Rabu, 07 Juni 2017

KONSELING TRAIT AND FACTOR

Konseling Trait and Factor
Teori  ini  tergolong  pada  pandangan  kognitif  atau  pendekatan rasional.Pendekatan  ini  mencoba  secara  intelektual  dan  rasional  menerangkan kesulitan-kesulitan  yang  dihadapi  klien,  cara  pemecahan  kesulitan-kesulitan  serta proses konselingnya didekati secara logis rasional. Konseling dengan pendekatan trait and factor yang dipelopori oleh Williamson ini  disebut  pula  konseling  yang  mengarahkan  (directive  counseling),  karena  konselor secara  aktif   membantu  klien  mengarahkan  perilakunya  kepada  pemecahan kesulitannya. Maka konseling yang directive ini disebut pula  counseling centered atau konseling yang berpusat pada konselor. Dan konseling semacam inilah yang banyak dilakukan  disekolah-sekolah  baik  diluar  negeri  maupun  di  negara  kita.
Latar Belakang
     Trait dan faktor, dari sudut pandang Minnesota,  merrupakan suatu teori yang, differentialist, direktif dan, menggambarkan suatu penyuluhan putusan pendekatan yang berpusat selama empat decade yang d ditulis oleh edmund grift ( E.G ) williamson dan rekan-rekannya di university of minnesota, sebagian kecil membuktikan adanya pengaruh dari universitas minnesota, terkait nama tokoh yang, mempopulerkan teori ini diantaranya: patterson, darley, hagenah, williamson, bording, kuat, clark campbell, holland, hansen, biggs, dan banyak lainnya
Pendekatan teori trait and factor  klasik oleh Donald Patterson, john Darley, dan EG Williamson. Yang dibentuk pada tahun 1930-an merupakan hasil dari penyelidikan mereka secara langsung dari berbagai pengaturan,  dimulai pada akhir abad kesembilan belas dan abad kedua puluh, merupakan upaya yang empiris dan sistematis. Galton terintegrasi untuk mengukur perbedaan dalam kapasitas individu dan bakat, investigasi oleh Binet di Perancis dan Cattell di Amerika prediksi diferensial kecerdasan, dan pemanfaatan perbedaan individu tersebut, dalam aplikasi industri, mereka kemudian terikat dengan, pendekatan psikometrik untuk teori yang membahas teentang bimbingan kejuruan
Selama depresi besar, Paterson dan Darley membawa konsep ke lembaga penelitian Minnesota untuk melakukan pengujian terkait stabilisasi pekerjaan dengan  menggunakan tes psikologis dan perangkat penilaian lain untuk menganalisis kemampuan kejuruan mahasiswa. staf dari Minnesota sendiri ikut berperan dalam penyediaan diagnosis dan prognosis pelatihan pendidikan dan kejuruan, dan layanan penempatan semua digunakan dalam upaya komprehensif untuk menempatkan orang dalam pekerjaan. Pada waktu yang sama, Williamson diangkat sebagai direktur universitas Minnesota pengujian biro. Tugas biro ini untuk menerapkan prosedur bimbingan dikembangkan oleh Paterson untuk masalah pendidikan dan kejuruan siswa.
Pendiri/Pengembang Utama
      Menurut Burl, Dick, and Jim (1989) Trait dan faktor, dari sudut pandang Minnesota, merrupakan suatu teori yang differentialist, direktif dan, menggambarkan suatu penyuluhan putusan pendekatan yang berpusat selama empat decade yang d ditulis oleh Edmund Grift ( E.G ) Williamson dan rekan-rekannya di university of minnesota, sebagian kecil membuktikan adanya pengaruh dari universitas minnesota, terkait nama tokoh yang, mempopulerkan teori ini diantaranya: Patterson, Darley, Hagenah, Williamson, Bording, Clark Campbell, Holland, Hansen, Biggs, dan banyak lainnya.
Konsep Dasar
            Williamson mencatat bahwa “landasan konsep konseling modern” adalah terletak dalam  asumsi  individualitas  yang  unik  dari  setiap  anak  dan  identifikasi  keunikan tersebut  dengan  menggunakan  pengukuran  objektif  sebagai  lawan  dari  tekhnik perkiraan  subjektif.  Para  ahli  psikologi  telah  lama mencoba  instrument  yang  dapat mengukur dan menilai individu secaara objektif untuk digunakan dalam konseling baik dalam  pendidikan  maupun  vokasional.  Dengan  mengidentifikasikan  ciri  dan  factor individu,  konselor  dapat  membantunya  dalam  memilih  progam  studi,  mata  kuliah, perguruan  tinggi,  dan  sebagainya  secara  rasional  serta  membuat  perkiraan keberhasilan dimasa yang akan datang. Maksud  konseling  menurut  Williamson  adalah  untuk  membantu  perkembangan kesempurnaan  berbagai  aspek  kehidupan  manusia.  Dikatakan  selanjutnya  bahwa tugas  konseling  sifat  dan  faktor  adalah  membantu  individu  dalam  memperoleh kemajuan  memahami  dan  mengelola  diri  dengan  cara  membantunya  menilai kekuatan  dan  kelemahan  diri.  Dalam  hubungan  konseling,  individu  diharapkan mampu  menghadapi, menjelaskan,  dan  menyelesaikan  masalah-masalahnya.  Dari pengalaman  ini  individu  belajar  untuk  menghadapi  situasi  konflik  di  masa mendatang.
                                                                                                                    
