2.1 Sejarah munculnya full day school
Full day school pada awalnya muncul pada awal tahun
1980-an di Amerika Serikat. Pada waktu itu full day school dilaksanakan untuk
jenjang sekolahTaman Kanak-kanan dan selanjutnya meluas pada jenjang yang lebih
tinggi mulai dari SD sampai dengan menengah atas.
Ketertarikan para orang
tua untuk memasukkan anaknya ke full day school dilatarbelakangi
oleh beberapa hal, yaitu karena semakin banyaknya kaum ibu yang bekerja di luar
rumah dan mereka banyak yang memiliki anak berusia di bawah 6 tahun,
meningkatnya jumlah anak-anak usia prasekolah yang ditampung di sekolah-sekolah
milik public (masyarakat umum), meningkatnya pengaruh televisi dan mobilitas
para orang tua, serta kemajuan dan kemodernan yang mulai berkembang di segala
aspek kehidupan.
Dengan memasukkan anak
mereka ke full day school, mereka berharap dapat memperbaiki
nilai akademik anak-anak mereka sebagai persiapan untuk melanjutkan ke jenjang
berikutnya dengan sukses, juga masalah-masalah tersebut di atas dapat teratasi.
Dan dalam hasil penelitian ini disebutkan bahwa anak yang menempuh pendidikan
di fullday school terbukti tampil lebih baik dalam
mengikuti setiap mata pelajaran dan menunjukkan keuntungan yang cukup
signifikan
Adapun munculnya system pendidikan full day school di Indonesia diawali
dengan menjamurnya istilah sekolah unggulan sekitar tahun 1990-an, yang banyak
dipelopori oleh sekolah-sekolah swasta termasuk sekolah-sekolah yang berlabel
Islam. Dalam pengertian yang ideal, sekolah unggul adalah sekolah yang fokus
pada kualitas proses pembelajaran, bukan pada kualitas input siswanya. Kualitas
proses pembelajaran bergantung pada system pembelajarannya. Namun faktanya
sekolah unggulan biasanya ditandai dengan biaya yang mahal, fasilitas yang lengkap
dan serba mewah, elit, lain daripada yang lain, serta tenaga-tenaga pengajar
yang “professional”, walaupun keadaan ini sebenarnya tidak menjamin kualitas
pendidikan yang dihasilkan. Trend unggulan ini
yang kemudian dikembangkan oleh para pengelola di sekolah-sekolah menjadi
bentuk yang lebih beragam dan menjadi trade mark, diantaranya adalah
fullday school.
2.2 tujuan full day school
Berikut ini,
beberapa alasan mengapa ada beberapa sekolah yang menerapkan sistem full day
school :
1.
Meningkatnya jumlah single
parent dan banyaknya aktivitas orang tua (parent carier) yang
kurang memberikan perhatian pada anaknya terutama yang berhubungan dengan
aktivitas anak-anak sepulang dari sekolah.
2.
Perubahan sosial budaya yang
terjadi di masyarakat, dari masyarakat agraris menuju ke masyarakat industri.
Perubahan tersebut jelas berpengaruh pada pola pikir masyarakat yang terjadi
saat ini.
3.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi begitu cepat, sehingga apabila tidak dicermati, maka kita yang akan
menjadi korbannya terutama dari teknologi komunikasi. Dengan banyaknya progran
televisi serta menjamurnya play stasion membuat anak-anak lebih enjoy
untuk duduk di depan televisi ataupun play stasion.
2.3 Pengertian full day school
Full day school berasal dari bahasa inggris, full artinya penuh, day artinya
hari, sedangkan school artinya sekolah. Full day school berarti
sekolah sepanjang hari. Full day school adalah
proses sekolah sepanjang hari atau proses belajar mengajar yang diberlakukan
dari pagi sampai sore hari.
Dengan dimulainya jam sekolah dari pagi sampai sore
hari, sekolah lebih leluasa mengatur jam pelajaran yang mana disesuaikan dengan
bobot pelajaran dan ditambah dengan model pendalamannya. Sedang waktunya
digunakan untuk program-program pembelajaran yang bernuansa informal, tidak
kaku, menyenangkan bagi siswa dan membutuhkan kreativitas dan inovasi dari
guru. Dalam penelitian dijelaskan bahwa waktu belajar yang efektif pada anak
itu hanya tiga sampai empat jam sehari (dalam suasana formal) dan tujuh sampai
delapan jam (dalam suasana informal).
