Konseling
Trait and Factor
Teori ini
tergolong pada pandangan
kognitif atau pendekatan rasional.Pendekatan ini
mencoba secara intelektual
dan rasional menerangkan kesulitan-kesulitan yang
dihadapi klien, cara
pemecahan kesulitan-kesulitan serta proses konselingnya didekati secara
logis rasional. Konseling dengan pendekatan trait and factor yang dipelopori
oleh Williamson ini disebut pula
konseling yang mengarahkan
(directive counseling), karena
konselor secara aktif membantu
klien mengarahkan perilakunya
kepada pemecahan kesulitannya.
Maka konseling yang directive ini disebut pula
counseling centered atau konseling yang berpusat pada konselor. Dan
konseling semacam inilah yang banyak dilakukan
disekolah-sekolah baik diluar
negeri maupun di negara
kita.
Trait dan faktor, dari sudut pandang Minnesota, merrupakan suatu teori yang, differentialist,
direktif dan, menggambarkan suatu penyuluhan putusan pendekatan yang berpusat
selama empat decade yang d ditulis oleh edmund grift ( E.G ) williamson dan
rekan-rekannya di university of minnesota, sebagian kecil membuktikan adanya
pengaruh dari universitas minnesota, terkait nama tokoh yang, mempopulerkan
teori ini diantaranya: patterson, darley, hagenah, williamson, bording, kuat, clark
campbell, holland, hansen, biggs, dan banyak lainnya
Pendekatan teori trait
and factor klasik oleh Donald Patterson,
john Darley, dan EG Williamson. Yang dibentuk pada tahun 1930-an merupakan
hasil dari penyelidikan mereka secara langsung dari berbagai pengaturan, dimulai pada akhir abad kesembilan belas dan
abad kedua puluh, merupakan upaya yang empiris dan sistematis. Galton
terintegrasi untuk mengukur perbedaan dalam kapasitas individu dan bakat,
investigasi oleh Binet di Perancis dan Cattell di Amerika prediksi diferensial
kecerdasan, dan pemanfaatan perbedaan individu tersebut, dalam aplikasi
industri, mereka kemudian terikat dengan, pendekatan psikometrik untuk teori
yang membahas teentang bimbingan kejuruan
Selama depresi besar,
Paterson dan Darley membawa konsep ke lembaga penelitian Minnesota untuk
melakukan pengujian terkait stabilisasi pekerjaan dengan menggunakan tes psikologis dan perangkat
penilaian lain untuk menganalisis kemampuan kejuruan mahasiswa. staf dari
Minnesota sendiri ikut berperan dalam penyediaan diagnosis dan prognosis
pelatihan pendidikan dan kejuruan, dan layanan penempatan semua digunakan dalam
upaya komprehensif untuk menempatkan orang dalam pekerjaan. Pada waktu yang
sama, Williamson diangkat sebagai direktur universitas Minnesota pengujian
biro. Tugas biro ini untuk menerapkan prosedur bimbingan dikembangkan oleh
Paterson untuk masalah pendidikan dan kejuruan siswa.
Menurut
Burl, Dick, and Jim (1989) Trait dan faktor, dari sudut pandang Minnesota,
merrupakan suatu teori yang differentialist, direktif dan, menggambarkan suatu
penyuluhan putusan pendekatan yang berpusat selama empat decade yang d ditulis
oleh Edmund Grift ( E.G ) Williamson dan rekan-rekannya di university of
minnesota, sebagian kecil membuktikan adanya pengaruh dari universitas
minnesota, terkait nama tokoh yang, mempopulerkan teori ini diantaranya:
Patterson, Darley, Hagenah, Williamson, Bording, Clark Campbell, Holland,
Hansen, Biggs, dan banyak lainnya.
Williamson mencatat bahwa “landasan
konsep konseling modern” adalah terletak dalam
asumsi individualitas yang
unik dari setiap
anak dan identifikasi
keunikan tersebut dengan menggunakan
pengukuran objektif sebagai
lawan dari tekhnik perkiraan subjektif.
