
1.
Bagaimana perkembangan belajar siswa bersangkutan?
2.
Jam berapa biasanya siswa yang bersangkutan pulang ke
rumah ?
3.
Pada jam berapaa siswa yang bersangkutan belajar ?
4.
Pernahkah keluarga membicarakan mengenai keadaan di
sekolah ?
5.
Seberapa sering keluarga menjalin komunikasi ?
6.
Media atau fasilitas apa yang diberikan untuk hiburan
ataupun komunikasi ?
7.
Bagaimana kondisi lingkungan di sekitar rumah ?
8.
Bagaimana menurut Anda mengenai tingkah laku siswa
bersangkutan di rumah ?
9.
Upaya apa yang keluarga lakukan untuk meningkatkan
prestasi belajar siswa bersangkutan?
10. Apa yang sering
anak andalakukan sepulang sekolah ?
11. Bagaimana
pergaulan anak anda dirumah ?
12.
Apakah anak anda aktif dalam kegiatan ,komunitas, atau
organisasi teretntu sepulang sekolah ?
PEDOMAN WAWANCARA GURU
MAPEL
F. Tujuan wawancara : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam
proses KBM
G.
Interviewer :
H.
Interviwee :
I.
Pelaksanaan wawancara :
8.
Hari/tanggal :
9.
Jam :
10. Kondisi subyek saat
interview dilakukan :
J.
Berikut ini adalah daftar pertanyaan :
1.
Bagaiamana perilaku siswa dalam KBM?
2.
Bagaimana kesan anda mengenai siswa tersebut ?
3.
Apakah siswa dalam KBM juga aktif dalam membaca buku ?
4.
Apakah siswa dalam kegiatan KBM aktif bertanya ?
5.
Apakah siswa dalam kegiatan KBM aktif dalam memberikan
sanggahan, saran atau kritikan ?
6.
Dalam kegiatan diskusi di kelas, apakah siswa ikut aktif
bertanya maupun menanggapi ?
7.
Apakah dalam KBM siswa juga mencatat tentang materi
yang disampaikan ?
8.
Apakah siswa aktif dalam membuat dan melaporkan tugas
yang diberikan ?
9.
Bagaimana menurut Anda mengenai keaktifan siswa dalam
proses belajar mengajar ?
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
KASUS KESULITAN BELAJAR
4.1
Identifikasi Masalah
4.1.1 Identitas Siswa
Siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar adalah
saudara ACM dan MS.
Saudara ACM diketahui
bahwa ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai staf
TU di UNISBANK ayahnya bekerja dari pukul 07.00 sampai pukul 17.00, sedangkan
ibunya bekerja menjaga ruko sampai larut malam. Seplang sekolah ia membantu
ibunya menjaga ruko, sepertinya saudara ACM memiliki masalah insomnia hal ini
diketahui dari pernyataan yang mengungkapkan bahwa ia tidur minimal pukul 22.00
atau 23.00.
Setelah
melakukan wawancara dengan saudara MS diketahui adalah anak ke tujuh dari tujuh
bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh bahwa ia dan ibunya bekerja sebagai
ibu rumah tangga yang sibuk mengurus cucu
dari anak -anaknya. Sepulang sekolah ia menghabiskan waktu untuk bermain
dan membantu ibunya merawat keponakanya (anak dari kakaknya). Dari penuturan
guru BK diketahui bahwa ia termasuk siswa yang kurang mampu daris segi ekonomi.
Diketahui pula bahwa saudara MS juga mengalami kesulitan tidur seperti halnya
saudara ACM. Saudara MS tidur sekitar pukul 11 malam dan bangun pukul 04.30
pagi. Saudara MS ke sekolah naik sepeda motor , waktu yang ditempuh dari rumah
ke sekolah dengan sepeda motor sekitar 30 menit. Ia menitipkan sepedanya ke
rumah kakaknya yang kurang lebih berjarak 1 km dari sekolah. Saudara MS juga
pernah menjuarai perlombaan olah raga bela diri karate tingkat kabupaten
Semarang.
4.1.2 Alasan Pemilihan Konseli
untuk menetukan siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan
belajar, saya meminta saran dari guru BK namun dikarenakan guru BK belum menganalisis legger siswa dan kurang
mengenal keadaan kelas IX A maka saya meminta saran dari wali kelas IX A yaitu
ibu Sri Suharni. beliau menyarankan saya mendalami siswa yang berinisial ACM
dan MS,dalam hal ini beliau memberikan saran atas dasar pertimbangan nilai UTS
serta pengamatan beliau sehari – hari saat mengajar serta laporan dari beberapa
guru.
4.2
Analisis
4.2.1Analisis hasil wawancara guru mapel
Untuk
kesulitan belajar yang dialami siswa ACM dan MS keduanya mengalami kesulitan
belajar di mata pelajaran bahasa inggris. Mata pelajaran bahasa inggris diampu
oleh ibu Emi Amalia.S,Pd. Saat melakukan wawancara ibu Emi mengatakan bahwa dia
baru saja mengenal saudara ACM dan MS dalam artian hafal nama mereka karena
mereka termasuk siswa yang tidak menonjol di dalam kelas.
Dari
hasil wawancara diketahui saudara ACM dan MS merupakan siswa yang minder , cuek
dan tidak aktif saat di kelas baik untuk bergaul dengan teman-teman dan juga
saat mengikuti kegiatan belajar mengajar khususnya di mata pelajaran bahasa
inggris. Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung mereka tidak aktif dalam kegiatan
diskusi, tidak pernah aktif bertanya untuk menanyakan materi pelajaran yang kurang paham, mereka juga
tidak pernah memberikan sanggahan atau kritikan terhadap kegiatan belajar
mengajar yang berlasung. Mereka juga jarang mencatat materi yang disampaikan.
Mereka juga sering tidak mengumpulkan pekerjaan rumah yang diberikan, tetapi
untuk tugas di kelas yang langsung dikmpulkan mereka membuatnya walau terkadang
itu merupakan hasil dari mencontek teman sekelasnya.
Menurut
ibu Emi saudara ACM termasuk siswa yang
pendiam dan tidak aktif di kelas. Saudara MS menurut ibu Emi adalah siswa yang
pendiam, tidak aktif di kelas, cuek , tidak memperhatikan saat dikelas justru
dikelas sering menggambar saat pelajaran, sering mela-mun, sering tidak masuk
tanpa keterangan, sering tidur di kelas.
4.1.2 Wawancara wali kelas
Saat
saya bertanya tentang kesulitan belajar kelas IX A saya menanyakannya kepada
wali kelas karena untuk guru BK sendiri kurang mengenal keadaan kelas IXA. Dari
hasil wawancara dengan wali kelas yang bernama ibu Sri Suharni. S,Pd yang
menjadi guru bahasa jawa kelas IX A, beliau menyarankan anak yang bernama ACM
dan MS. Dari hasil wawancara dengan ibu Sri Suharni diketahui perkembangan
belajar ACM dan MS tergolong lambat atau
kurang hal ini terlihat dari nilai UTS siswa. Menurut ibu Sri Suharni mereka
tidak memperhatikan di kelas dan kurang semangat untuk mengikuti kegiatan KBM
khususnya untuk mata pelajarannya yaitu bahasa jawa.
Saudara
ACM dan MS termasuk siswa yang tidak aktif di kelas mereka termasuk siswa yang
pendiam di kelas. Menurut ibu Sri
perilaku saudara MS di kelas saat mengkuti mata pelajaranya seringnya adalah
tidak membawa buku baik buku catatan, buku tulis ataupun buku paket, tidak mau
memperhatikan, sering tidak masuk tanpa alasan, seing telat, kurang semangat
dan sering tidur di kelas. Untuk saudara ACM tingkah lakunya di kelas seringnya
tidur , terlihat tidak semangat mengikuti mata pelajaran.
