UNNES

Visi Unnes adalah: menjadi universitas konservasi, bertaraf internasional, yang sehat, unggul, dan sejahtera pada tahun 2020.

pendidikan di Indonesia

pendidikan di Indonesia dipenuhi dengan berbagai kepentingan pribadi lalu bagaimana nasib anak bangsa ini ?

bimbingan dan Konseling

BK membantu individu untuk mengatasi masalahnya agar tercipta kebahagiaan dalam diri individu.

jadilah pribadi yang bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian

kedamaian jiwa seseorang terletak pada kebijaksanaannya menghadapi persoalan hidup

sumpah mahasiswa

berusaha untuk menjadi mahasiswa yang bermanfaat untuk negeri.

Jumat, 04 September 2015

teknik dan media konseling anak SD

A.    Konseling Anak Pada Middle Childhood (5-9 Tahun)
Secara umum, anak-anak usia ini menghadapi masalah pada empat area (Baruth & Robinson III, 1987) :
1.      Sekolah:
a.       Memahami guru dan dipahami guru,
b.      Takut bertanya di kelas,
c.       Menghadapi tugas-tugas yang terlalu sulit,
d.      Ingin lebih baik pada mata pelajaran tertentu,
e.       Tidak menyukai bidang tertentu,
f.       Dibebani pekerjaan yang terlalu mudah.
2.      Keluarga:
a.       Ingin lebih dekat dengan orangtua,
b.      Merasa orangtua terlalu ketat dan berharap terlalu banyak,
c.       Ingin punya relasi lebih baik dengan saudara sekandung,
d.      Ingin mempunyai lebih banyak kebersamaan dengan orangtua.
3.      Hubungan dengan orang lain:
a.       Ingin punya lebih banyak teman,
b.      Bahan ejekan teman,
c.       Membuat teman yang disukai mau bermain dengannya,
d.      Takut bicara dengan orang,
e.       Belajar menyesuaikan dengan orang lain; untuk menjadi bagian dari sesuatu dan diterima.
4.      Diri sendiri:
a.       Tidak bahagia,
b.      Merasa tidak akurat secara fisik, sosial atau pribadi,
c.       Belajar bagaimana mengelola perasaan,
d.      Belajar menangani perasaan malu (shyness) atau perasaan sepi (lonesome).
B.     Beberapa Teknik yang Dapat Digunakan
1.      Konseling Melalui Bermain
Menurut Baruth dan Robinson III (1987), salah satu bentuk konseling yang sering digunakan untuk anak usia sekolah ini adalah konseling melalui bermain. Cara ini didasarkan pada fakta bahwa bermain merupakan cara natural bagi anak untuk mengekspresikan diri. Jadi bermain anak memperoleh kesempatan untuk play out perasaan-perasaan dan masalahnya.
Bagi anak sekolah dasar dalam mengungkapkan permasalahan yang dialami mengalami kesulitan.  Selain itu juga dalam berkomunikasi dengan teman sebaya kurang efektif, masih bersifat egois. Kebanyakan anak  justru akan terlihat ketakutan atau memperlihatkan penolakan terhadap pendapat orang lain atau jika orang dewasa mendekatinya dengan menggunakan bahasa verbal.
Salah satu waktu anak bisa berekspresi adalah saat mereka bermain.  Sebagaimana diungkap oleh Muro & Kottman (1995) bahwa bermain merupakan bentuk self expression bawaan anak.  Bermain terjadi secara alamiah pada anak dan merupakan suatu ekspresi spontan dari emosi dan pikiran-pikirannya.  Konselor tentu harus memanfaatkan situasi ini untuk mengeksplor emosi dan pikiran anak.
            Freud memandang bermain ekuivalen dengan bahasa orang dewasa. Sementara M. Klein (Muro & Kottman,1995) memandang lain. Dia berpendapat bahwa aktivitas bermain dapat diinterpretasi  langsung oleh konselor secara bebas (free association).
Permainan anak berkembang sesuai dengan usianya.  Misalnya  bermain dengan aspek sensory motor merupakan dua jenis bermain yang dilakukan oleh anak pada usia tiga tahun pertama ; sedangkan bermain simbolik  mencapai puncaknya pada usia empat dan lima tahun yang kemudian diikuti dengan semakin meningkatnya aktivitas permainan dengan aturan bermain konstruktif. Kecenderungan-kecenderungan perkembangan bermain tersebut memberikan suatu indikasi tentang bahan, program, dan aktivitas bermain yang perlu disediakan bagi keperluan pendidikan dan bimbingan konseling anak.
Play therapy , suatu teknik terapi yang dilakukan untuk menghadapi konseli, utamanya  yang mengalami gangguan mental seperti phobia, anxiety, trauma, underconvidence, child abuse, alcoholics & addicts, child victims of incest, allergies,stutering