Para ahli psikologi
telah lama mencoba instrument
yang dapat mengukur dan menilai
individu secaara objektif untuk digunakan dalam konseling baik dalam pendidikan
maupun vokasional. Dengan
mengidentifikasikan ciri dan
factor individu, konselor dapat
membantunya dalam memilih
progam studi, mata
kuliah, perguruan tinggi, dan
sebagainya secara rasional
serta membuat perkiraan keberhasilan dimasa yang akan
datang. Maksud konseling menurut
Williamson adalah untuk
membantu perkembangan
kesempurnaan berbagai aspek
kehidupan manusia. Dikatakan
selanjutnya bahwa tugas konseling
sifat dan faktor
adalah membantu individu
dalam memperoleh kemajuan memahami
dan mengelola diri
dengan cara membantunya
menilai kekuatan dan kelemahan
diri. Dalam hubungan
konseling, individu diharapkan mampu menghadapi, menjelaskan, dan
menyelesaikan
masalah-masalahnya. Dari
pengalaman ini individu
belajar untuk menghadapi
situasi konflik di masa
mendatang.
Tingkah
laku sehat menurut TF adalah berpikir rasional, memahami kekuatan dan kelemahan
diri, memapu mengembangkan potensi secara penuh, punya motivasi peningkatan
diri, memiliki kontrol atas pengaruh buruk, dan dapat menyesuaikan diri dalam
masyarakat.
Pribadi
bermasalah menurut TF adalah internal dipengaruhi oleh emosi, potensi diri
tidak berkembang, kurang kesempatan aktualisasi diri serta kurangnya kontrol
diri eksternal.
Tujuan
konseling adalah membantu individu bertumbuh kembang yang diarahkan pada
perkembangan optimal diseluruh aspek kepribadian, sehingga konseling membantu
individu mengalami self understanding,
self acceptance, self clarification, self direction, self actualization.
Peran konselor adalah memberitahukan, memberikan informasi,
mengarahkan, oleh karena itu, pendekatan ini di sebut directive education
conseling
1. Sebagai guru
2. Sebagai
motivator
3. Sebagai
model
4. Sebagai evaluator
Strategi untuk
membantu klien dari sudut pandang diferensial, langkah-langkah dalam proses
konseling merupakan kepentingan utama. Langkah-langkah berikut pertama kali
dirumuskan oleh williamson dan Darley
1. Analisis
Memperoleh
pemahaman yang komprehensif, melalui teknik asessment yang tepat, mengumpulkan
data tentang diri klien
2. Sintesis
Pemesanan
dan mengatur berbagai bagian dari klien menjadi gambaran total oleh asessing
informasi kekuatan dan kelemahan seluruh aspek interpersonal kehidupan klien
3. Diagnosis
Deskriptif
mengidentifikasi masalah, menemukan penyebabnya, memeriksa logika dan reaksi
klien, dan mengusulkan program aksi berdasarkan tujuan dan subjektif data yang
persentasikan
4. Prognosis
Peramalan
dengan dasar pilihan yang tersedia.diagnosis berhubungan dengan masa lalu dan
kondisi sekarang, sedangkan prognosis upaya prediksi masa depan
5. Konseling
Dilakukan
pengembangan alternative pemecahan masalah, pengujian alternative, pengambilan
keputusan. Konseling dilakukan untuk menemukan
jalan keluar dari masalah klien.
Strategi pemecahan masalah yang
dapat ditempuh dalam pengembangan alternative terdiri atas Forcing Conformity,
Changing Attitude, Learning
The , Changing Environment,
Selecting The Appropriate Environment. meliputi
a)
Forcing Conformity, suatu
saat klien dihadapkan
pada posisi yang tidak
mengenakkan. Ia harus
melaksanakan tugas-tugas hidup
yang di satu sisi ia harus jalani , maupun pada sisi lainnya ia tidak
senang untuk melaksanakan. Pada
posisi tidak ada
pilihan ini, apabila
klien ingin mencapai tujuan
hidupnya ia harus
lakukan juga. Sebagai contoh, klien
dihadapkan pada posisi
ia tidak senang
dengan guru matematika ,
sedangkan guru itu satu-satuya di sekolah. Pada posisi ini klien harus
mengikuti pelajaran matematika kalau ia ingin lulus dari sekolah tersebut.
b)
Changing Atittude, dalam
berbagai kasus ,
masalah klien dapat diselesaikan melalui megubah
sikap-sikap yang ditampilkan selama ini yang diduga menjadi penyebab timbulnya
masalah yangdialami klien. Sebagai
ilustrasi, seorang siswa
/ mahasiswa mengalami
masalah pergaulan dengan teman
disekolah / kampus,
karena dimata teman bergaul, namun
karena sifat hidupnya
membuat ia tidak
disenangi teman. Oleh karena itu , klien harus mengubah sikap-sikap yang
tidak disukai kawan.