Untuk
pergaulan saudara ACM dan MS ibu Sri berpendapat bahwa saudara ACM termasuk
siswa pendiam yang kurang bersosialisasi dengan teman sekelasnya tetapi dia
masih dapat bergaul dengan baik dengan teman sekelasnya. Tetapi untuk saudara
MS termasuk siswa yang tertutup ia tidak membuka diri dengan teman sekelasnya.
Ibu
sri Suharni termasuk wali kelas yang perhatian terhadap perkembangan belajar
siswanya. Sebagai wali kelas ibu Sri sering mengkomunikasikan nilai siswa
khususnya ACM dan MS kepada guru BK. Ibu Sri Suharni juga sering
mengadakan komunikasi dengan orang tua
siswa dan siswa yang bersangkutan mengenai nilai-.nilai siswa. Ibu Sri juga
sesekali mengadakan kunjungan rumah terhadap siswanya yang tidak masuk tanpa
keterangan. Menurut hasil wawancara ibu Sri kepada orang tua diketahui bahwa
saudara MS bergaul dengan teman yang kurang baik di luar sekolah. Orang tua MS
menyatakan bahwa mereka sadar anak mereka kurang pintar, dan kurang
memperhatikan di kelas.
Menurutnya
penyebab kurangnya prestasi akademik saudara ACM dan MS adalah kurangya
semangat belajar. Menurutnya perkembangan saudara MS sudah lebih baik dari
kelas VIII karena intensitas bolos atau tidak masuk tanpa keterangan telah
berkurang. Prestasi akademik saudara ACM juga mengalami peningkatan walau tidk
signifikan.
4.1.3 Hasil analisis wawancara guru BK
Dari
hasil wawancara diketahui bahwa guru BK kelas IX A yaitu ibu Ninik Budi Setyani
kurang mengenal pribadi masing – masing siswa. Dari hasil wawancara Ibu Ninik
tidak memberikan banyak informasi karena kelihatanya ia tidak mengenal baik
saudara ACM dan MS. Tetapi beliau mengatakan bahwa saudara MS merupakan siswa
yang kurang mampu dar segi finansial.
Dari
hasil wawancara diketahui saudara MS dan ACM termasuk siswa yang tidak
bermasalah di sekolah, Saudara MS dan ACM
bukan termasuk siswa yang memiliki hubungan baik dengan guru – guru,
menurutnya prestasi akademik ACM dan MS kurang tetapi untuk saudara MS pernah
mendapatkan juara di bidang olahraga bela diri karate. Guru BK juga belum
pernah mengadakan komunikasi langsung kepada orang tua siswa dan juga belum
pernah memberikan layanan khusus untuk membantu mengatsi kesulitan belajar
siswa.
4.1.4 Hasil analisis wawancara teman
Dari
hasil wawancara teman yang bernama Muhammad Fauzan Ardiansyah, ia adalah teman
sebangku ACM di kelas. Dari hasil wawancara diketahui bahwa saudara Fauzan
tidak mengenal baik saudara ACM dan MS. Hal ini terlihat dari pernyataanya yang
tidak tahu alamat rumah saudara ACM dan MS, tidak tahu mata pelajaran yang
disukai dan dibenci ACM dan MS.
Menurutnya
saudara ACM dan MS adalah teman yang pendiam, kurang aktif di kelas, kurang
rajin dalam mengerjakan tugas, semangat dalam mengikuti proses pembelajaran di
kelas, rajin dalam mencatat pembelajaran dan kurang rajin dalam mengerjakan
tugas, selalu memperhatikan saat KBM, dan selalu semangat dalam kegiatan
pemebelajaran. Tetapi saudara Fauzan tahu
kalau saudara ACM dan MS bahwa mereka menyukai mata pelajaran olahraga.
Dari
informasi yang diberikan terlihat bahwa terdapat perbedaan informasi yang
disampaikan oleh saudara Fauzan dan guru – guru. Hal ini kemungkinan disebabkan
saudara Fauzan ingin menutupi kesalahan atau keburukan temanya atau justru
selama ini para guru memiliki paradigma buruk terhadap saudara ACM dan MS.
4.1.5 Analisis wawancara ACM
hasil wawancara
saudara ACM mengungkapkan bahwa ia tidak bisa membagi waktunya dengan baik ia
terlalu sibuk dan lelah karena membantu ibunya menjaga ruko. Ia kemungkinan
juga kurang mendapat perhatian dari orang tuanya karena ayahnya yang bekerja
dari pagi yaitu pukul 07.00 – 17.00 dan
juga ibunya yang sibuk menjaga ruko serta menjaga adiknya yang masih berumur 3
tahun. Kemungkinan inilah penyebab kenapa ACM kurang bersemangat di kelas dan
jarang mengerjakan PR nya.
Dari hasl wawancara
Saudara ACM mengungkapkan bahwa ia menyukai
mata pelajaran bahasa inggris, olahraga, IPA, dan IPS. Untuk nilai mata
pelajaran yang ia sukai kebanyakan mendapat nilai bagus tetapi untuk mata
pelajaran bahas inggris ia mendapat nilai kurang di bawah KKM, menurutnya hal
ini disebabkan cara mengajar guru bahasa inggrisnya yang tidak sesuai dengan
denganya. Saudara ACM menyatakan dia tidak menyukai mata pelajaran matematika,
TIK, bahasa jawa, PKN. Untuk nilai mata pelajaran yang tidak disukainya
kebanyakan mendapat nilai di bawah KKM kecuali untuk mata pelajaran PKN yang
mendapat nilai di atas KKM.
Menurut
saudara ACM dia selalu membawa buku catatan, buku pelajaran, buku tulis saat ke
sekolah hal ini jelas berbeda dengan pendapat Ibu Emi dan ibu Sri yang
menyatakan bahwa ACM sering lupa tidak membawa buku. Saudara ACM menyatakan
merasa nyaman dengan keadaan sekelas menurutnya teman sekelasnya adalah teman
yang seru, asik, dan lucu. Saudara ACM tidak mengikuti kegiatan organisasi atau
ekstrakulikuler tertentu di kelas walaupun ia tidak terlalu terbuka dengan
teman sekelasnya.
4.1.6 Analisis hasil wawancara saudara MS
Setelah
melakukan wawancara dengan saudara MS diketahui bahwa ia adalah anak ke tujuh
dari tujuh bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh dan ibunya bekerja sebagai
ibu rumah tangga yang sibuk mengurus cucu
dari anak -anaknya. Sepulang sekolah ia menghabiskan waktu untuk bermain
dan membantu ibunya merawat keponakanya (anak dari kakaknya). Sama dengan
saudara ACM ia juga mengalami masalah tidur ia terbiasa tidur pukul 11 malam.
Ia juga jarang sekali belajar di rumah dan jarang mengerjakan PR nya paling dia
nanti mencontek teman sekelasnya. hal inilah yang kemungkinan menyebabkan ia
sering tertidur di kelas.
Saat
proses pembelajaran di kelas dia menyatakan bahwa ia kurang bersemangat dan kurang berkonsemtrasi saat mengikuti
kegiatan pembelajaran. Ia lebih suka menggambar di dalam kelas atau tertidur di
dalam kelas. Saudara MS menyatakan bahwa ia menyukai mata pelajaran IPS dan
Olahraga. Tetapi untuk mata pelajaran IPS ia mendapat nilai di bawah KKM, hal
ini disebabka ia kurang belajar. Menurutnya mata pelajaran IPS lebih mudah
dipahami. Saudara MS tidak menyukai mata pelajaran bahasa inggris dan
matematika hal ini disebabkan cara mengajar gurunya sulit dipahami.
Saudara
MS juga menyatakan bahwa ia tidak menyukai keadaan kelasnya yang ramai sehingga
kurang berkonsentrasi. Ia menjelaskan bahwa ia tidak terlalu terbuka dengan
teman sekeslanya sehingga ia lebih banyak diam. Dia juga cenderung diam di
kelas baik saat diskusi maupun kegiatan pembelajaran. MS diketahui adalah
serang atlet olahraga beladiri karate dia pernah mendapat juara 2 pertandingan
karate tingkat kabupaten.