Ansumsi  Tingkah Laku Sehat dan Bermasalah
            Tingkah laku sehat menurut TF adalah berpikir rasional, memahami kekuatan dan kelemahan diri, memapu mengembangkan potensi secara penuh, punya motivasi peningkatan diri, memiliki kontrol atas pengaruh buruk, dan dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat.
            Pribadi bermasalah menurut TF adalah internal dipengaruhi oleh emosi, potensi diri tidak berkembang, kurang kesempatan aktualisasi diri serta kurangnya kontrol diri eksternal.
Hakikat dan Tujuan Konseling
            Tujuan konseling adalah membantu individu bertumbuh kembang yang diarahkan pada perkembangan optimal diseluruh aspek kepribadian, sehingga konseling membantu individu mengalami self understanding, self acceptance, self clarification, self direction, self actualization.
Peran dan Fungsi Konselor
Peran konselor adalah memberitahukan, memberikan informasi, mengarahkan, oleh karena itu, pendekatan ini di sebut directive education conseling
1.      Sebagai guru
2.      Sebagai motivator
3.      Sebagai model
4.      Sebagai evaluator


Tahap-Tahap Konseling
Strategi untuk membantu klien dari sudut pandang diferensial, langkah-langkah dalam proses konseling merupakan kepentingan utama. Langkah-langkah berikut pertama kali dirumuskan oleh williamson dan Darley
1.      Analisis
Memperoleh pemahaman yang komprehensif, melalui teknik asessment yang tepat, mengumpulkan data tentang diri klien
2.      Sintesis
Pemesanan dan mengatur berbagai bagian dari klien menjadi gambaran total oleh asessing informasi kekuatan dan kelemahan seluruh aspek interpersonal kehidupan klien
3.      Diagnosis
Deskriptif mengidentifikasi masalah, menemukan penyebabnya, memeriksa logika dan reaksi klien, dan mengusulkan program aksi berdasarkan tujuan dan subjektif data yang persentasikan
4.      Prognosis
Peramalan dengan dasar pilihan yang tersedia.diagnosis berhubungan dengan masa lalu dan kondisi sekarang, sedangkan prognosis upaya prediksi masa depan
5.      Konseling
Dilakukan pengembangan alternative pemecahan masalah, pengujian alternative, pengambilan keputusan. Konseling dilakukan untuk menemukan  jalan keluar dari masalah klien.
Strategi pemecahan masalah yang dapat ditempuh dalam pengembangan alternative terdiri atas Forcing  Conformity,  Changing  Attitude,  Learning  The ,  Changing Environment, Selecting The Appropriate Environment.  meliputi 
a)      Forcing  Conformity,  suatu  saat  klien  dihadapkan  pada  posisi  yang tidak  mengenakkan.  Ia  harus  melaksanakan  tugas-tugas  hidup  yang di satu sisi ia harus jalani , maupun pada sisi lainnya ia tidak senang untuk  melaksanakan.  Pada  posisi  tidak  ada  pilihan  ini,  apabila  klien ingin  mencapai  tujuan  hidupnya  ia  harus  lakukan  juga.  Sebagai contoh,  klien  dihadapkan  pada  posisi   ia  tidak  senang  dengan  guru matematika , sedangkan guru itu satu-satuya di sekolah. Pada posisi ini klien harus mengikuti pelajaran matematika kalau ia ingin lulus dari sekolah tersebut.
b)      Changing  Atittude,   dalam  berbagai  kasus  ,  masalah  klien  dapat diselesaikan melalui megubah sikap-sikap yang ditampilkan selama ini yang diduga menjadi penyebab timbulnya masalah yangdialami klien. Sebagai  ilustrasi,  seorang  siswa  /  mahasiswa  mengalami  masalah pergaulan  dengan  teman  disekolah  /  kampus,  karena  dimata  teman bergaul,  namun  karena  sifat  hidupnya  membuat  ia  tidak  disenangi teman. Oleh karena itu , klien harus mengubah sikap-sikap yang tidak disukai kawan.
c)      Learning  The  Needed  Skills,   banyak  klien  yang  gagal  mencapai tujuan , karena ia tidak terampil, sebagai contohndah, karena ia tidak dapat memakai alat tulis secara benar, ia tidak terampil membaca, ia tidak   bias  mengemukakan  pendapat.  Contoh  lain,  lien  tidak  bisamemilih teman akrab , karena ia tidak terampil memulai pembicaraan , ia tidak memiliki rasa humor, ia tidak bisa merespon secara memadai atas pendapat kawan sekolah.