c)
Learning The
Needed Skills, banyak
klien yang gagal
mencapai tujuan , karena ia tidak terampil, sebagai contohndah, karena
ia tidak dapat memakai alat tulis secara benar, ia tidak terampil membaca, ia
tidak bias mengemukakan
pendapat. Contoh lain,
lien tidak bisamemilih teman akrab , karena ia tidak
terampil memulai pembicaraan , ia tidak memiliki rasa humor, ia tidak bisa
merespon secara memadai atas pendapat kawan sekolah.
d)
Selecting The
Appropriate Environment,dalam keadaan
tertentu perubahan sikap dan
perilaku klien sulit
dilaukan karena lingkungan yang tidak
memungkinkan untuk melakukan
perilaku-perilaku yang dimaui.
e) Changing Environment,
beberapa masalah timbul karena lingkungan yang
tidak mendukung .
Misalnya, seorang hendak
melakukan diet, tetapi dalam
keluarga selalu tersedia makanan kecil. Mahasiswa kost pada kamar
dan sekaligus ruang
belajar dalam keadaan
semrawut. Kedua keadaan menunjukan
perlunya perubahan .
ketika diet dijalank
6. Follow
up
Memperkuat,
mengevaluasi kembali, dan memeriksa kemajuan klien dalam menerapkan apa yang
telah dipelajari dalam konseling untuk kehidupan sehari-hari
Teknik konseling yang terdapat dalam
TF yaitu :
1. Establishing raport
adalah penerimaan dan penghargaan dari konselor, reputasi dan kompetensi
konselor, perhatian konselor dan dapat menyimpan rahasia.
2. Cultivating self understanding,
membantu klien memahami dirinya.
3. Advising/ planning a program action,
membantu merencanakan program
4. Carrying out the plan
, membantu merencanakan tindakan
5.
referal
Kelemahan
pendekatan ini adalah dibutuhkan bannya waktu dan usaha untuk mengubah
pemikiran irasional klien, masalah korelatif konselor untuk memimpin klien dengan
nilai yang tepat dan benar, ketergantungan etrhadap keahlian konselor,
pendekatan ini kurang intim.
Sedangkan
kelebihan pendekatan TF adalah berguna untuk proses perubahan diri, TF adalah sistim praktis konseling,
pendekatan ini membuat klien berpikir realistis, selain itu TF juga merupakan
pendekatan tim dan rujukan ke spesialis lain.
5.Konseling
SFBT
Palmer
(2011:301) menjelaskan terapi ini didasarkan pada kepercayaan fundamental bahwa
manusia itu pada intinya terpercaya, sosial, dan kreatif. Ekspresi praktis
kepercayaan tersebut adalah kemauan terapis untuk mengosongkan posisi
keahlianya dan justru bekerja untuk memampukan klien menyadari sumber dayanya
sendiri dan pemahaman dirinya. Konseling berfokus pribadi menekankan perseptual
internal dan dunia emosional kita
sebagai sumber pemahaman bagi pikiran, perasaan, dan tindakan kita.
Mc.leod (2010:165) menjelaskan bahwa terapi ini diasosiasikan
sebagai hasil kerja sebagai hasil kerja Steve de Shazer di Brief Family Therapy Center (Pusat Terapi Keluarga Singkat) di
Milwaukee, termasuk kelompok kolega dan para kolaborator lainya seperti Insoo
Kim Berg, Yvone Dolan, Bill O’Hanlan, rowan. De Shazer memiliki latar belakang
musik dan pekerja sosial. Dalam pendidikanya sebagai psikoterapis dipengaruhi
oleh teori dan riset yang dilakukan Mental Research Institute (MRI) di Palo Alto, California.
Selama tahun 1950-an, kelompok Palo Alto yang pertama kali mempelajari pola
interaksi dalam keluarga. Pendekatan mereka banyak meminjam ide antropologi dan
sosiologi. Dari pengalamanya dengan dengan kelompok Palo Alto dia mendapatkan
sejumlah prinsip terapi inti yang dapat ditemukan dalam terapi sistim keluarga,
yaitu :
·
Keyakinan bahwa intervensi dapat
bersifat singkat dan “strategis”
·
Penghargaan terhadap penggunaan
pertanyaan untuk mengajak klien mempertimbangkan alternatif tindakan
·
Penggunaan “tim pengamat” yang
memberikan masukan kepada terapis selama masa jeda.