Terapi permainan merupakan terapi kejiwaan namun dalam pelaksanaannya faktor ekspresi-gerak menjadi titik tumpuan bagi analisa terapeutic dengan medianya adalah bentuk-bentuk permainan yang dapat menimbulkan kesenangan, kenikmatan dan tidak ada unsur paksaan serta menimbulkan motivasi dalam diri sendiri yang bersifat spontanitas, sukarela dan mempunyai pola atau aturan yang tidak mengikat. Pengertian Terapi Bermain merupakan suatu teknik penyembuhan terhadap anak berkebutuhan khusus, dengan menggunakan media berbagai macam bentuk permainan, baik tanpa maupun memakai alat yang tidak membahayakan dirinya, dan dapat dilaksanakan di alam terbuka sepanjang membantu program pembelajaran.
Semula terapi bermain diterapkan berdasarkan ajaran dan pola kerja dari sigmund freud dengan titik tolaknya pada analisa kejiwaan sebagai alat untuk kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kemampuan : berbicara, rasa interest, kebenaran mengungkapkan “perasaan diri”.
Terapi bermain berkembang menjadi suatu terapi yang menitik beratkan pada gerak seseorang (psychomotor performance) dengan alatnya berbagai bentuk permainan. Bentuk permainan ini pun diharapkan dapat memacu anak yang bersangkutan dapat melakukan kegiatan sehari-hari. Misalnya ; kegiatan toilet training.
Pada tahap bermain ini, anak sangat tertarik untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan menciptakan mainannya sendiri (berkreasi), mulai menyukai kegiatan bermain yang menggunakan angka dan kode-kode rahasia, mulai menunjukkan siapa dirinya, keahliannya, talenta dan kemampuannya, sudah mulai memahami makna kata, huruf dan angka, sudah mampu membangun konsep kerjasama dan sudah mengenal rasa bersaing.
Landreth mengemukakan bahwa dalam proses konseling bermain, konselor hendaknya menyelesaikan sasaran-sasaran berikut :
a.       Membangun suasana yang aman bagi anak dengan merespon anak dengan baik
b.      Memahami dan menerima pandangan anak tentang lingkungannya dengan menunjukkan perhatian yang tepat
c.       Mendorong anak untuk mengekspresikan emosinya tanpajudgement
d.      Mendorong anak untuk bertanggung jawab dan membuat keputusan sendiri dalam permainannya
e.       Menyedikan peluang kepada anak untuk mengembangkan kemampuan pengendalian diri dan menghadapi peristiwa yang mungkin akan dihadapinya
f.       pengalaman dan pengamatan konselor tentang perasaan dan tindakan anak.
2.      Friendship Group
Baruth dan Robinson III (1987) menyebutkan suatu cara lain, yaitu dengan pelatihan “kelompok pertemanan”. Tujuan dari pembentukan kelompok ini adalah untuk menjajaki hubungan teman sebaya (peer) yang positif. Kelompok yang dibentuk bersifat heterogen (laki, perempuan, berbagai etnik, dan lain-lain). Pemilihan anggota kelompok ini berdasarkan pada minta dan rujukan oleh guru, asesmen dilakukan oleh konselor untuk memilih setiap anggota kelompok dalam satu kelompok. Pada dasarnya melalui kelompok ini anak belajar mengenai arti persahabatan serta aturan-aturan penting dalam hubungan persahabatan. Mereka diminta untuk mengobservasi teman kelompoknya, bermain peran, berdiskusi mengenai minat dan kelebihan masing-masing dan kemudian ditutup dengan pengungkapan kesan-kesan dari pertemuan mereka selama ini dalam pesta perpisahan.
Teman sebaya atau peers adalah anak-anak atau remaja dengan tingkat kematangan atau usia yang kurang lebih sama. Salah satu fungsi terpenting dari kelompok teman sebaya adalah untuk memberikan sumber informasi dan komparasi tentang dunia di luar keluarga. Melalui kelompok teman sebaya individu menerima umpan balik dari teman-teman mereka tentang kemampuan mereka.
Menurut Bernardus Widodo tujuan konseling yang diharapkan, yaitu:
a.       Terjadinya perubahan ke arah yang positif,
b.      Terciptanya satu kondisi agar konseli merasa bebas melakukan eksplorasi diri,
c.       Penyesuaian diri,
d.      Kesehatan mental, dan
e.       Kebabasan secara psikologis tanpa mengabaikan tanggungjawab sosial.
3.      Eksplorasi dari Isi Mimpi
Anak-anak pada dasarnya hidupnya banyak diselimuti mimpi, entah itu mimpi dalam arti bunga tidur maupun mimpi dalam arti impian, harapan atau cita-cita. Anak-anak yang menyangkal mimpi atau mengatakan tidak ingat isi mimpi mereka biasanya tidak menolak untuk mengarang sebuah mimpi atau berpura-pura bahwa mereka bermimpi. Isi dari “mimpi buatan” ini dapat memberi wawasan lebih lanjut tentang kehidupan fantasinya. Eksplorasi dari mimpi anak dapat menjadi sarana yang bemanfaat untuk masuk ke dalam pikiran dan perasaan yang mungkin tidak disadari oleh anak.