d)     Selecting  The  Appropriate  Environment,dalam  keadaan  tertentu perubahan  sikap  dan  perilaku  klien  sulit  dilaukan   karena  lingkungan yang  tidak  memungkinkan  untuk  melakukan  perilaku-perilaku  yang dimaui.
e)      Changing Environment, beberapa masalah timbul karena lingkungan yang  tidak  mendukung  .  Misalnya,  seorang  hendak  melakukan  diet, tetapi dalam keluarga selalu tersedia makanan kecil. Mahasiswa kost pada  kamar  dan  sekaligus   ruang  belajar  dalam  keadaan  semrawut. Kedua  keadaan  menunjukan  perlunya  perubahan  .  ketika  diet dijalank
6.      Follow up
Memperkuat, mengevaluasi kembali, dan memeriksa kemajuan klien dalam menerapkan apa yang telah dipelajari dalam konseling untuk kehidupan sehari-hari
                                               Teknik Spesifik Konseling
            Teknik konseling yang terdapat dalam TF yaitu :
1.      Establishing raport adalah penerimaan dan penghargaan dari konselor, reputasi dan kompetensi konselor, perhatian konselor dan dapat menyimpan rahasia.
2.      Cultivating self understanding, membantu klien memahami dirinya.
3.      Advising/ planning a program action, membantu merencanakan program
4.      Carrying out the plan , membantu merencanakan tindakan
5.      referal
Kelemahan dan Kelebihan
            Kelemahan pendekatan ini adalah dibutuhkan bannya waktu dan usaha untuk mengubah pemikiran irasional klien, masalah korelatif konselor untuk memimpin klien dengan nilai yang tepat dan benar, ketergantungan etrhadap keahlian konselor, pendekatan ini kurang intim.
            Sedangkan kelebihan pendekatan TF adalah berguna untuk proses perubahan diri,  TF adalah sistim praktis konseling, pendekatan ini membuat klien berpikir realistis, selain itu TF juga merupakan pendekatan tim dan rujukan ke spesialis lain.
5.Konseling SFBT
            Palmer (2011:301) menjelaskan terapi ini didasarkan pada kepercayaan fundamental bahwa manusia itu pada intinya terpercaya, sosial, dan kreatif. Ekspresi praktis kepercayaan tersebut adalah kemauan terapis untuk mengosongkan posisi keahlianya dan justru bekerja untuk memampukan klien menyadari sumber dayanya sendiri dan pemahaman dirinya. Konseling berfokus pribadi menekankan perseptual internal  dan dunia emosional kita sebagai sumber pemahaman bagi pikiran, perasaan, dan tindakan kita.
Latar Belakang
     Mc.leod (2010:165) menjelaskan bahwa terapi ini diasosiasikan sebagai hasil kerja sebagai hasil kerja Steve de Shazer di Brief Family Therapy Center (Pusat Terapi Keluarga Singkat) di Milwaukee, termasuk kelompok kolega dan para kolaborator lainya seperti Insoo Kim Berg, Yvone Dolan, Bill O’Hanlan, rowan. De Shazer memiliki latar belakang musik dan pekerja sosial. Dalam pendidikanya sebagai psikoterapis dipengaruhi oleh teori dan riset yang dilakukan Mental Research  Institute (MRI) di Palo Alto, California. Selama tahun 1950-an, kelompok Palo Alto yang pertama kali mempelajari pola interaksi dalam keluarga. Pendekatan mereka banyak meminjam ide antropologi dan sosiologi. Dari pengalamanya dengan dengan kelompok Palo Alto dia mendapatkan sejumlah prinsip terapi inti yang dapat ditemukan dalam terapi sistim keluarga, yaitu :
·         Keyakinan bahwa intervensi dapat bersifat singkat dan “strategis”
·         Penghargaan terhadap penggunaan pertanyaan untuk mengajak klien mempertimbangkan alternatif tindakan
·         Penggunaan “tim pengamat” yang memberikan masukan kepada terapis selama masa jeda.