4.2
Sintesis
Dari hasil pengumpulan data di lapangan diketahui bahwa
saudara ACM dan MS memiliki kemiripan atau kesamaan. Mereka tergolong siswa
yang minder di kelas baik dalam pergaulan dengan teman sekelas maupun saat
proses belajar mengajar mereka cenderung diam atau pasif, kurang aktif di
kelas, jarang mengerjakan PR , kurang semangat belajar baik di rumah atau di
sekolah, sering tertidur di kelas, sering tidur pukul 10 atau 11 malam , dan terlalu
sibuk membantu orang tua di rumah sepulang sekolah.
4.3
Diagnosis
Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai pihak kemungkinan
saudara ACM dan MS mengalami learning
disorder,yaitu keadaan dimana proses belajar mengajar terganggu karena
timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya orang yang mengalami
gangguan belajar prestasi belajarnya tidak terganggu akan tetapi proses
belajarnya yang terganggu atau terhambat karena respons yang bertentangan.
Untuk kasus ACM dan MS hal ini terlihat dari perilaku mereka yang minder di kelas baik
dalam pergaulan dengan teman sekelas maupun saat proses belajar mengajar mereka
cenderung diam atau pasif, kurang aktif di kelas, jarang mengerjakan PR ,
kurang semangat belajar baik di rumah atau di sekolah, sering tertidur di LAPORAN HASIL DIAGNOSIS
KESULITAN BELAJAR
Laporan
Disusun untuk memenuhi tugas
akhir mata kuliah Praktik Bimbingan dan Konseling Belajar
Dosen Pembimbing : Dra.
Ninik Setyowani, M.Pd.
Muslikah, S.Pd M.Pd
Oleh
PutriDeshea
M.H 1301413076
JURUSAN BIMBINGAN
KONSELING
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI
SEMARANG
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Perkembangan peserta didik berbeda – beda. Banyak hal yang
menyebabkan perkembangan peserta didik berbeda bisa meliputi genetik meliputi
kecerdasan dan bakat , aspek psikologi bisa meliputi motivasi belajar, lingkungan meliputi lingkungan keluarga,
lingkungan masyarakat, dan lingkungan pendidikan.
Perkembangan peserta didik yang berbeda membuat seorang guru
maupun konselor harus dapat memahami siswanya dengan sebaik – sebaiknya
karena tidak semua siswa sama. Begitupun
kesulitan belajar setiap siswa pasti memiliki tingkat kesulitan belajar yang
berbeda – beda dari segi penyebab maupun tingkatan. Seorang pendidik harus
dapat memahami siswanya agar pendidik dapat memberikan layanan terbaik kepada
siswa sesuai potensi yang dimilikinya.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa penyebab kesulitan belajar siswa ?
2.
Penanganan apa
yang dapat diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar ?
1.3
Tujuan dan Manfaat
1.3.1
Tujuan kegiatan
1.
Kegiatan ini bertujuan untuk menemukan kesulitan
belajar yang dialami siswa
2.
Kegiatan ini bertujuan untuk menemukan penyebab
kesulitan belajar siswa dan menemukan cara efektif untuk membantu mengatasi
kesulitan belajar siswa.
3.
Membantu peserta didik mengembangkan potensi peserta
didik
1.3.2
Manfaat
Peneliti berharap laporan
ini bermanfaat bagi pendidik, masyarakat, dan peserta didik ,dengan adanya
kegiatan diagnosis kesulitan belajar diharapkan memberi manfaat bagi kemajuan
pendidikan di Indonesia.
1.4
Waktu dan Tempat

A.
PROFIL SEKOLAH SMP N 13 SEMARANG
NSS : 201036304013
NPSN : 20328824
Jl. Lamongan Raya
Sampangan - Semarang
Telpon :
TU (024) 831 6241
KS (024) 8508713
Fax. (024) 831 6241
www.smpn13smg.sch.id
E-mail :
sekretariat@smpn13smg.sch.id
smpn13smg@gmail.com
Twitter : www.twitter.com/SMAN13Semarang
NPSN : 20328824
Jl. Lamongan Raya
Sampangan - Semarang
Telpon :
TU (024) 831 6241
KS (024) 8508713
Fax. (024) 831 6241
www.smpn13smg.sch.id
E-mail :
sekretariat@smpn13smg.sch.id
smpn13smg@gmail.com
Twitter : www.twitter.com/SMAN13Semarang
B. VISI SEKOLAH
Unggul dalam prestasi,berbudi pekerti luhur berdasarkan iman dan taqwa
Indikator:
Unggul dalam:
1. Pencapaian standar kompetensi lulusan
2. Pengembangan standar isi / kurikulum
3. Pengembangan standar proses pembelajaran
4. Pengembangan standar pendidik dan tenaga kependidikan
5. Pengembangan standar sarana dan prasarana
6. Pengembangan standar pengelolaan
7. Pengembangan standar pembiayaan
8. Pengembangan standar penilaian
C. MISI SEKOLAH
Unggul dalam:
1. Pencapaian standar kompetensi lulusan
2. Pengembangan standar isi / kurikulum
3. Pengembangan standar proses pembelajaran
4. Pengembangan standar pendidik dan tenaga kependidikan
5. Pengembangan standar sarana dan prasarana
6. Pengembangan standar pengelolaan
7. Pengembangan standar pembiayaan
8. Pengembangan standar penilaian
C. MISI SEKOLAH
1.
Meningkatkan standar kualitas lulusan agar menghasilkan output yang siap
berkompetensi
2.
Meningkatkan dan mengembangkan isi / kurikulum
3.
Meningkatkan layanan pembelajaran dan bimbingan secara kreatif dan inovatif
4.
Meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan
5. Mengembangkan tersedianya sarana pendidikan dan media pembelajaran yang efektif danefisien
6. Meningkatkan pengelolaan SDM yang mampu memberikan layanan pendidikan secaraprofesional dan bertanggungjawab
7.
Meningkatkan penggalangan sumber
dana pembiayaan pendidikan
8.
Mengembangkan sistem penilaian yang standar
D. BIMBINGAN DAN KONSELING
guru BK SMP N 13
Semarang berjumlah sekitar
Peran guru
bimbingan dan konseling
1.
Penyusunan program dan
pelaksanaan bimbingan dan konseling
2.
Koordinasi dengan wali
kelas dalam rangka mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tentang
kesulitan belajar
3.
Memberikan layanan dan
bimbingan kepada siswa agar lebih berprestasi dalam Kegiatan belajar
4.
Memberikan saran dan
pertimbangan kepada siswa dalam memperoleh gambaran tentang lanjutan pendidikan
dan lapangan pekerjaan yang sesuai
5.
Mengadakan penilaian
pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan
6.
Menyusun Satatistik hasil
penilaian B.K
7.
Melaksanakan kegiatan
analisis hasil evaluasi belajar
8.
Menyusun dan melaksanakan
program tindak lanjut Bimbingan dan Konseling
9.
Menyusun laporan
pelaksanaan Bimbingan dan Konseling
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Kesulitan Belajar
2.1.1 Definisi kesulitan
belajar
Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah bahasa
Inggris learning disability. Terjrmahan
tersebut kurang tepat karena learning artinya
belajar dan disability artinya
ketidakmampuan,sehingga terjemahan yang tepat adalah ketidakmampuan belajar. Kesulitan
belajar merupakan konsep multidisipliner yang digunakan di lapangan ilmu pendidikan,
psikologi,maupun ilmu kedokteran.
Kesulitan belajar pertama kali dikemukakakan oleh The United States Office Of Education (USOE)
pada tahun 1977 yang dikenal dengan Public
Law (PL) 94-142, yang hampir identik
dengan definisi yang dikemukakan oleh The Nation Advisory Comittee on Handicapped
Children pada tahun 1967. Definisi
tersebut dikutif oleh Hallahan,
Kauffman, dan Lyod (dalam Abdurahman.2003 : 6-7)
kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam
satu atau lebih dari proses psikologi dasar yang mencakup pemahaman dan
penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. gangguan tersebut mungkin menampakan
diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, mengeja
, atau berhitung. batasan tersebut mencakup kondisi kondisi seperti gangguan
perseptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. batasan
tersebut tidak mencakup anak- anak yang memiliki problema belajar yang penyebab
utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihaatan, pendengaran, atau
motorik, hambatan karena tunagrahita , karena gangguan emosional, atau karena
kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi.