Dalam program full day school ini siswa
memperoleh banyak keuntungan secara akademik, tentu saja lamanya waktu belajar
juga merupakan salah satu dari dimensi pengalaman anak. Ada sebuah riset
mengatakan bahwa siswa akan memporelah banyak keuntungan secara akademik dan
sosial dengan adanya full day school. Cryan dalam risetnya menemukan
bahwa dengan adanya full day school menunjukkan anak-anak akan lebih
banyak belajar daripada bermain, hal ini mengakibatkan produktifitas anak
tinggi, selain itu juga lebih dekat dengan guru, siswa juga menunjukkan sikap
yang positif karena seharian siswa berada di lingkungan sekolah dan dalam
pengawasan guru yang ketat.
Latar belakang munculnya full
day school yaitu berangkat dari sebuah kebutuhan masyarakat yang memiliki
tingkat mobilitas yang sangat tinggi. Orang tua meninggalkan rumah untuk
bekerja dari pagi dan kembali ke rumah menjelang malam hari. Para orang tua
bekerja selama 5 hari per minggu dan mereka libur (week end) pada hari
sabtu dan minggu. Sementara anak-anak berangkat sekolah pukul 06.30 pagi dan
pulang pukul 16.00 sore. Mereka sekolah 6 hari dalam seminggu yaitu
senin-sabtu.
Kondisi yang demikian ini
membuat mereka (orang tua dan anak) memiliki waktu yang sangat sedikit untuk
berkumpul. Orang tua sedikit sekali waktunya untuk memperhatikan anak-anaknya
di rumah, kasih sayang atau perhatian yang diterima anak dari orang tua akan
sangat dirasakan kurang, baik itu perhatian secara biologis atau akademis.
2.4 Karakteristik full day school
2.4.1 Sistem
pembelajaran FDS
Sebelum kita
membahas tentang sistem pembelajaran FDS, tentunya kita perlu mengetahui
tentang makna sistem pembelajaran itu sendiri. Sistem adalah seperangkat elemen
yang saling berhubungan satu sama lain. Adapun sistem pembelajaran adalah suatu
sistem karena merupakan perpaduan berbagai elemen yang berhubungan satu sama
lain. Tujuannya agar siswa belajar dan berhasil, yaitu bertambah pengetahuan
dan keterampilan serta memiliki sikap benar. Dari sistem pembelajaran inilah
akan menghasilkan sejumlah siswa dan lulusan yang telah meningkat pengetahuan
dan keterampilannya dan berubah sikapnya menjadi lebih baik.
Full Day School
(FDS) menerapkan suatu konsep dasar
“Integrated-Activity” dan “Integrated-Curriculum”. Hal inilah yang membedakan
dengan sekolah pada umumnya. Dalam FDS semua program dan kegiatan siswa di
sekolah, baik belajar, bermain, beribadah dikemas dalam sebuah sistem
pendidikan. Titik tekan pada FDS adalah siswa selalu berprestasi belajar dalam
proses pembelajaran yang berkualitas yakni diharapkan akan terjadi perubahan
positif dari setiap individu siswa sebagai hasil dari proses dan aktivitas
dalam belajar. Adapun prestasi belajar yang dimaksud terletak pada tiga ranah,
yaitu:
2.4. 1.1 Prestasi yang bersifat kognitif
Adapun prestasi yang bersifat
kognitif seperti kemampuan siswa dalam mengingat, memahami, menerapkan,
mengamati, menganalisa, membuat analisa dan lain sebagianya. Konkritnya, siswa
dapat menyebutkan dan menguraikan pelajaran minggu lalu, berarti siswa tersebut
sudah dapat dianggap memiliki prestasi yang bersifat kognitif.
2.4.1. 2 Prestasi yang bersifat afektif
Siswa dapat dianggap memiliki prestasi yang bersifat afektif, jika ia sudah
bisa bersikap untuk menghargai, serta dapat menerima dan menolak terhadap suatu
pernyataan dan permasalahan yang sedang mereka hadapi.
2.4.1. 3 Prestasi yang bersifat psikomotorik
Yang termasuk prestasi yang bersifat
psikomotorik yaitu kecakapan eksperimen verbal dan nonverbal, keterampilan
bertindak dan gerak. Misalnya seorang siswa menerima pelajaran tentang adab
sopan santun kepada orang lain, khususnya kepada orang tuanya, maka si
anak sudah dianggap mampu mengaplikasikannya dalam kehidupannya.
2.3.2 inti sistem pembelajaran FDS antara
lain:
1.
Proses pembelajaran yang berlangsung
secara aktif, kreatif, tranformatif sekaligus intensif. System persekolahan dan
pola fullday school mengindikasikan proses pembelajaran yang aktif dalam artian
mengoptimalisasikan seluruh potensi untuk mencapai tujuan pembelajaran secara
optimal baik dalam pemanfaatan sarana dan prasarana di lembaga dan mewujudkan
proses pembelajaran yang kondusif demi pengembangan potensi siswa yang
seimbang.