De Shazer tertarik dengan terapi berpendekatan unik yang dikembangkan oleh Milton H Erickson. Milton H Erickson adalah figur menarik yang memainkan peran penting dalam sejarah psikoterapi. Pada awalnya karirnya ia memberikan kontribusi besar dalam bidang hipnotis medis. Walaupun Erickson terkenal dengan penggunaan hipnotisnya, namun menurutnya efektivitas terapinya tidak bersandar pada pengguaan sugesti yang dilakukan kepada klien yang sedang dalam kondisi trance. Efektivitas lebih didasarkan pada penggunaan bahasa yang sensitif dan kreatif, metafora, dan cerita serta kemampuanya untuk mengamati detail paling kecil perilaku klien dan kemampuanya membangun hubungan kolaboratif dengan klien. 
Kasus studi yang dipublikasikan oleh Erickson meyakinkan De Shazer bahwa ada kemungkinan untuk menangani klien individu—bukan hanya keluarga—secara singkat dan strategis, sehingga ada kemungkinan terdapat solusi unik untuk masalah mereka. Setelah beberapa tahun De Shazer mengembangkan pendekatannya sendiri yang menekankan pada peran bahasa dalam mengkontruksi relaitas pribadi. Esensi dari pendekatanya adalah ide “membicarakan masalah” mepertahankan kelangsungan masalah atau mempertahankan sentralitas masalah dalam kehidupan. Tugas para terapis adalah mengajak klien terlibat dalam pembicaraan mencari solusi (solution talk) disamping dengan hormat menerima keinginan klien untuk membicarakan tekanan dan keputusan mereka, dan keburukan umum dari masalah.
Pendiri/Pengembang Utama
     SFBT tidak memiliki penemu tunggal sebagaimana teori-teori konseling tradisional. Banyak ahli yang saling memberikan kontribusi pada teori konseling ini. Namun demikian, terdapat beberapa ahli yang dianggap memberikan kontribusi paling besar pada SFBT sehingga terbentuk menjadi teori yang komprehensif seperti saat ini, di antaranya: Steve de Shazer, Bill O’Hanlon, Michele Weiner-Davis, dan Insoo Kim Berg.
Konsep Dasar
Corey (2009: 388) mengungkapkan terapi berfokus solusi berbeda dari terapi tradisional karena mengabaikan masa lampau dan lebih setuju dengan masa sekarang dan masa yang akan datang. Terapi ini memberi penekanan yang besar pada kemungkinan sedikit atau tidak adanya ketertarikan untuk memperoleh pemahaman terhadap masalah. De Shazer (dalam Corey,2009:378)  menganjurkan bahwa tidaklah perlu mengetahui sebab-sebab masalah dalam solusinya dan tidak perlu ada hubungan antara masalah dan solusinya. Pengumpulan informasi mengenai masalah tidaklah dibutuhkan untuk terjadi perubahan, yang penting adalah mencari solusi masalah yang benar. Di dalam SFBT klien memilih tujuan yang mereka harapkan bisa tercapai di dalam terapi, dan hanya sedikit perhatian yang diberikan untuk diagnosis, pengungkapan riwayat atau eksplorasi masalah.
Menurut Gerald Corey (2009:378) terapi singkat berfokus solusi didasarkan pada asumsi yang optimistik bahwa manusia itu sehat dan kompeten dan memiliki kemampuan untuk membangun solusi yang dapat meningkatkan hidupnya. Lepas dari berbentuk seperti apapun klien yang terlibat dalam terapi adalah mampu. Berg percaya bahwa klien adalah kompeten dan peran konselor adalah membantu klien agar menyadari bahwa ia mempunyai kemampuan itu. Proses terapi menyediakan suatu keadaan yang menjadikan individu memfokuskan diri pada pemulihan dan penciptaan solusi ketimbang membicarakan problem mereka.
O’Connell (dalam Palmer,2011:549) berpendapat bahwa SFBT adalah bentuk terapi singkat yang dibangun atas kekuatan klien dengan membantunya memunculkan dan mengkontruksikan solusi pada problem yang dihadapinya. Terapi ini lebih menekankan pada masa depan ketimbang masa kini atau masa lalu. Dalam  pendekatan ini konselor dan klien mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mengkontruksi solusi ketimbang mengeksplorasi masalah. Konselor dan klien mencoba mengidentifikasi sejelas mungkin hal yang ingin dlihat klien dalam kehidupanya. Konselor hanya melakukan intervensi minimal dalam kehidupan klien—tugasnya adalah memunculkan pemicu perubahan yang akan dilanjutkan setelah konseling. Konselor bernegosiasi dengan klien untuk mengidentifikasi problem prioritas yang tujuanya bisa dicapai.