4.      Menggunakan Board Games dan Aktivitas Formal Lainnya
          Barker (1990), menggunakan board games (seperti ular tangga, halma, dll) untuk menjalin kontak dengan anak-anak yang enggan untuk bicara banyak tentang dirinya sendiri dalam percakapan dan tidak dapat bermain dengan bebas dengan mainan dan materi-materi bermain lainnya yang ada. Board games atau permainan berstruktur formal lainnya, bisa lebih daripada hanya sarana untuk menjalin rapport dan membuat anak merasa nyaman. Misalnya dapat dilihat rasa percaya diri anak, kemauannya untuk bermain sesuai dengan peraturan dan tidak bermain curang. Rasa marah, sedih, putus asa, takut gagal, kemampuan menikmati permainan atau ekspresi untuk sukses dapat dilihat dari cara dan sikap anak dalam bermain.
5.      Media Seni
Menurut Gumaer (Baruth & Robinson III, 1987). Seni dalam kegiatan konseling dapat bermanfaat bagi anak dalam hal seperti :
a.       Seni melibatkan anak untuk menggunakan pikiran dan panca indranya. Seni menuntut anak untuk berpikir sebelum bertindak. Mereka dilatih untuk menggabungkan berbagai input untuk menjadi produk yang terintegrasi (misalnya lukisan, patung).
b.      Anak dapat mengekpresikan pikiran dan perasaannya yang berhubungan dengan masa lalu, saat ini, maupun memproyeksikannya ke dalam aktivitas di masa depan.
c.       Seni memungkinkan anak untuk melakukan katarsis dari emosi-emosi negatif dalam bentuk yang dapat diterima lingkungannya. Anak yang agresif terhadap orang lain seringkali karena mereka tidak mempunyai strategi alternatif untuk melepaskan ketegangan mereka.
d.      Seni merupakan produk hasil dari inisiatif diri dan dikontrol oleh anak sehingga meningkatkan perkembangan ego.
e.       Media seni, proses artistik, dan hasil jadinya memberikan perasaan telah berprestasi, kepuasan dan harga diri.
f.       Seni dapat membantu pembentukan rapport dengan anak-anak yang pemalu, ragu-ragu atau nonverbal.
g.      Melalui seni, terapis dapat menyentuh aspek-aspek bawah sadar pada anak tanpa harus berhadapan dengan mekanisme defensnya.
h.      Seni memberikan tambahan data diagnostik bagi informasi lain yang diperoleh dalam konseling.
6.      Bibliocounseling
Dalam konseling dengan pra-remaja dapat pula digunakan buku, puisi, cerita rakyat, dan sebagainya. Beberapa manfaat dari bibliocounseling adalah :
a.       Memberi informasi yang diperlukan dalam pemecahan masalah.
b.      Memberi instruksi dan petunjuk untuk pengembangan keterampilan.
c.       Mengidentifikasi dan memuaskan minat pribadi.
d.      Membantu membawa masalah yang direpresi ke alam kesadaran.
e.       Membantu pengkajian topik yang bersifat pribadi dan mengancam dengan memberi ide-ide dan cara-cara untuk mengomunikasikannya.
f.       Membantu pemahaman diri dan pemahaman tentang diri dalam hubungan dengan orang lain.
g.      Membantu proses sosialisasi dengan menstimulasi perasaan menjadi bagian dengan orang lain.
h.      Membantu timbulnya perasaan universalisasi, well-being, dan rasa aman dengan membantu anak-anak dengan memberi pemahaman bahwa orang-orang lain juga merasakan seperti mereka dan telah mengalami pengalaman serupa. Mengurangi perasaan sendiri dan terisolasi yang tipikal untuk anak-anak yang bermasalah.
i.        Membantu anak untuk rileks dengan mengurangi anxietas melalui kelegaan emosional.
j.        Membantu pengujian kembali sikap dan nilai.
k.      Memberi kesenangan dan hiburan melalui pengalaman estetik.
l.        Mengembangkan apresiasi kritis dan estetik mengenai nilai buku dan bentuk literatur lain (Gumaer ; Baruth & Robinson III, 1987).
7.      Talk Therapy
          Barker (1990) menyebutkannya sebagai the talking interview. Tidak selamanya media perantara perlu digunakan dalam konseling. Sebagian anak-anak yang usianya lebih tua, lebih suka bicara langsung kepada konselor daripada menggunakan media perantara. Kepada anak-anak usia ini dapat dilakukan percakapan biasa seperti halnya pada remaja.