2.
Proses pembelajaran yang dilakukan
selama aktif sehari penuh tidak memforsir siswa pada pengkajian, penelaahan
yang terlalu menjenuhkan. Akan tetapi, yang difokuskan adalah system
relaksasinya yang santai dan lepas dari jadwal yang membosankan.
2.5 gambaran
sistim full day school
Aspek kelembagaan,
kepemimpinan dan manajemen, mengacu kepada konsep yang dikembangkan sekolah
program full day school yang mengedepankan kemuliaan akhlaq dan prestasi
akademik.Kepemimpinan sekolah dipacu dengan peningkatan kualitas kepribadian,
peningkatan kemampuan manajerial dan pengetahuan konsep-konsep pendidikan
kontemporer yang didukung dengan kegiatan short-course, orientasi program, dan
studi banding, dimana program-program ini dilaksanakan secara simultan dan
kontinu.
Kualitas sumber daya
full day school dipilih dari guru-guru bidang studi yang profesional,
berkualitas dan mempunyai integritas yang tinggi.Peningkatan kualitas tenaga
kependidikan seperti tenaga kependidikan seperti tenaga ahli perpustakaan,
laborat dan administrasi juga merupakan fokus garapan dalam peningkatan
kualitas sekolah program full day school.Program-program yang dikembangkan juga
beragam dengan melibatkan komite sekolah, pengawas, pendidikan, pengurus
musyawarah guru mata pelajaran.
Pemanfaatan sarana prasarana pembelajaran dengan menggunakan
Multimedia.Peningkatan mutu sarana dan prasarana pendidikan untuk peralatan dan
ruang laboratorium yaitu lab fisika, biologi, bahasa, lab.komputer, mate-matika, IPS dan
lainnya yang dapat menunjang pelaksanaan pembelajaran di se-kolah tersebut.
Kurikulum sekolah
program full day school juga digarap sedemikian rupa untuk memacu keunggulan
dalam aspek sains, keagamaan, bahasa berbasis informasi teknologi (IT), M uatan
lokal, keterampilan-keterampilan Vocational, dan ekstra kurikuler dan
pengembangan diri.
Kerjasama kelembagaan
dan menggerakkan dukungan masyarakat merupakan keunggulan sekolah islam yang
memang sudah menjadi khas, sebab pada dasarnya sekolah islam merupakan
community based education.
Program Full day
dilaksanakan melalui pendekatan Integrated Curriculum dan Integrated
Activity.Sedangkan pengembangan full day school diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan perkembangan anak.Pengembangan program ini dapat di lakukan melalui
pengembangan kurikulum dan pengelolaan KBM oleh guru dan pengelola yayasan/
lembaga yang bersangkutan.
Pengembangan
kurikulum harus dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan
kurikulum. Dari pengembangan kurikulum ini diharapkan adanya perbaikan
pengelolaan proses KBM yang akan menunjang efektifitas pembelajaran.
Pembelajaran yang efektif sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak akan
membantu anak mengoptimalkan bakat, minat, dan potensi positifnya.
2.6 Kelebihan dan kekurangan full day school
2.6.1 Kelebihan Penerapan Full Day
School
Dampak positif dari penerapan full
day school antara lain dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak,
menangani beragam kebutuhan belajar anak yang berbeda kemampuan, memberikan
efek (pengaruh dan manfaat) yang lebih besar kepada anak yang kurang mampu
serta mengurangi kesenjangan prestasi. Full day school juga identik
dengan pembelajaran yang memiliki jumlah pelajaran agama yang lebih banyak
daripada pelajaran umum. Orangtua berharap anaknya mendapatkan pengajaran agama
dan pembinaan akhlak yang baik. Hal ini wajar karena full day school
biasanya dimiliki dan dikelola oleh yayasan atau lembaga pendidikan Islam yang
bernuansa Islam.
2.6.2 Kelemahan Penerapan Full Day
School
Penerapan full day school
memiliki dampak negatif bagi perkembangan anak, secara sosial emosional
kesempatan dan kemampuan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan rumah dan
sekitarnya cenderung berkurang. Anak juga terlalu lelah karena berkurang waktu
istirahatnya. Anak memang diajarkan untuk bersosialisasi, bergaul dengan teman
dan gurunya di sekolah, tetapi sosialisasi di sekolah berbeda dengan lingkungan
rumahnya. Bersosialisasi dan bermain dengan keluarga dan lingkungan sekitar
(dengan teman sebaya, tetangga) juga penting bagi perkembangan sosial emosional
anak.