De
Shazer tertarik dengan terapi berpendekatan unik yang dikembangkan oleh Milton
H Erickson. Milton H Erickson adalah figur menarik yang memainkan peran penting
dalam sejarah psikoterapi. Pada awalnya karirnya ia memberikan kontribusi besar
dalam bidang hipnotis medis. Walaupun Erickson terkenal dengan penggunaan
hipnotisnya, namun menurutnya efektivitas terapinya tidak bersandar pada
pengguaan sugesti yang dilakukan kepada klien yang sedang dalam kondisi trance. Efektivitas lebih didasarkan
pada penggunaan bahasa yang sensitif dan kreatif, metafora, dan cerita serta
kemampuanya untuk mengamati detail paling kecil perilaku klien dan kemampuanya
membangun hubungan kolaboratif dengan klien.
Kasus studi yang
dipublikasikan oleh Erickson meyakinkan De Shazer bahwa ada kemungkinan untuk
menangani klien individu—bukan hanya keluarga—secara singkat dan strategis,
sehingga ada kemungkinan terdapat solusi unik untuk masalah mereka. Setelah
beberapa tahun De Shazer mengembangkan pendekatannya sendiri yang menekankan
pada peran bahasa dalam mengkontruksi relaitas pribadi. Esensi dari
pendekatanya adalah ide “membicarakan masalah” mepertahankan kelangsungan
masalah atau mempertahankan sentralitas masalah dalam kehidupan. Tugas para
terapis adalah mengajak klien terlibat dalam pembicaraan mencari solusi (solution talk) disamping dengan hormat
menerima keinginan klien untuk membicarakan tekanan dan keputusan mereka, dan
keburukan umum dari masalah.
SFBT tidak memiliki penemu tunggal
sebagaimana teori-teori konseling tradisional. Banyak ahli yang saling
memberikan kontribusi pada teori konseling ini. Namun demikian, terdapat
beberapa ahli yang dianggap memberikan kontribusi paling besar pada SFBT
sehingga terbentuk menjadi teori yang komprehensif seperti saat ini, di
antaranya: Steve de Shazer, Bill O’Hanlon, Michele Weiner-Davis, dan Insoo Kim
Berg.
Corey (2009: 388) mengungkapkan terapi
berfokus solusi berbeda dari terapi tradisional karena mengabaikan masa lampau
dan lebih setuju dengan masa sekarang dan masa yang akan datang. Terapi ini
memberi penekanan yang besar pada kemungkinan sedikit atau tidak adanya
ketertarikan untuk memperoleh pemahaman terhadap masalah. De Shazer (dalam
Corey,2009:378) menganjurkan bahwa
tidaklah perlu mengetahui sebab-sebab masalah dalam solusinya dan tidak perlu
ada hubungan antara masalah dan solusinya. Pengumpulan informasi mengenai
masalah tidaklah dibutuhkan untuk terjadi perubahan, yang penting adalah
mencari solusi masalah yang benar. Di dalam SFBT klien memilih tujuan yang
mereka harapkan bisa tercapai di dalam terapi, dan hanya sedikit perhatian yang
diberikan untuk diagnosis, pengungkapan riwayat atau eksplorasi masalah.
Menurut Gerald Corey (2009:378)
terapi singkat berfokus solusi didasarkan pada asumsi yang optimistik bahwa
manusia itu sehat dan kompeten dan memiliki kemampuan untuk membangun solusi
yang dapat meningkatkan hidupnya. Lepas dari berbentuk seperti apapun klien
yang terlibat dalam terapi adalah mampu. Berg percaya bahwa klien adalah
kompeten dan peran konselor adalah membantu klien agar menyadari bahwa ia
mempunyai kemampuan itu. Proses terapi menyediakan suatu keadaan yang
menjadikan individu memfokuskan diri pada pemulihan dan penciptaan solusi
ketimbang membicarakan problem mereka.
O’Connell (dalam
Palmer,2011:549) berpendapat bahwa SFBT adalah bentuk terapi singkat yang
dibangun atas kekuatan
klien dengan membantunya memunculkan dan mengkontruksikan solusi pada problem
yang dihadapinya. Terapi ini lebih menekankan pada masa depan ketimbang masa
kini atau masa lalu. Dalam pendekatan
ini konselor dan klien mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mengkontruksi
solusi ketimbang mengeksplorasi masalah. Konselor dan klien mencoba
mengidentifikasi sejelas mungkin hal yang ingin dlihat klien dalam kehidupanya.