Di Indonesia belum ada definisi khusus tentang kesulitan belajar.
Para guru umumnya memandang semua siswa yang memperoleh prestasi belajar rendah disebut siswa berkesulitan
belajar.
2.1.2 Klasifikasi Kesulitan Belajar
Secara garis besar besar kesulitan belajar diklasifikasikan
ke dalam dua kelompok, (1) kesulitan belajar yang berhubungan dengan
perkembangan (developmental learning
disabilities) dan (2) kesulitan belajar akademik ( academic learning disabilities). Kesulitan belajar yang
berhubungan dengan perkembangan mencakup gangguan motorik dan persepsi,
kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam
penyesuaian perilaku sosial. Kesulitan belajar akademik menunjuk pada adanya
kegagalan- kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapsitas
yang diharapkan. Kegagalan tersebut mencakup penuasaan ketrampilan dalam
membaca, menulis, dan matematika.
Mulyadi (2010:6-7) mengemukakan bahwa kesulitan belajar
mempunyai pengertian yang luas dan kedalamanya termasuk pengertian – pengertian
seperti
1.
Learning disorder
(ketergantungan
belajar)
Adalah keadaan dimana proses belajar seseorang
terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan. Pada dasarnya orang yang mengalami gangguan bela-jar,
prestasi belajarnya tidak terganggu akan tetapi proses belajarnya akan
terganggu atau terhambat oleh adanya respon – resppon yang bertentangan.
De-ngan demikian hasil belajar yang dicapai akan lebih rendah dari potensi yang
dimiliki( Rosyidan,1998).
2.
Learning disabilities
(ketidakmampuan
belajar)
Adalah ketidakmampuan seseorag murid yang mengacu
kepada gejala dimana murid tidak mampu
belajar (menghindari belajar) sehingga hasil belajar di bawah potensi
intelektualnya.
3.
Learning disfunction
(ketidakfungsian
belajar)
Menunjukan gejala di mana proses belajar tidak
berfungsi dengan baik meskipun pada dasarnyatidak ada tanda – tanda
subnormalitas mental, gangguan alat indra atau gangguan psikologis lainnya.
4.
Under achiever ( pencapaian
rendah)
mengacu pada murid – murid yang memiliki tingkat potensi
intelektual di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.
5.
Slow learner ( lambat
belajar)
adalah murid yag lambat dalam proses belajarnya sehingga
membutuhkan waktu dibandingkan dengan murid – murid yang lain yang memiliki
taraf potensi intelektual yang sama.
2.1.3 Penyebab Kesulitan
Belajar
Prestasi belajar menurut Mulyono dipengaruhi oleh dua
faktor yaitu internal dan eksternal. Penyebab utama kesulitan belajar adalah
faktor internal , yaitu antara lain
ke-mungkinan adanya disfungsi neurologis, sedangkan penyebab utama problema
belajar adalah faktor eksternal , yaitu antara lain berupa strategi
pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar anak, dan
pemberian ulangan penguatan yang tidak tepat.
Koestor (dalam Mulyadi. 2010 : 30) dalam mengidentifikasikan kemung-kinan sebab
kesulitan belajar dapat dikelompokan menjadi empat kategori yaitu :
1.
kondisi- kondisi fisiologis yang permanen
kemungkinan sebab kesulitan belajar karena kondisi – kondisi
fisiologis yang permanen meliputi:
a.
intelegensi yang terbatas
b.
hambatan persepsi
c.
hambatan penglihatan dan pendengaran
2.
kondisi- kondisi fisiologis yang temporer
a. masalah makanan
b. kecanduan
c. kecapaian /
kelelahan
3.
pengaruh – pengaruh lingkungan sosial yang permanen
a.
harapan orang tua terlalu tinggi, tidak sesuai
kemampuan anak
b.
konflik keluarga
4.
pengaruh – pengaruh lingkungan sosial yang temporer
a.
ada bagian bagian dalam urutan belajar yang belum
dipahami
b.
kurang adanya motivasi
2.1.4 Ciri – Ciri Kesulitan
Belajar
Dalam proses belajar, guru sering
menghadapi masalah adanya murid yang tidak dapat mengikuti pelajaran dengan
lancar. Dengan kata lain guru sering menghadapi siswa-siswa yang mengalami
kesulitan belajar. Biasanya masalah yang dihadapi para guru di sekolah adalah
gejala atau manifestasi adanya kesulitan belajar yang ditampakkan dalam
bentuk-bentuk tingkah laku tertentu. Beberapa ciri tingkah laku yang merupakan
pernyataan manifestasi gejala kesulitan belajar menurut Mohammad Surya (1992:
86) adalah sebagai berikut:
1.
Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah
rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau dibawah potensi yang
dimilikinya.
2.
Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang
telah dilakukan. Mungkin ada murid yang selalu berusaha untuk belajar dengan
giat tapi nilai yang dicapai selalu rendah.
3.
Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar.
Ia selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai
dengan waktu yang tersedia. Misalnya rata-rata anak dapat menyelesaikan suatu
tugas dalam waktu 40 menit, maka anak yang menghadapi kesulitan belajar
akan memerlukan waktu yang lebih lama.
4.
Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, seperti
acuh tak acuh, menentang dan sebagainya.
5.
Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan, seperti
datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau
di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan
belajar, mengasingkan diri, tersisihkan, tidak mau bekerja sama, dan
sebagainya.
6.
Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar,
seperti pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam
menghadapi situasi tertentu, misalnya dalam menghadapi nilai rendh tidak
menunjukkan adanya perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Pendapat di atas sesuai dengan yang
diungkapkan Kirk (Effendi Kusno, 1987: 57) bahwa ada empat perilaku yang
berkaitan dengan kesulitan belajar antara lain:
1.
Siswa lamban disemua bidang yang diikuti, dimana siswa
mengalami ketertinggalan dalam mata pelajaran yang diikutinya, serta tertinggal
oleh kawan-kawannya. Ia kesulitan menerima kesan yang disampaikan oleh gurunya
dan selalu terlambat dalam menyelesaikn tugas-tugas yang mesti dikerjakan.
2.
Ketidakmampuan dalam bidang-bidang khusus, ditandai
oleh ketidakmampuan siswa dalam bidang tertentu, misalnya siswa selalu sulit
untuk memahami isi bacaan, sulit untuk menguraikan bagan-bagan atau yang
lainnya.
3.
Kesulitan akademik dalam kaitannya dengan kekacauan
tingkah laku, ditandai dengan tingkah laku siswa yang sulit diatur, senang
membuat gaduh, malas mencatat, ingin selalu berpindah-pindah tempat duduk
ketika pelajaran berlangsung dan gejala lain yang mengarah kepada behaviorial
disorder.
4.
Masalah yang berhubungan dengan motivasi, ditandai
dengan kurang bergairah untuk mengikuti pelajaran, tidak ada minat berdiskusi,
dan lalai mengerjakan tugas.
Dari hasil studi tentang hubungan antara
ciri – ciri kepribadian dengan presta-si belajar menyatakan bahwa murid yang
tergolong pencapaian rendah menunju-kan ciri – ciri sebagai berikut :
1. lebih banyak
megalami kecemasan dan kurang mampu mengontrol diri terhadap kecemasan.
2. kurang mampu
menyesuikan diri dan kurang kepercayaan diri.
3. kurang mampu
mengikuti otoritas.
4. kurang mampu
dalam penerimaan sosial.
5. lebih banyak
mengalami konflik ketergantungan.