Ansumsi  Tingkah Laku Sehat dan Bermasalah
Pribadi sehat
·         Pribadi yang mampu (kompeten), memiliki kapasitas untuk membangun, merancang ataupun mengkonstruksikan solusi-solusi, sehingga individu tersebut tidak terus menerus berkutat dalam problem-problem yang sedang ia hadapi.
·         Pribadi yang tidak terpaku pada masalah, namun ia lebih berfokus pada solusi, bertindak dan mewujudkan solusi yang ia inginkan.
Pribadi bermasalah
·       Individu menjadi bermasalah karena ketidakefektifannya dalam mencari dan menggunakan solusi yang dibuatnya.
·       Individu menjadi bermasalah karena ia meyakini bahwa ketidakbahagiaan atau ketidaksejahteraan ini berpangkal pada dirinya.

Hakikat dan Tujuan Konseling
            Konseling merupakan proses memfasilitasi konseli untuk menemukan solusi yang dikonstruksi oleh dirinya sendiri, tanpa berfokus pada masalah yang dibawanya.
Walter dan Peller (dalam Corey, 2013) menyebutkan hakikat SFBT:
1.      Individu yang datang ke terapi mampu berperilaku efektif meskipun kelakuan keefektifan ini mungkin dihalangi sementara oleh pandangan negatif.
2.      Ada keuntungan-keuntungan untuk fokus pada solusi dan pada masa depan. Jika konseli dapat reorientasi diri ke arah kekuatan menggunakan
solution-talk, terapi bisa singkat.
3.      Ada penyangkalan pada setiap problem. Dengan membicarakan penyangkalan-penyangkalan ini, konseli dapat mengontrol apa yang terlihat menjadi sebuah problem yang tidak mungkin diatasi, penyangkalan ini memungkinkan terciptanya sebuah solusi.
4.      Konseli sering hanya menampilkan satu sisi dari diri mereka, SFBT mengajak konseli untuk menyelidiki sisi lain dari cerita yang sedang mereka tampilkan.
5.      Perubahan kecil adalah cara untuk mendapatkan perubahan yang lebih besar.
6.      Konseli yang ingin berubah mempunyai kapasitas untuk berubah dan mengerjakan yang terbaik untuk membuat suatu perubahan itu terjadi.
7.      Konseli dapat dipercaya pada niat mereka untuk memecahkan masalah. Tiap individu adalah unik dan demikian juga untuk tiap-tiap solusi.
Tujuan dari terapi singkat berfokus solusi sebagai berikut :
1.      Mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat.
2.      Mengantar klien/manusia meraih kehidupan yang lebih sehat dan lebih bahagia baik masa kini maupun ke masa depan.
3.      Membantu klien mengidentifikasi perubahan-perubahan yang diinginkan klien, terjadi di dalam kehidupan mereka dan terus terjadi.
4.      Membantu klien membangun visi yang dipilih untuk masa depan mereka.
5.      Membantu klien mengidentifikasi hal-hal yang baik untuk kehidupan mereka saat ini dan ke masa depan.
6.      Membantu klien membawa kesuksesan sekecil apapun ke dalam kesadaran mereka.
7.      Membantu klien untuk mengulang keberhasilan yang pernah mereka lakukan.
8.      Pengubahan pandangan mengenai situasi atau kerangka berpikir, pengubahan cara menghadapi situasi problematik, dan merekam sumber-sumber dan kekuatan klien.
Tujuan terapi SFBT adalah adalah menghargai kemampuan klien dalam menghadapi masalah dengan menanyakan kepada mereka apakah mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, atau mengajak mereka untuk menyatakan apa yang harus terjadi pada diri mereka untuk mengetahui kesiapan untuk mengakhiri terapi ( Mc.Leod.2011:172).