Konselor hanya melakukan intervensi minimal dalam kehidupan klien—tugasnya
adalah memunculkan pemicu perubahan yang akan dilanjutkan setelah konseling.
Konselor bernegosiasi dengan klien untuk mengidentifikasi problem prioritas
yang tujuanya bisa dicapai.
Pribadi
sehat
·
Pribadi yang mampu (kompeten), memiliki
kapasitas untuk membangun, merancang ataupun mengkonstruksikan solusi-solusi,
sehingga individu tersebut tidak terus menerus berkutat dalam problem-problem
yang sedang ia hadapi.
·
Pribadi yang tidak terpaku pada masalah,
namun ia lebih berfokus pada solusi, bertindak dan mewujudkan solusi yang ia
inginkan.
Pribadi
bermasalah
·
Individu menjadi bermasalah karena
ketidakefektifannya dalam mencari dan menggunakan solusi yang dibuatnya.
·
Individu menjadi bermasalah karena ia
meyakini bahwa ketidakbahagiaan atau ketidaksejahteraan ini berpangkal pada
dirinya.
Konseling merupakan proses
memfasilitasi konseli untuk menemukan solusi yang dikonstruksi oleh dirinya
sendiri, tanpa berfokus pada masalah yang dibawanya.
Walter
dan Peller (dalam Corey, 2013) menyebutkan hakikat SFBT:
1. Individu
yang datang ke terapi mampu berperilaku efektif meskipun kelakuan keefektifan
ini mungkin dihalangi sementara oleh pandangan negatif.
2. Ada
keuntungan-keuntungan untuk fokus pada solusi dan pada masa depan. Jika konseli
dapat reorientasi diri ke arah kekuatan menggunakan
solution-talk, terapi bisa singkat.
solution-talk, terapi bisa singkat.
3. Ada
penyangkalan pada setiap problem. Dengan membicarakan penyangkalan-penyangkalan
ini, konseli dapat mengontrol apa yang terlihat menjadi sebuah problem yang
tidak mungkin diatasi, penyangkalan ini memungkinkan terciptanya sebuah solusi.
4. Konseli
sering hanya menampilkan satu sisi dari diri mereka, SFBT mengajak konseli untuk
menyelidiki sisi lain dari cerita yang sedang mereka tampilkan.
5. Perubahan
kecil adalah cara untuk mendapatkan perubahan yang lebih besar.
6. Konseli
yang ingin berubah mempunyai kapasitas untuk berubah dan mengerjakan yang
terbaik untuk membuat suatu perubahan itu terjadi.
7. Konseli
dapat dipercaya pada niat mereka untuk memecahkan masalah. Tiap individu adalah
unik dan demikian juga untuk tiap-tiap solusi.
Tujuan
dari terapi singkat berfokus solusi sebagai berikut :
1. Mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi
sehat.
2. Mengantar klien/manusia meraih
kehidupan yang lebih sehat dan lebih bahagia baik masa kini maupun ke masa
depan.
3. Membantu klien mengidentifikasi
perubahan-perubahan yang diinginkan klien, terjadi di dalam kehidupan mereka
dan terus terjadi.
4. Membantu klien membangun visi yang
dipilih untuk masa depan mereka.
5. Membantu klien mengidentifikasi
hal-hal yang baik untuk kehidupan mereka saat ini dan ke masa depan.
6. Membantu klien membawa kesuksesan
sekecil apapun ke dalam kesadaran mereka.
7. Membantu klien untuk mengulang
keberhasilan yang pernah mereka lakukan.
8. Pengubahan pandangan mengenai
situasi atau kerangka berpikir, pengubahan cara menghadapi situasi problematik,
dan merekam sumber-sumber dan kekuatan klien.
Tujuan terapi SFBT adalah adalah menghargai kemampuan klien
dalam menghadapi masalah dengan menanyakan kepada mereka apakah mereka telah
mendapatkan apa yang mereka inginkan, atau mengajak mereka untuk menyatakan apa
yang harus terjadi pada diri mereka untuk mengetahui kesiapan untuk mengakhiri
terapi ( Mc.Leod.2011:172).
1.