6. kegiatanya
kurang berorientasi pada akademik dan sosial. ( Rosyidan,1998)
2.2 Diagnosis Kesulitan Belajar
2.2.1 Definisi
Menurut Mulyadi (2010:1) diagnosis
diartikan sebagai usaha - usaha untuk
mendeteksi, meneliti sebab – sebab , jenis – jenis, sifat – sifat dari
kesulitan bela-jar seorang murid. Adapun landasan pemikiran perlunya diagnosis
dan pemecahan kesulitan belajar bagi murid- murid sebagai berikut :
1.
Setiap murid hendaknya mendapat kesempatan dan
pelayanan untuk berkem-bang secara optimal sesuai kemampuan, kecerdasan, bakat,
dan minatnya.
2.
Adanya perbedaan – perbedaan kemampuan, kecerdasan,
bakat , minat, dan latar belakang fisik
serta sosial masing – masing murid .
3.
Sistem pengajaran di sekolah seharusnya memberikan
kesempatan kepada murid untuk maju sesuai kemapuan sendiri.
4.
Untuk menghadapi hal tersebut di atas para guru,
konselor perlu dilengkapi dengan pengetahuan , sikap,dan ketrampilan dalam hal
pengidentifikasian kesulitan belajar, sebab – sebab, dan pelayanan remedialnya.
2.2.2 Prosedur Diagnosis
Kesulitan Belajar
1.
Pengumpulan data.
Dalam melakukan pengumpulan data harus dilakukan
menggunakan beberapa metode yaitu observasi, kunjungab rumah,case study. Case
history,daftar pribadi, meneliti pekerjaan anak, tugas kelompok,dan
melaksanakan tes. Semua metode tersebut tidak semua harus dilaksanakan
tergantung dengan masalahnya.
2.
Pengolahan data
Langkah yang dapat dilakukan untuk mengolah data
adalah dengan identifikasi kasus, membandingkan antar-kasus, membandingkan
dengan hasil tes, dan menarik kesimpulan.
3.
Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan mengenai hasil dari
pengolahan data. Diagnosis dapat berupa keputusan mengenai jenis kesulitan
belajar anak, keputusan mengenai faktor yang menyebabkan kesulitan belajar,
keputusan mengenai faktor utama penyebab kesulitan belajar.
4.
Prognosis
Prognosis adalah ramalan atau aktivitas penyusunan
rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan
belajar anak didik yang berupa bahan yang diperlukan, metode, alat bantu dll.
5.
Treatment (perlakuan)
Perlakuan adalah pemberian bantuan kepada anak yang
ersangkutan sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis.
Treatment dapat berupa bimbingan belajar kelompok dan individual, remedial,
bimbingan pribadi mengatasi masalah psikologis dan bimbingan orang tua.
6.
Evaluasi
Evaluasi adalah untuk mengetahui apakah treatment yang
diberikan dapat berhasil dengan baik. Untuk mengecek dapat dilakukan dengan
re-ceking data, re-diagnosis, re-prognosis, re-teratment, dan re-evaluasi.
BAB III
METODE
3.1
Metode yang digunakan
Metode yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah
dengan melakukan analisis legger atau
siswa, wawancara terhadap guru BK, teman, wali kelas, guru mapel, orang tua
siswa dan wawancara siswa yang bersangkutan serta observasi di kelas.
3.1.1 Wawancara
Wawancara atau disebut juga dengan interviu adalah
teknik pengumpulan data dengan cara tanya-jawab lisan yang dilakukan secara
sistematis guna mencapai tujuan penelitian. Wawancara biasanya dilakukan oleh
dua orang atau lebih, satu pihak berperan sebagai interviewer dan pihak lain
berperan sebagai interviewee atau yang diwawancarai. Dalam wawancara dibagi
menjadi dua jenis yaitu : wawancara terstruktur dan wawancara tidak
terstruktur. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan apabila
peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan
diperoleh. Jadi dalam wawancara terstruktur peneliti telah menyiapkan
instrument penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan. Sedangkan wawancara tidak
terstruktur adalah wawancara yang dilakukan secara bebas dimana peneliti belum
mengetahui hal yang akan diteliti sehingga peneliti hanya membawa catatan kecil
mengenai garis besar hal yang akan diteliti.
3.1.2 Legger
Legger
adalah catatan atau data yang berisi nilai siswa atau peserta didik.
Legger yang saya analisis adalah nilai
UTS siswa kelas IX A angkatan 2014/2015 di SMPN 13 Semarang. Observasi yang saya lakukan
digunakan un-tuk mengetahui keaktifan siswa saat KBM berlangsung.
PEDOMAN
OBSERVASI
Variabel
Penelitian : Tingkat
Keaktifan Siswa dalam Proses KBM
Tujuan
Observasi : Untuk mengetahui
tingkat keaktifan siswa dalam proses KBM
Komponen :
Aktivitas, Kebiasaan atau TingkahLaku
Observer :
Observee : Siswa SMP /
SMA
Observasike : 1/2/3/4 (lingkari
yang sesuai)
Pelaksanaan
observasi :
1.
Hari/tanggal :
2.
Jam :
3.
Nama sekolah :
4.
Alamat sekolah :
NO
|
VARIABEL
|
INDIKATOR
|
DESKRIPTOR
|
NO ITEM
|
1.
|
|
Visual
Activities
|
a. Memperhatikan di kelas
b. Membacabuku
|
|
2.
|
|
Oral
Activities
|
a. Bertanya di dalamkelas
b. Memberi saran
c. Menyampaikanpendapat
d. Berdiskusi
|
|
3.
|
|
Listening
Activities
|
Mendengarkan guru
|
|
4.
|
|
Writing
Activities
|
Mencatat pelajaran
|
|
5.
|
|
Drawing
Activities
|
a. Menggambar
b. Membuat grafik / diagram
|
|
6.
|
|
Motor
Activities
|
a. Melakukakn percobaan / praktikum
b. Bermain
|
|
7.
|
|
Mental
Activities
|
a. Menanggapi dalam diskusi
b. Memecahkan soal (membuat tugas)
|
|
8.
|
|
Emotional
Activities
|
a. Semangat dalam pembelajaran
b. Merasakan bosan dalam pembelajaran
|
|
PEDOMAN
WAWANCARA GURU BK
A. Tujuan wawancara : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam
proses KBM
B.
Interviewer :
C.
Interviwee :
D.
Pelaksanaan wawancara :
1.
Hari/tanggal :
2.
Jam :
E.
Berikut ini adalah daftar pertanyaan :
1.
Apakah A sering datang keruang BK untuk mengkonsultasikan hasil belajarnya?
2.
Bagaimana hubungan A dengan guru – guru ?
3.
Apakah si A sering bermasalah di sekolah
4.
Bagaimana hubungan siswa tersebut dengan teman –
temannya ?
5.
Bagaimana prestasi siswa tersebut ?
6.
Bagaimana perilaku siswa tersebut dalam lingkungan sekolah
?
7.
Dalam mengikuti pembelajaran, adakah masalah yang
dihadapi siswa tersebut ?
8.
Apakah Guru BK member layanan tertentu untuk membantu
mengatasi kesulitan belajar siswa ?
9.
Apakah orang tua sering dilibatkan dalam hal ini ?
10. Untuk mengatasi hal
ini, apakah Guru BK berkolaborasi dengan pihak lain untuk menentukan solusi
yang tepat ?
PEDOMAN
WAWANCARA WALI KELAS
1.
Bagaimana perkembangan belajar siswa A dan siswa B?
2.
Bagaimana keaktifan siswa A dan siswa B dalam mengikuti
pelajaran?
3.
Bagaimana reaksi Anda ketika menerima hasil nilai si A
dan si B dari guru mata pe-lajaran?
4.
Apakah anda sering mendiskusikan hasil nilai siswa A
kepada guru mapel dan guru BK ?
5.
Bagaimana reaksi orang tua siswa A dan siswa B ketika
menerima hasil nilai rapor si A dansi B?
6.