Peran dan Fungsi Konselor
1.        Sebagai mitra
Konselor berusaha untuk menciptakan hubungan kolaboratif untuk membuka berbagai kemungkinan perubahan masa depan. Konselor menciptakan iklim saling menghormati, dialog, pertanyaan, dan penegasan di mana klien bebas untuk menciptakan, mengeksplorasi dan menulis cerita-cerita mereka yang berkembang.
2.        Sebagai motivator
Bila solusi-solusi yang telah direncanakan oleh konseli belum membuahkan hasil, maka konselor bertugas untuk menyemangati konseli agar terus mencoba dengan alternatif solusi lainnya.

Tahap-Tahap Konseling
Bertolino dan O’Hanlon menekankan pentingnya menciptakan hubungan kerja sama dalam terapi dan memandangnya sebagai kebutuhan untuk keberhasilan terapi. Dengan menyadari bahwa konselor memiliki keahlian di dalam menciptakan konteks untuk perubahan, mereka menekankan bahwa klien adalah ahli dalam kehidupan yang dialaminya dan sering memiliki perasaan yang baik terhadap apa yang sudah atau yang belum dikerjakan di masa lampau, dan juga sama halnya dengan apa yang harus dikerjakan di waktu yang akan datang. Jika klien terlibat di dalam proses terapi dari awal hingga akhir, kesempatan klien semakin meningkat dan terapi akan berhasil. Singkatnya, hubungan kooperatif dan kolaboratif cenderung akan menjadikan lebih efektif daripada hubungan yang bersifat hierarkhis di dalam terapi.
Walter dan Peller menguraikan empat langkah yang memberikan ciri kepada proses SFBT, yaitu :
1.      Menemukan apa yang klien inginkan daripada mencari apa yang mereka tidak inginkan.
2.      Jangan mencari penyakit dan jangan berusaha mengurangi klien dengan memberikan label diagnostik, alih-alih mencari apa yang bisa dikerjakan klien dengan baik dan mendorong mereka untuk meneruskannya searah dengan yang sudah dilakukan.
3.      Jika apa yang klien lakukan tidak bisa terlaksana dengan baik, kemudian doronglah mereka untuk mencoba hal lain yang berbeda.
4.      Usahakan terapi berlangsung singkat dengan mendekati setiap pertemuan seolah-olah pertemuan itu sebagai pertemuan terakhir dan hanya satu pertemuan.
Berikut dipaparkan rincian langkah membangun solusi dalam SFBT menurut DeShazer, sebagai dirangkum oleh Prochaska Norcross (2003):
a)       Memfokuskan diri pada tujuan.
Terapi dimulai dengan fokus pada tujuan-tujuan di hari kini yang bisa membangun hari depan yang lebih baik. Pertanyaan penting dalam cakupan langkah ini adalah: ”Apa tujuan anda ketika anda dating kemari ?” Terapis membingkai terapi diseputar tujuan-tujuan dihari kini bukan di seputar problem-problem dihari-hari yang telah lewat.
b)       Sejenak mendengarkan klien membicarakan problem-problem.
Jika klien menanggapi dengan berbicara tentang problem-problem dan keluhan-keluhan, terapis perlu memahami dan berempati. Namun demikian, segera setelah kisah tentang problem-problem yang telah disampaikan oleh klien, terapis bersiap-siap untuk menggeser fokus.
c)       Memfokuskan diri pada solusi.
Langkah ini digerakkan oleh pertanyaan-pertanyaan;” Ketika problem terselesaikan,tindakan apa yang akan anda lakukan secara beda?”
d)      Memfokuskan diri pada perkecualian.
Pertanyaan yang biasa dipakai untuk menemukan perkecualian-perkecualian positif adalah:” Bagaimana anda dihari ini mengejawantahkan tindakan yang beda?”
e)       Membuat penilaian antara pilihan sadar dengan spontanitas.
1.        Apa pengalaman-pengalaman yang bebas dari problem terjadi karena pilihan yang dibuat secara sadar dan sengaja Ataukah pengalaman-pengalaman yang lebih sehat dan lebih membahagiakan itu terjadi secara spontan;
2.        Jika perkecualian itu sudah berada dibawah kendali klien, bisa segera dibangun tujuan-tujuan spesifik yang mendorong klien membuat pilihan sadar untuk melakukan lebih banyak laagi hal-hal yang bia membantu dirinya.
3.        Jika perkecualian-perkecualian dianggap terjadi secara spontan saja focus diarahkan ke proses terjadinya perkecualian-perkecualian itu.
4.        Jika klien menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu dengan jawaban” Saya tidak tahu”. Terapis perlu berusaha menerangkan kepada klien bahwa perkecualian yang terjadi iitu merupakan tanda yang baik. Dapat diharapkan,upaya tersebut akan membantu klien berfikir beda dan mulai membangun alternatif-alternatif yang sebelumnya tidak terbayangkan.
f)        Melangkah dari perubahan-perubahan kecil ke perubahan-perubahan yanglebih besar. Sesi-sesi lanjutan dilakukan atas dasar capaian-capaian dan tujuan-tujuan yang dibangun pada awal terapi. Seorang klien melukiskan perubahan yang ia alami dalam terapi.
g)       Selalu menyadari bahwa setiap solusi adalah unik. Sebagaimana setiap klien adalah individu yang unik, setiap solusipun unik. Terapis perlu bersiap-siap untuk terkejut menyaksikan keunukan ssolusi klien.
h)       Memekarkan solusi dari percakapan. Solusi muncul dari dialog-dialog, baik dialog dari diri sendiri maupun percakapan dalam terapi. Jika terapi mendorong klien berbicara tentang problem-problem lama, dia akan menjadi diri yang lama. Perubahan dimulai ketika klien berbicara tentang solusi. Jika terapi niscaya berlangsung singkat saja,niscayalah sesegera mungkin dialog-dialog Terapeutik difokuskan ke solusi-solusi.
i)         Menggunakan bahasa klien sendiri.