Sebagai mitra
Konselor berusaha untuk
menciptakan hubungan kolaboratif untuk membuka berbagai kemungkinan perubahan
masa depan. Konselor menciptakan iklim saling menghormati, dialog, pertanyaan,
dan penegasan di mana klien bebas untuk menciptakan, mengeksplorasi dan menulis
cerita-cerita mereka yang berkembang.
2.
Sebagai motivator
Bila solusi-solusi yang
telah direncanakan oleh konseli belum membuahkan hasil, maka konselor bertugas
untuk menyemangati konseli agar terus mencoba dengan alternatif solusi lainnya.
Bertolino dan O’Hanlon menekankan
pentingnya menciptakan hubungan kerja sama dalam terapi dan memandangnya
sebagai kebutuhan untuk keberhasilan terapi. Dengan menyadari bahwa konselor
memiliki keahlian di dalam menciptakan konteks untuk perubahan, mereka
menekankan bahwa klien adalah ahli dalam kehidupan yang dialaminya dan sering
memiliki perasaan yang baik terhadap apa yang sudah atau yang belum dikerjakan
di masa lampau, dan juga sama halnya dengan apa yang harus dikerjakan di waktu
yang akan datang. Jika klien terlibat di dalam proses terapi dari awal hingga
akhir, kesempatan klien semakin meningkat dan terapi akan berhasil. Singkatnya,
hubungan kooperatif dan kolaboratif cenderung akan menjadikan lebih efektif
daripada hubungan yang bersifat hierarkhis di dalam terapi.
Walter dan Peller menguraikan empat langkah yang memberikan
ciri kepada proses SFBT, yaitu :
1. Menemukan apa yang klien inginkan
daripada mencari apa yang mereka tidak inginkan.
2. Jangan mencari penyakit dan jangan
berusaha mengurangi klien dengan memberikan label diagnostik, alih-alih mencari
apa yang bisa dikerjakan klien dengan baik dan mendorong mereka untuk
meneruskannya searah dengan yang sudah dilakukan.
3. Jika apa yang klien lakukan tidak
bisa terlaksana dengan baik, kemudian doronglah mereka untuk mencoba hal lain
yang berbeda.
4. Usahakan terapi berlangsung singkat
dengan mendekati setiap pertemuan seolah-olah pertemuan itu sebagai pertemuan terakhir
dan hanya satu pertemuan.
Berikut
dipaparkan rincian langkah membangun solusi dalam SFBT menurut DeShazer, sebagai
dirangkum oleh Prochaska Norcross (2003):
a) Memfokuskan diri pada tujuan.
Terapi
dimulai dengan fokus pada tujuan-tujuan di hari kini yang bisa membangun hari
depan yang lebih baik. Pertanyaan penting dalam cakupan langkah ini adalah:
”Apa tujuan anda ketika anda dating kemari ?” Terapis membingkai terapi
diseputar tujuan-tujuan dihari kini bukan di seputar problem-problem
dihari-hari yang telah lewat.
b) Sejenak mendengarkan klien
membicarakan problem-problem.
Jika
klien menanggapi dengan berbicara tentang problem-problem dan keluhan-keluhan,
terapis perlu memahami dan berempati. Namun demikian, segera setelah kisah
tentang problem-problem yang telah disampaikan oleh klien, terapis bersiap-siap
untuk menggeser fokus.
c) Memfokuskan diri pada solusi.
Langkah
ini digerakkan oleh pertanyaan-pertanyaan;” Ketika problem
terselesaikan,tindakan apa yang akan anda lakukan secara beda?”
d) Memfokuskan diri pada perkecualian.
Pertanyaan
yang biasa dipakai untuk menemukan perkecualian-perkecualian positif adalah:”
Bagaimana anda dihari ini mengejawantahkan tindakan yang beda?”
e) Membuat penilaian antara pilihan
sadar dengan spontanitas.
1.
Apa
pengalaman-pengalaman yang bebas dari problem terjadi karena pilihan yang dibuat
secara sadar dan sengaja Ataukah pengalaman-pengalaman yang lebih sehat dan
lebih membahagiakan itu terjadi secara spontan;
2.
Jika
perkecualian itu sudah berada dibawah kendali klien, bisa segera dibangun
tujuan-tujuan spesifik yang mendorong klien membuat pilihan sadar untuk
melakukan lebih banyak laagi hal-hal yang bia membantu dirinya.
3.