Apakah Anda pernah memberi saran kepada orang tua
siswa A dan siswa B terkait hasil raport mereka?
7.
Apakah Anda pernah mengkomunikasikan hasil nilai siswa
kepada orang tua siswa A dan siswa B terkait hasil raport mereka?
8.
Bagaimana lingkungan pergaulan siswa A dan siswa B
ketika di sekolah?
9.
Bagaimana reaksi siswa A dan siswa B ketika anda
memberikan evaluasi di kelas? (evaluasi mengenai kegiatan kelas atau hasil
nilai siswa)
10. Apakah siswa A
dan B pernah bertanya kepada Anda mengenai hasil nilai akhir yang mereka
dapatkan?
11. Bagaimana
perilakusi A dansi B saat pembelaran di kelas menurut Anda ?
12. Apakah orang tua
si A dan si B sering berkominikasi dengan Anda menanyakan perkembangan anaknya
di sekolah ?
13. Menurut Anda apa
yang menyebabkan siswa A dan siswa B mengalami penurunan prestasi nilai
akademik?
PEDOMAN
WAWANCARA UNTUK TEMAN
1. Bagaimana perilaku
teman Anda ketika di kelas ?
2. Bagaimana perilaku
teman Anda saat kegiatan diskusi atau Tanya jawab ?
3. Apakah teman Anda
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler atau organisasi ?
4. Apakah teman Anda
rajin mengerjakan tugas yang diberikan oleh Guru ?
5. Apakah teman Anda
bersemangat mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas ?
6. Apakah teman Anda
rajin mencatat pelajaran ?
7. Menurut anda
mata pelajaran apa yang paling teman anda sukai ? mengapa
8. Menurut anda
mata pelajaran apa yang paling tidak disukai teman anda ? mengapa
9. Apakah teman Anda
memperhatikan saat proses KBM ?
10. Apakah teman Anda
senang apabila mengikuti pelajaran yang berhubungan dengan menggambar ?
11. Apakah teman Anda
suka mata pelajaran praktek seperti olahraga, atau yang lainnya ?
12. Apakah teman Anda
aktif bertanya dalam kelas ?
PEDOMAN WAWANCARA SISWA
A. Tujuan wawancara : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam
proses KBM
B.
Interviewer :
C.
Interviwee :
D.
Pelaksanaan wawancara :
3.
Hari/tanggal :
4.
Jam :
E.
Berikut ini adalah daftar pertanyaan :
1.
Apa yang sering kamu lakukan ketika proses pembelajaran
di kelas ?
2.
Mata pelajaran apa yang kamu sukai ?mengapa ?
3.
Bagaimana hasil nilai mata pelajaran yang kamu sukai ?
4.
Mata pelajaran apa yang tidak kamu sukai ?Mengapa ?
5.
Bagaimana hasil nilai mata pelajaran yang tidak kamu sukai
?
6.
Apa yang kamu lakukan ketika mengikuti mata pelajaran
yang tidak kamu sukai ?
7.
Apakah kamu merasa nyaman ketika proses pembelajaran
di kelas?Mengapa ?
8.
Bagaimana pendapat kamu tentang teman – teman sekelasmu
?
9.
Adakah kendala atau masalah ketika kamu berada di
kelas ?
10. Apakah kegiatan sekolah
(ekstrakurikuler, organisasi) mengganggu proses belajar kamu ?Mengapa ?
11. Apa yang kamu lakukan
saat diskusi dalam kelas ?
12.
Apakah catatan pelajaran kamu lengka ?
13. Apakah kamu sering
mengerjakan tugas yang diberikan guru ?
14. Apakah alat
tulis yang kamu bawa lengkap ?
PEDOMAN WAWANCARA ORANG
TUA SISWA
A. Tujuanwawancara : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa
dalam proses KBM
B.
Interviewer :
C.
Interviwee :
D.
Pelaksanaan wawancara :
5.
Hari/tanggal :
6.
Jam :
7.
Kondisi subyek saat interview dilakukan :
E.
Berikut ini adalah daftar pertanyaan :
1.
Bagaimana perkembangan belajar siswa bersangkutan?
2.
Jam berapa biasanya siswa yang bersangkutan pulang ke
rumah ?
3.
Pada jam berapaa siswa yang bersangkutan belajar ?
4.
Pernahkah keluarga membicarakan mengenai keadaan di
sekolah ?
5.
Seberapa sering keluarga menjalin komunikasi ?
6.
Media atau fasilitas apa yang diberikan untuk hiburan
ataupun komunikasi ?
7.
Bagaimana kondisi lingkungan di sekitar rumah ?
8.
Bagaimana menurut Anda mengenai tingkah laku siswa
bersangkutan di rumah ?
9.
Upaya apa yang keluarga lakukan untuk meningkatkan
prestasi belajar siswa bersangkutan?
10. Apa yang sering
anak andalakukan sepulang sekolah ?
11. Bagaimana
pergaulan anak anda dirumah ?
12.
Apakah anak anda aktif dalam kegiatan ,komunitas, atau
organisasi teretntu sepulang sekolah ?
PEDOMAN WAWANCARA GURU
MAPEL
F. Tujuan wawancara : Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam
proses KBM
G.
Interviewer :
H.
Interviwee :
I.
Pelaksanaan wawancara :
8.
Hari/tanggal :
9.
Jam :
10. Kondisi subyek saat
interview dilakukan :
J.
Berikut ini adalah daftar pertanyaan :
1.
Bagaiamana perilaku siswa dalam KBM?
2.
Bagaimana kesan anda mengenai siswa tersebut ?
3.
Apakah siswa dalam KBM juga aktif dalam membaca buku ?
4.
Apakah siswa dalam kegiatan KBM aktif bertanya ?
5.
Apakah siswa dalam kegiatan KBM aktif dalam memberikan
sanggahan, saran atau kritikan ?
6.
Dalam kegiatan diskusi di kelas, apakah siswa ikut aktif
bertanya maupun menanggapi ?
7.
Apakah dalam KBM siswa juga mencatat tentang materi
yang disampaikan ?
8.
Apakah siswa aktif dalam membuat dan melaporkan tugas
yang diberikan ?
9.
Bagaimana menurut Anda mengenai keaktifan siswa dalam
proses belajar mengajar ?
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
KASUS KESULITAN BELAJAR
4.1
Identifikasi Masalah
4.1.1 Identitas Siswa
Siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar adalah
saudara ACM dan MS.
Saudara ACM diketahui
bahwa ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai staf
TU di UNISBANK ayahnya bekerja dari pukul 07.00 sampai pukul 17.00, sedangkan
ibunya bekerja menjaga ruko sampai larut malam. Seplang sekolah ia membantu
ibunya menjaga ruko, sepertinya saudara ACM memiliki masalah insomnia hal ini
diketahui dari pernyataan yang mengungkapkan bahwa ia tidur minimal pukul 22.00
atau 23.00.
Setelah
melakukan wawancara dengan saudara MS diketahui adalah anak ke tujuh dari tujuh
bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh bahwa ia dan ibunya bekerja sebagai
ibu rumah tangga yang sibuk mengurus cucu
dari anak -anaknya. Sepulang sekolah ia menghabiskan waktu untuk bermain
dan membantu ibunya merawat keponakanya (anak dari kakaknya). Dari penuturan
guru BK diketahui bahwa ia termasuk siswa yang kurang mampu daris segi ekonomi.
Diketahui pula bahwa saudara MS juga mengalami kesulitan tidur seperti halnya
saudara ACM. Saudara MS tidur sekitar pukul 11 malam dan bangun pukul 04.30
pagi. Saudara MS ke sekolah naik sepeda motor , waktu yang ditempuh dari rumah
ke sekolah dengan sepeda motor sekitar 30 menit. Ia menitipkan sepedanya ke
rumah kakaknya yang kurang lebih berjarak 1 km dari sekolah. Saudara MS juga
pernah menjuarai perlombaan olah raga bela diri karate tingkat kabupaten
Semarang.