C.    Media konseling anak SD
Melakukan konseling atau wawancara dengan anak merupakan suatu tantangan karena sangat membutuhkan keterampilan. Konselor harus siap untuk menghadapi berbagai macam rintangan. Anak-anak biasanya tidak asertif dan jarang yang menentang orang dewasa. Mereka biasanya akan memberi jawaban seperti yang diinginkan oleh orang dewasa. Anak-anak juga sanagat mudah untuk terdistraksi, konsentrasi dan fokus anak biasanya mudah terpecah dan mungkin tidak memahami maksud perkataan anda. Banyak hal yang harus diperhatikan oleh konselor yang berbicara dengan anak-anak, mereka harus menjaga agar tidak terpancing oleh sikap anak. Bila anak ketakutan atau tertekan biasanya dia justru akan diam. Berbicara dengan anak memang adalah suatu tantangan, tetapi bisa sangat menyenangkan, karena semua itu adalah suatu seni dalam mendidik dan membimbing.
Salah satu bantuan yang dapat dilakukan pada institusi sekolah dasar adalah melalui proses konseling yang terstruktur. Konseling untuk anakanak dalam pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan. Konseling anak jelas berbeda dengan konseling pada orang dewasa dalam pelaksanaannya. Konseling pada anak memiliki kekhasan sendiri dalam melakukannya. Menimbang dunia sekolah dasar adalah dunia bermain, sehingga media yang digunakan adalah mediamedia yang sesuai dengan metode pembelajaran pada pendidikan sekolah dasar. Konseling ini tentu saja berbeda dengan metode mendongeng, keterampilan dalam melakukan konseling beserta prosedur konseling dilakukan, seperti mendengarkan secara aktif, dan melakukan kesimpulankesimpulan yang melibatkan anak secara interaktif.
Media konseling anak SD menurut Geldard. Geldard dan Geldard (2011) berpendapat  bahwa “praktek konseling dengan anak memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan pendekatan orang dewasa”. Selanjutnya dikemukakan bahwa konseling untuk anak sekolah dasar menggunakan pendekatan berbagai metode pembelajaran pada institusisekolah dasar tersebut, seperti bercerita dengan menggunakan media gambar-menggambar dan konstruksi. Penggunaan beberapa media dalam konseling anak, antara lain:
a.       Miniatur binatang
1)      Sekumpulan binatang berbagai jenis (binatang buas, ternak, jinak, dinosaurus, binatang peliharaan, dan lain-lain)
2)      Benda-benda pendukung lainnya (misalnya pagar dan lain-lain)
Langkah-langkah penggunaan miniatur binatang dalam terapi anak, antara lain:
1)      Pilihlah binatang yang paling menggambarkan anak
2)      Pilihlah binatang yang mewakili keluarga anak atau sekolahnya
3)      Susunlah binatang itu menurut kedekatan hubungan mereka
4)      Bila ada satu binatang tidak ada (salah satu yang berpengaruh), apa yang terjadi?
5)      Susunlah binatang itu yang membuat semua yang ada di dalamnya merasa lebih bahagia serta akhiri konseling dengan sesuatu yang melegakan/membahagiakan.
b.      Sand tray
1)      Kotak pasir, pasir yang bersih dan berukuran lebih besar
2)      Perlengkapan: benda-benda apa saja (yang akan dijadikan simbol / lambang )
Langkah-Langkah menggunakan sand tray dalam terapi anak:
1)      Kumpulkan informasi penting mengenai apa yang sedang terjadi dalam diri anak (misalnya: perceraian, kematian, dan lain-lain). Observasi cara anak bermain, cara meletakkan lambang, pemilihan lambang, emosinya, raut wajahnya, dan tema selama bermain.
2)      Beri feedback dan gunakan open question untuk memancing anak bercerita lebih banyak mengenai apa yang sedang terjadi dengannya.