Jika
perkecualian-perkecualian dianggap terjadi secara spontan saja focus diarahkan
ke proses terjadinya perkecualian-perkecualian itu.
4.
Jika
klien menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu dengan jawaban” Saya tidak tahu”.
Terapis perlu berusaha menerangkan kepada klien bahwa perkecualian yang terjadi
iitu merupakan tanda yang baik. Dapat diharapkan,upaya tersebut akan membantu
klien berfikir beda dan mulai membangun alternatif-alternatif yang sebelumnya
tidak terbayangkan.
f)
Melangkah
dari perubahan-perubahan kecil ke perubahan-perubahan yanglebih besar.
Sesi-sesi lanjutan dilakukan atas dasar capaian-capaian dan tujuan-tujuan yang
dibangun pada awal terapi. Seorang klien melukiskan perubahan yang ia alami
dalam terapi.
g) Selalu menyadari bahwa setiap solusi
adalah unik. Sebagaimana setiap klien adalah individu yang unik, setiap
solusipun unik. Terapis perlu bersiap-siap untuk terkejut menyaksikan keunukan
ssolusi klien.
h) Memekarkan solusi dari percakapan.
Solusi muncul dari dialog-dialog, baik dialog dari diri sendiri maupun
percakapan dalam terapi. Jika terapi mendorong klien berbicara tentang
problem-problem lama, dia akan menjadi diri yang lama. Perubahan dimulai ketika
klien berbicara tentang solusi. Jika terapi niscaya berlangsung singkat
saja,niscayalah sesegera mungkin dialog-dialog Terapeutik difokuskan ke
solusi-solusi.
i)
Menggunakan
bahasa klien sendiri.
Dalam aplikasinya,
pendekatan SFBT memiliki beberapa teknik intervensi khusus. Teknik ini
dirancang dan dikembangkan dalam rangka membantu konseli untuk secara sadar
membuat solusi atas permasalahan yang dihadapi. Menurut Corey (2009) teknik
SFBT adalah:
a.
Pertanyaan Pengecualian (Exception Question)
Terapi SFBT menanyakan pertanyaan-pertanyaan exception
untuk mengarahkan konseli pada waktu ketika masalah tersebut tidak ada atau
ketika masalah tidak begitu intens. Exception
merupakan pengalaman-pengalaman masa lalu dalam kehidupan konseli ketika pantas
mempunyai beberapa harapan masalah tersebut terjadi, tetapi bagaimanapun juga
tetap tidak terjadi (de Shazer dalam Corey 2009). Eksplorasi ini mengingatkan
konseli bahwa masalah-masalah tidak semua kuat dan tidak selamanya ada, tetapi
juga memberikan kesempatan untuk membangkitkan sumber daya, menggunakan
kekuatan-kekuatan dan menempatkan solusi-solusi yang mungkin. Dalam kosa kata
fokus solusi, ini disebut change-talk (Andrews &
Clark dalam Corey 2009).
b.
Pertanyaan Keajaiban (Miracle Question)
Miracle question merupakan
teknik utama SFBT. Konselor meminta konseli untuk mempertimbangkan bahwa suatu
keajaiban membuka berbagai kemungkinan masa depan. Konseli didorong untuk
membiarkan dirinya bermimpi sebagai cara untuk mengidentifikasi jenis perubahan
yang paling mereka inginkan. Pertanyaan ini memiliki fokus masa depan di mana
konseli dapat mulai untuk mempertimbangkan kehidupan yang berbeda yang tidak
didominasi oleh masalah-masalah masa lalu.
Konselor dapat bertanya, “Jika keajaiban terjadi dan masalah
Anda terpecahkan dalam semalam, bagaimana kau tahu itu dipecahkan, dan apa yang
akan menjadi berbeda?” Konseli kemudian didorong untuk memberlakukan “apa yang
akan menjadi berbeda” meskipun masalah yang dirasakan. Jika konseli menyatakan
bahwa dia ingin merasa lebih rahasia dan aman, konselor mungkin mengatakan:
“Biarkan diri Anda membayangkan bahwa Anda meninggalkan kantor hari ini dan
bahwa Anda berada di jalur untuk bertindak lebih percaya diri dan aman. Apa
yang akan Anda lakukan secara berbeda?”
c.