4.1.2 Alasan Pemilihan Konseli
untuk menetukan siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan
belajar, saya meminta saran dari guru BK namun dikarenakan guru BK belum menganalisis legger siswa dan kurang
mengenal keadaan kelas IX A maka saya meminta saran dari wali kelas IX A yaitu
ibu Sri Suharni. beliau menyarankan saya mendalami siswa yang berinisial ACM
dan MS,dalam hal ini beliau memberikan saran atas dasar pertimbangan nilai UTS
serta pengamatan beliau sehari – hari saat mengajar serta laporan dari beberapa
guru.
4.2
Analisis
4.2.1Analisis hasil wawancara guru mapel
Untuk
kesulitan belajar yang dialami siswa ACM dan MS keduanya mengalami kesulitan
belajar di mata pelajaran bahasa inggris. Mata pelajaran bahasa inggris diampu
oleh ibu Emi Amalia.S,Pd. Saat melakukan wawancara ibu Emi mengatakan bahwa dia
baru saja mengenal saudara ACM dan MS dalam artian hafal nama mereka karena
mereka termasuk siswa yang tidak menonjol di dalam kelas.
Dari
hasil wawancara diketahui saudara ACM dan MS merupakan siswa yang minder , cuek
dan tidak aktif saat di kelas baik untuk bergaul dengan teman-teman dan juga
saat mengikuti kegiatan belajar mengajar khususnya di mata pelajaran bahasa
inggris. Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung mereka tidak aktif dalam kegiatan
diskusi, tidak pernah aktif bertanya untuk menanyakan materi pelajaran yang kurang paham, mereka juga
tidak pernah memberikan sanggahan atau kritikan terhadap kegiatan belajar
mengajar yang berlasung. Mereka juga jarang mencatat materi yang disampaikan.
Mereka juga sering tidak mengumpulkan pekerjaan rumah yang diberikan, tetapi
untuk tugas di kelas yang langsung dikmpulkan mereka membuatnya walau terkadang
itu merupakan hasil dari mencontek teman sekelasnya.
Menurut
ibu Emi saudara ACM termasuk siswa yang
pendiam dan tidak aktif di kelas. Saudara MS menurut ibu Emi adalah siswa yang
pendiam, tidak aktif di kelas, cuek , tidak memperhatikan saat dikelas justru
dikelas sering menggambar saat pelajaran, sering mela-mun, sering tidak masuk
tanpa keterangan, sering tidur di kelas.
4.1.2 Wawancara wali kelas
Saat
saya bertanya tentang kesulitan belajar kelas IX A saya menanyakannya kepada
wali kelas karena untuk guru BK sendiri kurang mengenal keadaan kelas IXA. Dari
hasil wawancara dengan wali kelas yang bernama ibu Sri Suharni. S,Pd yang
menjadi guru bahasa jawa kelas IX A, beliau menyarankan anak yang bernama ACM
dan MS. Dari hasil wawancara dengan ibu Sri Suharni diketahui perkembangan
belajar ACM dan MS tergolong lambat atau
kurang hal ini terlihat dari nilai UTS siswa. Menurut ibu Sri Suharni mereka
tidak memperhatikan di kelas dan kurang semangat untuk mengikuti kegiatan KBM
khususnya untuk mata pelajarannya yaitu bahasa jawa.
Saudara
ACM dan MS termasuk siswa yang tidak aktif di kelas mereka termasuk siswa yang
pendiam di kelas. Menurut ibu Sri
perilaku saudara MS di kelas saat mengkuti mata pelajaranya seringnya adalah
tidak membawa buku baik buku catatan, buku tulis ataupun buku paket, tidak mau
memperhatikan, sering tidak masuk tanpa alasan, seing telat, kurang semangat
dan sering tidur di kelas. Untuk saudara ACM tingkah lakunya di kelas seringnya
tidur , terlihat tidak semangat mengikuti mata pelajaran.
Untuk
pergaulan saudara ACM dan MS ibu Sri berpendapat bahwa saudara ACM termasuk
siswa pendiam yang kurang bersosialisasi dengan teman sekelasnya tetapi dia
masih dapat bergaul dengan baik dengan teman sekelasnya. Tetapi untuk saudara
MS termasuk siswa yang tertutup ia tidak membuka diri dengan teman sekelasnya.
Ibu
sri Suharni termasuk wali kelas yang perhatian terhadap perkembangan belajar
siswanya. Sebagai wali kelas ibu Sri sering mengkomunikasikan nilai siswa
khususnya ACM dan MS kepada guru BK. Ibu Sri Suharni juga sering
mengadakan komunikasi dengan orang tua
siswa dan siswa yang bersangkutan mengenai nilai-.nilai siswa. Ibu Sri juga
sesekali mengadakan kunjungan rumah terhadap siswanya yang tidak masuk tanpa
keterangan. Menurut hasil wawancara ibu Sri kepada orang tua diketahui bahwa
saudara MS bergaul dengan teman yang kurang baik di luar sekolah. Orang tua MS
menyatakan bahwa mereka sadar anak mereka kurang pintar, dan kurang
memperhatikan di kelas.
Menurutnya
penyebab kurangnya prestasi akademik saudara ACM dan MS adalah kurangya
semangat belajar. Menurutnya perkembangan saudara MS sudah lebih baik dari
kelas VIII karena intensitas bolos atau tidak masuk tanpa keterangan telah
berkurang. Prestasi akademik saudara ACM juga mengalami peningkatan walau tidk
signifikan.
4.1.3 Hasil analisis wawancara guru BK
Dari
hasil wawancara diketahui bahwa guru BK kelas IX A yaitu ibu Ninik Budi Setyani
kurang mengenal pribadi masing – masing siswa. Dari hasil wawancara Ibu Ninik
tidak memberikan banyak informasi karena kelihatanya ia tidak mengenal baik
saudara ACM dan MS. Tetapi beliau mengatakan bahwa saudara MS merupakan siswa
yang kurang mampu dar segi finansial.
Dari
hasil wawancara diketahui saudara MS dan ACM termasuk siswa yang tidak
bermasalah di sekolah, Saudara MS dan ACM
bukan termasuk siswa yang memiliki hubungan baik dengan guru – guru,
menurutnya prestasi akademik ACM dan MS kurang tetapi untuk saudara MS pernah
mendapatkan juara di bidang olahraga bela diri karate. Guru BK juga belum
pernah mengadakan komunikasi langsung kepada orang tua siswa dan juga belum
pernah memberikan layanan khusus untuk membantu mengatsi kesulitan belajar
siswa.
4.1.4 Hasil analisis wawancara teman
Dari
hasil wawancara teman yang bernama Muhammad Fauzan Ardiansyah, ia adalah teman
sebangku ACM di kelas. Dari hasil wawancara diketahui bahwa saudara Fauzan
tidak mengenal baik saudara ACM dan MS. Hal ini terlihat dari pernyataanya yang
tidak tahu alamat rumah saudara ACM dan MS, tidak tahu mata pelajaran yang
disukai dan dibenci ACM dan MS.
Menurutnya
saudara ACM dan MS adalah teman yang pendiam, kurang aktif di kelas, kurang
rajin dalam mengerjakan tugas, semangat dalam mengikuti proses pembelajaran di
kelas, rajin dalam mencatat pembelajaran dan kurang rajin dalam mengerjakan
tugas, selalu memperhatikan saat KBM, dan selalu semangat dalam kegiatan
pemebelajaran. Tetapi saudara Fauzan tahu
kalau saudara ACM dan MS bahwa mereka menyukai mata pelajaran olahraga.
Dari
informasi yang diberikan terlihat bahwa terdapat perbedaan informasi yang
disampaikan oleh saudara Fauzan dan guru – guru. Hal ini kemungkinan disebabkan
saudara Fauzan ingin menutupi kesalahan atau keburukan temanya atau justru
selama ini para guru memiliki paradigma buruk terhadap saudara ACM dan MS.