Teknik Spesifik Konseling
     Dalam aplikasinya, pendekatan SFBT memiliki beberapa teknik intervensi khusus. Teknik ini dirancang dan dikembangkan dalam rangka membantu konseli untuk secara sadar membuat solusi atas permasalahan yang dihadapi. Menurut Corey (2009) teknik SFBT adalah:
a.  Pertanyaan Pengecualian (Exception Question)
Terapi SFBT menanyakan pertanyaan-pertanyaan exception untuk mengarahkan konseli pada waktu ketika masalah tersebut tidak ada atau ketika masalah tidak begitu intens.  Exception merupakan pengalaman-pengalaman masa lalu dalam kehidupan konseli ketika pantas mempunyai beberapa harapan masalah tersebut terjadi, tetapi bagaimanapun juga tetap tidak terjadi (de Shazer dalam Corey 2009). Eksplorasi ini mengingatkan konseli bahwa masalah-masalah tidak semua kuat dan tidak selamanya ada, tetapi juga memberikan kesempatan untuk membangkitkan sumber daya, menggunakan kekuatan-kekuatan dan menempatkan solusi-solusi yang mungkin. Dalam kosa kata fokus solusi, ini disebut change-talk (Andrews & Clark dalam Corey 2009).
b.  Pertanyaan Keajaiban (Miracle Question)
Miracle question merupakan teknik utama SFBT. Konselor meminta konseli untuk mempertimbangkan bahwa suatu keajaiban membuka berbagai kemungkinan masa depan. Konseli didorong untuk membiarkan dirinya bermimpi sebagai cara untuk mengidentifikasi jenis perubahan yang paling mereka inginkan. Pertanyaan ini memiliki fokus masa depan di mana konseli dapat mulai untuk mempertimbangkan kehidupan yang berbeda yang tidak didominasi oleh masalah-masalah masa lalu.
Konselor dapat bertanya, “Jika keajaiban terjadi dan masalah Anda terpecahkan dalam semalam, bagaimana kau tahu itu dipecahkan, dan apa yang akan menjadi berbeda?” Konseli kemudian didorong untuk memberlakukan “apa yang akan menjadi berbeda” meskipun masalah yang dirasakan. Jika konseli menyatakan bahwa dia ingin merasa lebih rahasia dan aman, konselor mungkin mengatakan: “Biarkan diri Anda membayangkan bahwa Anda meninggalkan kantor hari ini dan bahwa Anda berada di jalur untuk bertindak lebih percaya diri dan aman. Apa yang akan Anda lakukan secara berbeda?”
c.  Pertanyaan Berskala (Scalling Question)
Terapis berfokus solusi juga menggunakan scalling question ketika perubahan dalam pengalaman manusia tidak mudah diamati, seperti perasaan, suasana hati (mood), atau komunikasi (de Shazer & Berg dalam Corey 2009). Scalling question memungkinkan konseli untuk lebih memperhatikan apa yang mereka telah lakukan dan bagaimana meraka dapat mengambil langkah yang akan mengarahkan pada perubahan-perubahan yang mereka inginkan.
d.  Rumusan Tugas Sesi Pertama (Formula Fist Session Task/FFST)
FFST adalah suatu format tugas yang diberikan oleh terapis  kepada konseli untuk diselesaikan pada antara sesi pertama dan sesi kedua. Konselor dapat berkata : “Antara sekarang dan pertemuan kita selanjutnya, saya ingin Anda dapat mengamati sehingga Anda dapat menjelaskan kepada saya pada pertemuan yang akan datang, tentang apa yang terjadi pada (keluarga, hidup, pernikahan, hubungan) Anda yang diharapkan terus terjadi” (de Shazeer, 1985 dalam Corey 2009). Pada sesi kedua, konseli dapat ditanya tentang apa yang telah mereka amati dan apa yang mereka inginkan dapat terjadi di masa mendatang.