Pertanyaan Berskala (Scalling Question)
Terapis berfokus solusi juga menggunakan scalling
question ketika perubahan dalam pengalaman manusia tidak mudah
diamati, seperti perasaan, suasana hati (mood), atau
komunikasi (de Shazer & Berg dalam Corey 2009). Scalling question
memungkinkan konseli untuk lebih memperhatikan apa yang mereka telah lakukan
dan bagaimana meraka dapat mengambil langkah yang akan mengarahkan pada
perubahan-perubahan yang mereka inginkan.
d.
Rumusan Tugas Sesi Pertama (Formula Fist Session
Task/FFST)
FFST adalah suatu format tugas yang diberikan oleh
terapis kepada konseli untuk diselesaikan pada antara sesi pertama dan
sesi kedua. Konselor dapat berkata : “Antara sekarang dan pertemuan kita
selanjutnya, saya ingin Anda dapat mengamati sehingga Anda dapat menjelaskan
kepada saya pada pertemuan yang akan datang, tentang apa yang terjadi pada
(keluarga, hidup, pernikahan, hubungan) Anda yang diharapkan terus terjadi” (de
Shazeer, 1985 dalam Corey 2009). Pada sesi kedua, konseli dapat ditanya tentang
apa yang telah mereka amati dan apa yang mereka inginkan dapat terjadi di masa
mendatang.
Menurutde Shazer, intervensi ini cenderung meningkatkan optimisme
konseli dan harapantentang keadaan mereka. Konseli umumnya bekerja sama dengan
perubahan FFST dan laporan atau perbaikan sejak sesi pertama mereka (McKeel,
1996; Walter&Peller, 2000 dalam Corey 2009). BertolinodanO’Hanlon(dalam
Corey 2009) menunjukkan bahwa intervensi FFST digunakan setelah konseli memiliki
kesempatan untuk mengekspresikan keprihatinan, pandangan, dan cerita mereka.
e.
Umpan Balik (Feedback)
Para praktisi SFBT pada umumnya mengambil istirahat 5 sampai
10 menit menjelang akhir setiap sesi untuk menyusun suatu ringkasan pesan untuk
konseli. Selama waktu ini terapis memformulasikan umpan balik yang akan
diberikan pada konseli setelah istirahat. De Jong dan Berg (dalam Corey 2009)
menggambarkan tiga bagian dasar yaitu:
1.
Pujian adalah afirmasi asli dari
apa yang sudah dilakukan konseli dan mengarah pada solusi yang efektif. Memuji tidak
dilakukan dengan cara rutin atau mekanis,tetapi dengan cara yang menggembirakan
yang menciptakan harapan dan menyampaikanharapankepada konselibahwa mereka
dapatmencapai tujuan mereka dengan menggambar pada kekuatan dan
2.
Jembatan menghubungkan pujian
awal dengan pemberian tugas.
3. Pemberian tugas kepada konseli, yang
dapat dianggap sebagai pekerjaan rumah. Tugas observasional meminta konseli
untuk memperhatikan beberapa aspek kehidupan mereka. Proses pemantauan diri
membantu konseli memperhatikan perbedaan ketika ada yang lebih baik, terutama
apa yang berbeda tentang cara mereka berpikir, merasa, atau berperilaku.
Karena teknik SFBT tergolong
pendekatan post modern, SFBT memiliki keterbatasan yaitu
1.
Kurangnya perhatian pada pendefinisian
masalah/ menyederhanakan model.
2.
Dalam waktu singkat terapi harus mampu
melakukan penilaian untuk membantu klien memformulasikan tujuan khusus sehingga
terkesan prematur.
3.
Kredibilitasnya masih dipertanyakan.
4.
Posisi not-knowing menjadi kendala dalam
seting multicultural.
5.
Nylund dan Corsigglia (dalam Mc.
Leod.2010:173) menunjukan terapi ini dapat berisiko menjadi pemaksaan
solusi dan menyatakan pula bahwa beberapa klien mungkin saja menemukan siksaan
optimisme masa depan yang tidak berakhir.
If you're trying to lose fat then you absolutely need to start following this totally brand new custom keto meal plan diet.
BalasHapusTo create this service, licenced nutritionists, fitness trainers, and chefs united to develop keto meal plans that are effective, convenient, cost-efficient, and delightful.
From their grand opening in 2019, 100's of individuals have already transformed their body and well-being with the benefits a good keto meal plan diet can offer.
Speaking of benefits; in this link, you'll discover 8 scientifically-tested ones provided by the keto meal plan diet.