4.1.5 Analisis wawancara ACM
hasil wawancara
saudara ACM mengungkapkan bahwa ia tidak bisa membagi waktunya dengan baik ia
terlalu sibuk dan lelah karena membantu ibunya menjaga ruko. Ia kemungkinan
juga kurang mendapat perhatian dari orang tuanya karena ayahnya yang bekerja
dari pagi yaitu pukul 07.00 – 17.00 dan
juga ibunya yang sibuk menjaga ruko serta menjaga adiknya yang masih berumur 3
tahun. Kemungkinan inilah penyebab kenapa ACM kurang bersemangat di kelas dan
jarang mengerjakan PR nya.
Dari hasl wawancara
Saudara ACM mengungkapkan bahwa ia menyukai
mata pelajaran bahasa inggris, olahraga, IPA, dan IPS. Untuk nilai mata
pelajaran yang ia sukai kebanyakan mendapat nilai bagus tetapi untuk mata
pelajaran bahas inggris ia mendapat nilai kurang di bawah KKM, menurutnya hal
ini disebabkan cara mengajar guru bahasa inggrisnya yang tidak sesuai dengan
denganya. Saudara ACM menyatakan dia tidak menyukai mata pelajaran matematika,
TIK, bahasa jawa, PKN. Untuk nilai mata pelajaran yang tidak disukainya
kebanyakan mendapat nilai di bawah KKM kecuali untuk mata pelajaran PKN yang
mendapat nilai di atas KKM.
Menurut
saudara ACM dia selalu membawa buku catatan, buku pelajaran, buku tulis saat ke
sekolah hal ini jelas berbeda dengan pendapat Ibu Emi dan ibu Sri yang
menyatakan bahwa ACM sering lupa tidak membawa buku. Saudara ACM menyatakan
merasa nyaman dengan keadaan sekelas menurutnya teman sekelasnya adalah teman
yang seru, asik, dan lucu. Saudara ACM tidak mengikuti kegiatan organisasi atau
ekstrakulikuler tertentu di kelas walaupun ia tidak terlalu terbuka dengan
teman sekelasnya.
4.1.6 Analisis hasil wawancara saudara MS
Setelah
melakukan wawancara dengan saudara MS diketahui bahwa ia adalah anak ke tujuh
dari tujuh bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh dan ibunya bekerja sebagai
ibu rumah tangga yang sibuk mengurus cucu
dari anak -anaknya. Sepulang sekolah ia menghabiskan waktu untuk bermain
dan membantu ibunya merawat keponakanya (anak dari kakaknya). Sama dengan
saudara ACM ia juga mengalami masalah tidur ia terbiasa tidur pukul 11 malam.
Ia juga jarang sekali belajar di rumah dan jarang mengerjakan PR nya paling dia
nanti mencontek teman sekelasnya. hal inilah yang kemungkinan menyebabkan ia
sering tertidur di kelas.
Saat
proses pembelajaran di kelas dia menyatakan bahwa ia kurang bersemangat dan kurang berkonsemtrasi saat mengikuti
kegiatan pembelajaran. Ia lebih suka menggambar di dalam kelas atau tertidur di
dalam kelas. Saudara MS menyatakan bahwa ia menyukai mata pelajaran IPS dan
Olahraga. Tetapi untuk mata pelajaran IPS ia mendapat nilai di bawah KKM, hal
ini disebabka ia kurang belajar. Menurutnya mata pelajaran IPS lebih mudah
dipahami. Saudara MS tidak menyukai mata pelajaran bahasa inggris dan
matematika hal ini disebabkan cara mengajar gurunya sulit dipahami.
Saudara
MS juga menyatakan bahwa ia tidak menyukai keadaan kelasnya yang ramai sehingga
kurang berkonsentrasi. Ia menjelaskan bahwa ia tidak terlalu terbuka dengan
teman sekeslanya sehingga ia lebih banyak diam. Dia juga cenderung diam di
kelas baik saat diskusi maupun kegiatan pembelajaran. MS diketahui adalah
serang atlet olahraga beladiri karate dia pernah mendapat juara 2 pertandingan
karate tingkat kabupaten.
4.2
Sintesis
Dari hasil pengumpulan data di lapangan diketahui bahwa
saudara ACM dan MS memiliki kemiripan atau kesamaan. Mereka tergolong siswa
yang minder di kelas baik dalam pergaulan dengan teman sekelas maupun saat
proses belajar mengajar mereka cenderung diam atau pasif, kurang aktif di
kelas, jarang mengerjakan PR , kurang semangat belajar baik di rumah atau di
sekolah, sering tertidur di kelas, sering tidur pukul 10 atau 11 malam , dan terlalu
sibuk membantu orang tua di rumah sepulang sekolah.
4.3
Diagnosis
Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai pihak kemungkinan
saudara ACM dan MS mengalami learning
disorder,yaitu keadaan dimana proses belajar mengajar terganggu karena
timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya orang yang mengalami
gangguan belajar prestasi belajarnya tidak terganggu akan tetapi proses
belajarnya yang terganggu atau terhambat karena respons yang bertentangan.
Untuk kasus ACM dan MS hal ini terlihat dari perilaku mereka yang minder di kelas baik
dalam pergaulan dengan teman sekelas maupun saat proses belajar mengajar mereka
cenderung diam atau pasif, kurang aktif di kelas, jarang mengerjakan PR ,
kurang semangat belajar baik di rumah atau di sekolah, sering tertidur di
kelas.
4.4
Prognosis
Penyebab kesulitan belajar ACM dan MS kemungkinan
disebabkan oleh kecapaian atau kelelahan, kurang adanya motivasi belajar, dan
belum mampu memotivasi belajar dengan baik, kurangnya perhatian orang tua
terhadap perkembangan prestasi akademik maupun non akademik di sekolah dan
krangnya konsentrasi belajar.
4.5
Treatmen
Treatmen atau bantuan yang bisa diberikan kepada saudar ACM
dan MS bisa berupa
1.
Pengajaran remedial dan pengayaan pada bidang studi
yang dibawah KKM oleh guru mapel.
2.
Para guru beserta konselor sekolah bekerja sama untuk
berusaha menciptakan suasana kondusif di dalam kelas yang mendukung kenyamanan
proses belajar mengajar di dalam kelas.
3.
Konselor dapat memberikan layanan baik individual,
kelompok, dan klasikal. Untuk layanan individual bisa dilakukan dengan
konseling individual untuk menemukan jalan keluar masalah siswa yang
bersagkutan, untuk kelompok guru BK bisa mengadakan bimbingan dan konseling
kelompok. Layanan klasikal yang diberikan bisa berupa pelaksanaan RPL tentang manajemen
waktu, motivasi belajar, dan konsentrasi belajar..
4.4
Prognosis
Penyebab kesulitan belajar ACM dan MS kemungkinan
disebabkan oleh kecapaian atau kelelahan, kurang adanya motivasi belajar, dan
belum mampu memotivasi belajar dengan baik, kurangnya perhatian orang tua
terhadap perkembangan prestasi akademik maupun non akademik di sekolah dan
krangnya konsentrasi belajar.
4.5
Treatmen
Treatmen atau bantuan yang bisa diberikan kepada saudar ACM
dan MS bisa berupa
1.
Pengajaran remedial dan pengayaan pada bidang studi
yang dibawah KKM oleh guru mapel.
2.
Para guru beserta konselor sekolah bekerja sama untuk
berusaha menciptakan suasana kondusif di dalam kelas yang mendukung kenyamanan
proses belajar mengajar di dalam kelas.
3.
Konselor dapat memberikan layanan baik individual,
kelompok, dan klasikal. Untuk layanan individual bisa dilakukan dengan
konseling individual untuk menemukan jalan keluar masalah siswa yang
bersagkutan, untuk kelompok guru BK bisa mengadakan bimbingan dan konseling
kelompok. Layanan klasikal yang diberikan bisa berupa pelaksanaan RPL tentang manajemen
waktu, motivasi belajar, dan konsentrasi belajar.
terimakasih bloggnya.. postingannya sangat bermanfaat
BalasHapus