Menurutde Shazer, intervensi ini cenderung meningkatkan optimisme konseli dan harapantentang keadaan mereka. Konseli umumnya bekerja sama dengan perubahan FFST dan laporan atau perbaikan sejak sesi pertama mereka (McKeel, 1996; Walter&Peller, 2000 dalam Corey 2009). BertolinodanO’Hanlon(dalam Corey 2009) menunjukkan bahwa intervensi FFST digunakan setelah konseli memiliki kesempatan untuk mengekspresikan keprihatinan, pandangan, dan cerita mereka.
e.  Umpan Balik (Feedback)
Para praktisi SFBT pada umumnya mengambil istirahat 5 sampai 10 menit menjelang akhir setiap sesi untuk menyusun suatu ringkasan pesan untuk konseli. Selama waktu ini terapis memformulasikan umpan balik yang akan diberikan pada konseli setelah istirahat. De Jong dan Berg (dalam Corey 2009) menggambarkan tiga bagian dasar yaitu:
1.      Pujian adalah afirmasi asli dari apa yang sudah dilakukan konseli dan mengarah pada solusi yang efektif. Memuji tidak dilakukan dengan cara rutin atau mekanis,tetapi dengan cara yang menggembirakan yang menciptakan harapan dan menyampaikanharapankepada konselibahwa mereka dapatmencapai tujuan mereka dengan menggambar pada kekuatan dan
2.      Jembatan menghubungkan pujian awal dengan pemberian tugas.
3. Pemberian tugas kepada konseli, yang dapat dianggap sebagai pekerjaan rumah. Tugas observasional meminta konseli untuk memperhatikan beberapa aspek kehidupan mereka. Proses pemantauan diri membantu konseli memperhatikan perbedaan ketika ada yang lebih baik, terutama apa yang berbeda tentang cara mereka berpikir, merasa, atau berperilaku.
Kelemahan dan Kelebihan
            Karena teknik SFBT tergolong pendekatan post modern, SFBT memiliki keterbatasan yaitu
1.        Kurangnya perhatian pada pendefinisian masalah/ menyederhanakan model.
2.        Dalam waktu singkat terapi harus mampu melakukan penilaian untuk membantu klien memformulasikan tujuan khusus sehingga terkesan prematur.
3.        Kredibilitasnya masih dipertanyakan.
4.        Posisi not-knowing menjadi kendala dalam seting multicultural.

5.        Nylund dan Corsigglia (dalam Mc. Leod.2010:173)  menunjukan  terapi ini dapat berisiko menjadi pemaksaan solusi dan menyatakan pula bahwa beberapa klien mungkin saja menemukan siksaan optimisme masa depan yang tidak berakhir.

1 komentar:

  1. If you're trying to lose fat then you absolutely need to start following this totally brand new custom keto meal plan diet.

    To create this service, licenced nutritionists, fitness trainers, and chefs united to develop keto meal plans that are effective, convenient, cost-efficient, and delightful.

    From their grand opening in 2019, 100's of individuals have already transformed their body and well-being with the benefits a good keto meal plan diet can offer.

    Speaking of benefits; in this link, you'll discover 8 scientifically-tested ones provided by the keto meal plan diet.

    BalasHapus

silahkan tinggalkan pesan. saya harap kita bisa berteman. semoga blog ini bermanfaat, amin : )