3)      Beri dia kesempatan untuk menata mainan (sand tray) tersebut berdasarkan apa yang membuatnya lebih bahagia dibanding dengan apa yang telah terjadi.
c.       Clay
1)      Clay atau malam, tanah liat
2)      Tatakan untuk bermain malam (agar kebersihan tetap terjaga)
3)      Benda-benda pendukung (alat untuk memotong, membentuk, mencetak)
Langkah-langkah menggunakan clay dalam terapi anak diantaranya:
1)      Minta anak berteman dengan clay (dengan meminta mereka melakukan sesuatu seperti membuat bola, memipihkan, membuat ular, melingkarkan ke jari, dan lain sebagainya). Saat anak bermain lakukan observasi dan feedback.
2)      Meminta anak memilih bagian mana dari aktifitas tadi yang disukainya sehingga bagian yang disukai tersebut dapat diperagakan lagi.
3)      Minta dia membuat sesuatu tentang dirinya (bentuk apa saja kecuali bentuk asli manusia).
4)      Coba minta mereka membuat anggota keluarga lain.
5)      Atur berdasarkan kedekatan serta minta dia merefleksi perasaannya.
6)      Minta anak berdiri, pegang clay yang melambangkan perasaannya. Katakan pada clay itu dengan suara keras (saya marah karena...), lempar clay ke bawah (konselor harus tenang supaya situasi lebih terkendali)
7)      Atur posisi anggota keluarga yang membuat semua lebih bahagia.
8)      Tanyakan perasaannya sekarang.
9)      Konfirmasikan pada anak mengenai apakah anak itu sendiri atau konselor yang akan memberitahu orang tua mengenai apa yang perlu orang tua ketahui.
10)  Setelah itu mainan dapat dirapikan.
d.      Fruit tree drawing
1)      Kertas gambar, pensil dan krayon
2)      Kursi dan meja kecil untuk menggambar
Langkah-langkah menggunakan fruit tree drawing dalam terapi anak yakni:
1)      Minta anak menggambar sebuah pohon yang menggambarkan dirinya.
2)      Dialog dengan anak mengenai gambar itu, misalnya mengenai pohon apa itu, apakah hidup sendiri/bersama, bagaimana buahnya, apa yang terjadi dengan pohon itu. Gunakan kata ganti orang pertama untuk bercerita mengenai pohon itu. Minta anak menceritakan lebih banyak tentang dirinya dan apa yang dipikirkan mengenai diri dan lingkungannya. Dalam hal ini konselor perlu mengobservasi dan feedback dimana hal tersebut merupakan hal krusial untuk menolong anak bercerita.
e.       Comic strip
1)      Kertas dengan 3 kotak untuk menggambar
2)      Alat gambar/pewarna
Langkah-langkah dalam menggunakan comic strip dalam terapi anak yakni:
1)      Untuk kotak pertama: minta anak menggambar apa yang sedang terjadi saat ini (sumber masalahnya).
2)      Untuk kotak kedua: tindakan yang membuat anak terhindar dari masalah tersebut.
3)      Untuk kotak ketiga: apa yang dapat dilakukan untuk menolongnya agar dapat terhindar dari masalah yang timbul.
4)      Penekanan: anak punya pilihan dan segala pilihan pasti ada konsekuensinya masing-masing.




 DAFTAR PUSTAKA
Barker, P (1990). Clinical interview with children and adolescent. New York: W. W. Norton & Co.
Baruth, L.G. & Robinson III, E.H. (1987). An introduction to the  profession. Englewood Cliffs, N.J: Prentice Hall.
Corey, G. (2001). Theory and practice of counseling and psychotherapy. Sixth Ed.  Belmont, CA: Wadsworth.
Geldard, Kathryn dan David Geldard. (2011). Konseling Anak – Anak : Panduan Praktis. Terjemah : Rahmat Fazar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Lesmana, J.M. (2005). Dasar-dasar konseling. Jakarta: UI.